Akhir Ketegangan di Rengasdengklok sebelum Proklamasi Republik Indonesia

Penulis kumparan
·waktu baca 2 menit
Tulisan dari Berita Terkini tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Kita baru saja memperingati ulang tahun Indonesia ke-77 pada tanggal 17 Agustus lalu. Perayaan tersebut menandakan bahwa tepat 77 tahun yang lalu Indonesia memproklamasikan kemerdekaannya. Kemerdekaan Indonesia ini menandakan bahwa negara ini bebas dari penjajah dan memiliki kedaulatan untuk mengatur negaranya sendiri. Namun tahukah Anda bahwa sebelum Indonesia mencapai Hari Proklamasi pada tanggal 17 Agust 1945, ada beberapa hal yang sudah dilalui Soekarno sebagai proklamator?
Salah satu hal tersebut adalah peristiwa Rengasdengklok. Pada saat itu, terdapat ketegangan dalam peristiwa tersebut. Ketegangan di Rengasdengklok dapat diakhiri setelah tercapainya kesepakatan antara golongan tua dan muda. Simak ulasan lebih lanjut di bawah ini.
Akhir Ketegangan di Rengasdengklok sebelum Proklamasi Republik Indonesia
Berdasarkan buku Rengasdengklok oleh Her Suganda (2009), kota kecil Rengasdengklok selalu menjadi bahan pembicaraan menarik, terutama pada setiap menjelang Hari Ulang Tahun Kemerdekaan Republik Indonesia. Tepat sehari sebelum proklamasi, para pemuda dan anggota PETA membawa Bung Karno dan Bung Hatta disertai Ibu Fatmawati dan Guntur Soekarnoputra yang masih bayi ke kota kecil itu.
Para pemuda tersebut membawa Bung Karno dan Bung Hatta ke Rengasdengklok dengan tujuan agar mereka segera memproklamirkan kemerdekaan Indonesia. Pada saat itu, Jepang yang sedang menjajah Indonesia baru saja kalah Perang Dunia II sehingga akhirnya membuat Indonesia mengalami kekosongan kekuasaan atau vacuum of power.
Oleh sebab itu, para pemuda yakin bahwa saat seperti ini merupakan waktu yang ideal bagi Indonesia untuk mendeklarasikan kemerdekaannya dan mendesak Bung Karno dan Bung Hatta untuk segera melakukannya saat dibawa ke Rengasdengklok.
Namun, rencana golongan muda ini tidak berjalan dengan lancar lantaran golongan tua seperti Bung Karno berpendapat bahwa harus didiskusikan dahulu dengan para wakil PPKI. Golongan muda pun tidak setuju karena mereka beranggapan PPKI adalah buatan Jepang. Namun pada akhirnya, ketegangan di Rengasdengklok bisa berakhir setelah golongan tua setuju untuk memproklamasikan kemerdekaan Indonesia pada tanggal 17 Agustus 1945.
Demikian ulasan mengenai ketegangan di Rengasdengklok antara golongan muda dan golongan tua. Apabila ketegangan dalam peristiwa Rengasdengklok tersebut tidak selesai dengan cara demikian, mungkin sejarah Indonesia akan berbeda. (LOV)
