Akibat Peramalan yang Terlalu Rendah dalam Ilmu Ekonomi

Penulis kumparan
·waktu baca 2 menit
Tulisan dari Berita Terkini tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Dalam pelajaran ekonomi ada materi yang membahas mengenai masa depan penjualan suatu perusahaan atau biasa dikenal dengan peramalan. Ada banyak cara peramalan dan metodenya yang dapat dilakukan secara kualitatif ataupun kuantitatif. Untuk peramalan menggunakan metode kualitatif dilakukan berdasarkan pendapat (judgement) dari yang melakukan peramalan sementara itu untuk metode peramalan kuantitatif menggunakan metode statistika. Lalu bagaimana jika peramalan yang terlalu rendah berakibat pada apa saja untuk perusahaan? Untuk mengetahui jawabannya Anda bisa membaca ulasan berikut ini.
Akibat Peramalan yang Terlalu Rendah dalam Ilmu Ekonomi
Sebelum membahas mengenai akibat dari peramalan yang terlalu rendah, mari kita lihat terlebih dahulu mengenai pengertian peramalan dalam ilmu ekonomi. Dikutip dari buku Manajemen Operasi karya Eddy Herjanto, (Grasindo) dijelaskan bahwa prakiraan didefinisikan sebagai proses peramalan suatu variabel (kejadian) di masa datang dengan berdasarkan data variabel itu pada masa sebelumnya. Data masa lampau itu secara sistematik digabungkan dengan menggunakan suatu metode tertentu dan diolah untuk memperoleh prakiraan keadaan pada masa datang. Sementara, prediksi adalah proses peramalan suatu variabel di masa datang dengan lebih mendasarkan pada pertimbangan intuisi daripada data masa lampau. Meskipun lebih menekankan pada intuisi, dalam prediksi juga sering digunakan data kuantitatif sebagai pelengkap informasi dalam melakukan peramalan. Dalam prediksi, peramalan yang baik sangat tergantung pada kemampuan, pengalaman dan kepekaan dari si pembuat ramalan.
Berdasarkan horizon waktu, peramalan dapat dikelompokkan dalam tiga bagian, yaitu peramalan jangka panjang. peramalan jangka menengah, dan peramalan jangka pendek.
Peramalan jangka panjang, yaitu yang mencakup waktu lebih besar dari 18 bulan. Misalnya, peramalan yang diperlukan dalam kaitannya dengan penanaman modal, perencanaan fasilitas, dan perencanaan untuk kegiatan litbang.
Peramalan jangka menengah, mencakup waktu antara 3 sampai 18 bulan. Misalnya, peramalan untuk perencanaan penjualan, perencanaan produksi, dan perencanaan tenaga kerja tidak tetap.
Peramalan jangka pendek, yaitu untuk jangka waktu kurang dari 3 bulan. Misalnya, peramalan dalam hubungannya dengan perencanaan pembelian material, penjadwalan kerja, dan penugasan karyawan.
Setelah mengetahui pengertian dan juga jenis dari peramalan maka kita akan membahas akibat dari peramalan yang terlalu rendah. Jika peramalan yang terlalu rendah berakibat pada kekurangan persediaan, sehingga permintaan konsumen tidak dapat dipenuhi segera, akibatnya adalah perusahaan dimungkinkan kehilangan pelanggan dan kehilangan keuntungan penjualan.
Demikian pembahasan terkait dengan peramalan yang terlalu rendah berakibat pada kurangnya persediaan. (WWN)
