Akibat yang Disebabkan oleh Kemiringan Sumbu Bumi dan Penyebabnya

Penulis kumparan
·waktu baca 2 menit
Tulisan dari Berita Terkini tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Bumi merupakan satu-satunya planet di tata surya yang bisa ditinggali oleh makhluk hidup. Menariknya, ternyata sumbu Bumi memiliki kemiringan yang cukup tinggi, lho. Sayangnya, tak banyak orang yang bisa jelaskan akibat yang disebabkan oleh kemiringan sumbu Bumi.
Padahal sebenarnya, kemiringan sumbu Bumi ini memberikan dampak yang begitu besar bagi semua makhluk hidup. Oleh karena itu, sangat penting untuk mengetahui pengetahuan seputar kemiringan sumbu Bumi dan dampaknya bagi makhluk hidup.
Akibat yang Disebabkan oleh Kemiringan Sumbu Bumi
Jadi, sebenarnya posisi Bumi tidak lurus dan bahkan memiliki kemiringan hingga 23,5 derajat. Akibatnya, matahari pun tidak bisa menyinari semua tempat di Bumi dengan intensitas yang sama pada waktu yang bersamaan.
Mengutip dari buku Dongkrak Nilai Rapor IPA SD Kelas IV, V, dan VI, Artani Melly Octaviani (2012:248), pancaran sinar matahari yang tidak merata di setiap daerah tentu memberikan dampak yang besar bagi makhluk hidup. Beberapa di antaranya adalah sebagai berikut.
1. Perbedaan Lama Siang dan Malam
Bumi di belahan selatan dan utara memiliki waktu siang dan malam yang berbeda. Hal ini juga merupakan akibat dari kemiringan sumbu Bumi dan revolusi. Jadi, ketika berevolusi, Bumi bisa berada di apotema atau hipotema.
Adapun apotema merupakan titik terjauh bumi dengan matahari. Sedangkan hipotema merupakan titik terdekat bumi dengan matahari.
2. Gerak Semu Tahunan Matahari
Secara umum, gerak semu tahunan matahari merupakan gerak berubahnya posisi matahari sepanjang tahun. Jadi, tak hanya berevolusi, Bumi juga mengalami rotasi karena sumbu yang tidak sejajar dengan sumbu revolusi.
Sumbu bumi yang memiliki kemiringan 23,5 derajat membuat matahari tidak bisa selalu terlihat di atas khatulistiwa. Hal ini karena matahari akan terlihat di bagian utara atau selatan Bumi. Artinya, selama setengah tahun, matahari lebih banyak menerangi bumi bagian utara. Sedangkan setengah lagi, lebih banyak menerangi bumi bagian selatan.
3. Perubahan Musim
Adanya gerak semu matahari juga mengakibatkan terjadinya perbedaan intensitas penyinaran matahari di berbagai wilayah bumi. Tentu saja hal ini berdampak pada adanya perbedaan musim.
Bumi di bagian utara dan selatan akan mengalami empat musim, yakni musim semi, panas, gugur, dan dingin. Sedangkan bagian Bumi yang ada di garis khatulistiwa, seperti Indonesia, hanya mengalami dua musim, yakni musim hujan dan kemarau.
Baca Juga: Peran Tanah bagi Kehidupan di Bumi
Dengan adanya informasi di atas, semoga dapat membantu seseorang dalam jelaskan akibat yang disebabkan oleh kemiringan sumbu Bumi. (Anne)
