Alasan Ilmu Sejarah Bersifat Diakronis yang Perlu Dipahami

Penulis kumparan
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Berita Terkini tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Sejarah merupakan salah satu cabang ilmu sosial. Sebagai ilmu pengetahuan, sejarah memiliki berbagai sifat. Salah satunya adalah diakronis. Oleh sebab itu, muncul pertanyaan yang berbunyi “Jelaskan mengapa ilmu sejarah bersifat diakronis!.”
Arti sejarah itu sendiri perlu diketahui agar bisa menjawab soal tersebut. Selain itu, arti diakronis juga harus dimengerti agar lebih paham kenapa sifat tersebut dimiliki oleh ilmu ini.
Alasan Ilmu Sejarah Bersifat Diakronis
Mengutip buku Sejarah untuk SMA/MA Kelas X, J. Sumardianta, dkk (2007: 3), dalam bahasa Yunani, sejarah diartikan sebagai pengkajian dan pembelajaran yang menyangkut manusia secara kronologis (berdasarkan urutan waktu).
Di sisi lain, diakronis ialah cara berpikir sesorang secara kronologis atau runtut mengenai suatu peristiwa dalam periode tertentu. Sifat diakronis sendiri memanjang dalam waktu, namun memiliki batas pada ruang.
Lantas, mengapa ilmu sejarah bersifat diakronis? Jadi, bila dilihat dari dua arti di atas, sejarah dan diakronis saling berkaitan. Hal ini disebabkan sejarah mengkaji suatu peristiwa secara kronologis sesuai dengan arti diakronis itu sendiri.
Selain itu, sejarah juga bisa dikaji memanjang dalam waktu dan terbatas pada ruang. Hal ini pun sesuai dengan arti diakronis di atas.
Dalam cara berpikir ini, peristiwa sejarah akan disusun dari awal hingga akhir sesuai urutan waktu. Jadi, susunan tersebut runtut dan tidak lompat-lompat untuk meminimalisir kesalahpahaman.
Contoh Ilmu Sejarah Bersifat Diakronis
Contoh penulisan ilmu sejarah bersifat diakronis dapat dilihat dari teks tentang peristiwa Pertempuran Surabaya. Berikut isi teks tersebut menurut buku Explore Sejarah Indonesia untuk SMA/MA Kelas X, Dr. Abdurakhman dan Arif Pradono, M.I.Kom (2019: 13).
Peristiwa Pertempuran Surabaya pada tanggal 10 November 1945 adalah rangkaian peristiwa yang dimulai dari tanggal 19 September sampai 10 November 1945.
Peristiwanya berawal dari perobekan bendera Belanda di Surabaya pada tanggal 19 September yang berdampak pada pecahnya pertempuran antara tentara Sekutu dan pasukan Indonesia pada tanggal 27 Oktober 1945.
Kondisi ini mereda setelah adanya gencatan senjata pada tanggal 29 Oktober 1945. Namun, bentrokan kecil terus berlangsung. Puncaknya adalah tewasnya Jenderal Mallaby pada tanggal 30 Oktober 1945.
Tewasnya Mallaby menjadi penyebab munculnya ultimatum dari Mayor Jenderal Eric Carden Robery Mansergh agar pemuda Surabaya menyerah. Akan tetapi, ultimatum tersebut tidak dihiraukan oleh para pemuda dan pejuang. Akhirnya, pecahlah pertempuran besar-besaran pada tanggal 10 November 1945 di Surabaya.
Baca juga: Perbedaan Kronologi, Kronik, dan Sinkornik sebagai Konsep Berpikir Sejarah
Alasan ilmu sejarah bersifat diakronis dan contohnya ini bisa menjadi referensi belajar di rumah bagi siapapun yang membutuhkan. Dengan demikian, pengetahuan akan ilmu sejarah pun bisa bertambah. (LOV)
