Apa Itu Fenomena Aphelion dan Dampaknya terhadap Cuaca di Indonesia

Penulis kumparan
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Berita Terkini tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Fenomena aphelion 2025 banyak diperbincangkan masyarakat Indonesia. Hal ini membuat banyak penasaran tentang apa itu fenomena aphelion?
Selain itu, banyak juga yang penasaran dengan dampaknya terhadap cuaca di Indonesia. Pasalnya, fenomena tersebut terjadi setiap tahunnya dan sangat penting terhadap dinamika orbit Bumi.
Apa Itu Fenomena Aphelion Matahari?
Istilah aphelion berasal dari bahasa Yunani, “apo” yang artinya jauh dan “helios” berarti matahari. Sehingga, aphelion diartikan sebagai posisi Matahari berada di jalak paling jauh dengan Bumi.
Hal ini dikarenakan revolusi atau perputaran Bumi dalam mengitari Matahari tidaklah bulat sempurna, namun memiliki lintasan elips atau seperti irisan kerucut.
Artinya, Bumi bisa berada di titik terdekat dengan Matahari yang dikenal dengan perihelion dan titik terjauh bernama aphelion. Selain itu, fenomena tersebut terjadi di setiap tahunnya, sebagai contoh:
Tahun 2025
Perihelion: 4 Januari 2025 pukul 20.28 WIB dengan jarak 147.103.686 km
Aphelion: 4 Juli 2025 pukul 02.54 WIB dengan jarak 152.087.738 km
Tahun 2026
Perihelion: 4 Januari 2026 pukul 00.15 WIB dengan jarak 147.099.894 km
Aphelion: 7 Juli 2026 pukul 00.30 WIB dengan jarak 152.087.775 km
Tahun 2027
Perihelion: 3 Januari 2027 pukul 09.38 WIB dengan jarak 147.104.593 km
Aphelion: 5 Juli 2027 pukul 12.05 WIB dengan jarak 152.100.481 km
Dampak Aphelion terhadap Cuaca di Indonesia
Dikutip dari laman bmkg.go.id, fenomena aphelion adalah posisi Matahari berada di titik terjauh dengan bumi. Hasilnya adalah cuaca di Indonesia akan lebih dingin dari biasanya.
Akan tetapi, kondisi tersebut tidak terlalu berpengaruh banyak. Seperti fenomena udara dingin umumnya terjadi di bulan-bulan puncak musim kemarau di Juli-September yang biasa aphelion terjadi.
Pasalnya, pergerakan angin dari arah timur-tenggara yang berasal dari Benua Australia sedang mengalami musim dingin. Adanya pola tekanan udara yang relatif tinggi di Australia menyebabkan pergerakan massa udara dari Australia menuju Indonesia atau Monsun Dingin Australia.
Udara dingin tersebut bertiup menuju wilayah Indonesia melewati perairan Samudera Indonesia yang memiliki suhu permukaan laut juga relatif lebih dingin, sehingga mengakibatkan suhu di beberapa wilayah di Indonesia terutama bagian selatan khatulistiwa (Pulau Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara) terasa juga lebih dingin.
Selain itu, berkurangnya awan dan hujan di Pulau Jawa hingga Nusa Tenggara turut berpengaruh ke suhu yang dingin di malam hari. Sebab, tidak adanya uap air dan air menyebabkan energi radiasi yang dilepaskan oleh bumi pada malam hari tidak tersimpan di atmosfer.
Langit yang cenderung bersih awannya (clear sky) akan menyebabkan panas radiasi balik gelombang panjang ini langsung dilepas ke atmosfer luar sehingga membuat udara dekat permukaan terasa lebih dingin terutama pada malam hingga pagi hari.
Baca Juga: Nama Lintasan yang Dilalui Bumi saat Berevolusi
Sekarang sudah tahu apa itu fenomena aphelion dan dampaknya terhadap cuaca di Indonesia bukan? Dengan begitu tidak perlu takut atau langsung menerima berita yang tidak diketahui kebenarannya.(MZM)
