Arti Interupsi dalam Debat dan Ketentuannya

Penulis kumparan
·waktu baca 2 menit
Tulisan dari Berita Terkini tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Debat yang diselenggarakan secara resmi, baik di sekolah, pemilihan suatu jabatan maupun lomba, memiliki peraturan yang terperinci dan ketat untuk menghadari kericuhan. Ketika salah satu pihak sedang berbicara, seringkali terjadi pihak lain menyela atau memotong pembicaraan. Jika ini tidak diatur, maka acara debat tersebut akan kacau. Karena itu, arti interupsi dalam debat itu bukan sekedar menyela, tapi juga harus mengikuti ketentuan cara mengajukan interupsi yang baik.
Arti Interupsi dalam Debat
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) daring di https://kbbi.kemdikbud.go.id/, interupsi adalah penyelaan atau pemotongan (pembicaraan, pidato dan sebagainya).
Dalam debat, interupsi tidak bisa diajukan bergitu saja, melainkan harus mengikuti ketentuan penyelenggara. Tiap penyelenggara membuat ketentuan yang berbeda sesuai dengan tema debat tersebut. Sebelum acara debat dilaksanakan, panitia akan membagikan petunjuk teknis pelaksanaan debat, termasuk kapan peserta boleh melakukan interupsi.
Meski demikian, kekacauan tetap saja berpotensi terjadi walaupun peserta sudah terbiasa melakukan debat. Contohnya, interupsi berulang-ulang yang dilakukan Trump terhadap Biden dalam debat calon presiden Amerika Serikat.
Contoh ketentuan interupsi adalah seperti yang diunggah di laman www.ditmawa.ugm.ac.id tentang mekanisme lomba debat bertema Sistem Parlemen Asia yang salah satunya berbunyi:
Interupsi diperbolehkan pada menit pertama hingga menit keempat untuk pembicara pertama dan menit keenam untuk pembicara kedua dan ketiga.
Meski arti interupsi dalam debat itu sama, tapi pelaksanaannya berbeda tergantung ketentuan dari penyelenggara atau panitia. Dari perbedaan tersebut dapat ditarik beberapa kesimpulan agar peserta bisa mengajukan interupsi dengan baik.
Ketentuan Interupsi dalam Debat
Pelajari dengan teliti mekanisme debat yang telah dibagikan penyelenggara sebelumnya. Ajukan pertanyaan jika ketentuan tersebut sulit dipahami atau membingungkan.
Debat seringkali memancing emosi sehingga lupa waktu. Perhatikan kode dari time keeper jika interupsi yang dilakukan terlalu lama atau bahkan belum saatnya diperbolehkan mengajukan interupsi.
Interupsi dilakukan untuk menyampaikan sesuatu yang penting. Hindari mengatakan sesuatu yang tidak penting, contohnya, “Ah. Anda bisa saja.”
Gunakan bahasa dan gerakan yang sopan. Tak perlu menggunakan jari untuk menuding-nuding. Interupsi yang tidak sopan akan memancing kericuhan.
Jika interupsi tidak diterima pihak lawan, jangan marah. Biasanya ada kesempatan untuk melakukan sanggahan yang bisa dimanfaatkan sebaik-baiknya.
Debat memiliki arti yang berbeda dengan bertengkar karena adanya ketentuan yang ketat agar tidak terjadi kekacauan. Dengan demikian, arti interupsi dalam debat tidak sekedar menyela tapi karena ada pembicaraan pihak lawan yang ingin disanggah. Agar debat tetap berjalan dengan baik, maka interupsi harus mengikuti ketentuan mengajukan interupsi yang baik. (LUS)
