Konten dari Pengguna

Arti Peribahasa Bagai Pungguk Merindukan Bulan

Berita Terkini

Berita Terkini

Penulis kumparan

·waktu baca 2 menit

clock
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Berita Terkini tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi Bagai Pungguk Merindukan Bulan. (Foto: vuongbibiptp by https://pixabay.com)
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Bagai Pungguk Merindukan Bulan. (Foto: vuongbibiptp by https://pixabay.com)

Peribahasa adalah suatu kiasan bahasa Indonesia, berupa kelompok kata yang bersifat padat. Biasanya peribahasa berisi norma, nasehat, perumahan, prinsip, dan aturan tingkah laku manusia. Seringkali berbagai peribahasa ditemukan dalam karya sastra untuk memperindah makna yang ingin disampaikan oleh penulis. Salah satu peribahasa yang mungkin tidak asing lagi di telinga kita adalah bagai Pungguk merindukan bulan.

Apa arti dari peribahasa tersebut? Nah, artikel kali ini akan membahas arti dari peribahasa yang populer tersebut. Harapannya kamu memahami arti dan dapat menggunakan contoh peribahasa tersebut dalam penulisan karya sastra.

Baca juga: Mengenal Arti Pepatah Latin Fortis Fortuna Adiuvat

Penjelasan Arti Peribahasa yang Populer

Ilustrasi Bagai Pungguk Merindukan Bulan. (Foto: AdinaVoicu by https://pixabay.com)

Sebenarnya peribahasa tersebut dikutip dari sebuah cerita yang menceritakan seorang Pungguk dan putri Bulan. Berikut adalah cerita singkat yang menjadi dasar peribahasa tersebut dibuat dikutip dari buku Selamat Bergumul: 33 Renungan tentang Iman yang ditulis oleh Andar Ismail (2006: 78):

Pungguk dan putri Bulan seperti tersengat ketika mata mereka saling menatap. Pungguk jatuh cinta, tetapi tidak mungkin masuk ke istana untuk menjumpai sosok yang dicintai. Setiap hari, putri Bulan dan pungguk pun saling bertemu diam-diam. Cinta mereka lembut saling bersambut.

Pada suatu malam putri Bulan berkata dengan lirih, “Pungguk, aku begitu mencintai kamu, tetapi tidak bisa menikah sebab aku sudah dijodohkan pada orang lain”. Pungguk patah hati dan menjawab “Apa pun yang terjadi, aku akan berada di bukit ini setiap bulan purnama untuk mendambakan kamu”.

Namun, ternyata cinta mereka diketahui oleh pengawal istana. Pungguk dibunuh. Tubuhnya tetapi malah jatuh ke bumi dan berubah menjadi burung yang hanya terbit di malam hari. Tiap bulan purnama burung Pungguk bertengger di puncak pohon dan memandangi bulan. Dari tersebutlah, lahir peribahasa Bagai Pungguk merindukan bulan yang berarti orang yang begitu mendalam perasaan rindunya.

Namun, tidak hanya Pungguk yang rindu dengan Putri Bulan, tetapi juga sebaliknya. Merindu atau mendamba adalah sebuah perasaan dasar yang timbul pada setiap orang. Demikian penjelasan mengenai arti peribahasa bagai Pungguk merindukan bulan. Semoga informasi di atas bermanfaat! (CHL)