Arti Salam Agama Buddha Namo Buddhaya dan Maknanya

Penulis kumparan
·waktu baca 2 menit
Tulisan dari Berita Terkini tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Sebagai umat beragama, kita pasti mengenal beberapa salam yang hanya ada pada agama tertentu saja. Salah satunya adalah namo buddhaya yang merupakan salam agama Buddha. Meski begitu, kalimat ini tidak terdengar asing bagi masyarakat Indonesia karena dianggap menjadi salam Buddhis.
Biasanya sesama umat Buddha atau bahkan umat beragama lain akan bertukar sapa dengan mengucapkan namo buddhaya saat bertemu.
Dalam agama Buddha, kalimat namo buddhaya diucapkan sebelum mengawali kegiatan, seperti sebelum puja bakti, diskusi Dhamma, ceramah, rapat, hingga kegiatan keagamaan lainnya. Sayangnya, terkadang penggunaan kalimat namo buddhaya disalahartikan sebagai salam untuk menyapa orang lain.
Padahal sebenarnya kalimat tersebut tidak digunakan untuk menyapa orang lain.
Arti Salam Agama Buddha Namo Buddhaya dan Maknanya
Menurut buku 50 Masalah Agama Bagi Muslim Bali karya Bagenda Ali (2021:29), kalimat salam agama Buddha ini merupakan kalimat pujian atau penghormatan kepada Buddha. Kata namo memiliki arti terpujilah dan buddhaya berarti kepada Buddha. Dengan kata lain, kalimat namo buddhaya berarti terpujilah Buddha.
Kalimat namo buddhaya ditemukan di literature Pali, seperti di Saddanitippakarana yang menjadi salah satu kitab tata bahasa Pali. Dalam kitab tersebut, ditemukan syair dengan bunyi sebagai berikut.
''Namo buddhāya buddhassa (Terpujilah Sang Buddha)
Namo dhammāya dhammino (Terpujilah Dhamma)
Namo saṅghāya saṅghassa (Terpujilah Saṅgha)
Namokārena sotthi me’’ti ca (Dengan pujian ini, keselamatan atau kesejahteraan datang padaku). ''
Dengan mengucapkan namo buddhaya, maka kita sedang melakukan penghormatan kepada Buddha secara verbal atau lisan. Pujian ini tentu saja ditujukan kepada Sang Buddha. Meski penggunaan kalimat namo buddhaya sebelum mengawali kegiatan ibadah bukanlah hal yang salah. Akan tetapi, perlu diingat bahwa kalimat ini bukan kalimat salam untuk menyapa hadirin, tetapi pujian kepada Sang Buddha.
Maka dari itu, mulai sekarang jangan menggunakan kalimat nabo buddhaya sebagai salam ketika bertemu dengan orang lain. Hal ini karena terdapat makna yang sakral dalam kalimat tersebut dan wajib kita hormati sebagai bentuk toleransi antar umat beragama. (Anne)
