Konten dari Pengguna

Arti Surat Al Maun dan Bacaannya yang Perlu Diketahui Muslim

Berita Terkini

Berita Terkini

Penulis kumparan

·waktu baca 3 menit

clock
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Berita Terkini tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Laki-laki yag sedang membaca dan memahami Al-Qur'an. https://www.freepik.com/
zoom-in-whitePerbesar
Laki-laki yag sedang membaca dan memahami Al-Qur'an. https://www.freepik.com/

Mempelajari Al-Quran memiliki banyak keutamaan dan sebagai pedoman hidup umat Islam, sehingga adalah wajib hukumnya bagi umat muslim untuk mempelajarinya. Dikutip dari buku yang berjudul Rahasia Nama dan Sifat Al-Qur’an Volume 1 karya Ali Zainal Abidin Al Habsyi (2020: 1), dituliskan Al-Qur’an selain sebagai kitab pedoman hidup umat manusia, juga rujukan pertama dan utama umat Islam. Al-Quran adalah mukjizat kenabian pamungkas dan bukti abadi kebenaran Islam dan ajaran yang universal”. Al-Qur’an terdiri dari 6.666 ayat, 144 surat dan 30 juz memiliki berbagai makna dalam kehidupan. Salah satunya adalah surat Al-Ma’un.

Surat Al-Ma’un terdiri dari 7 ayat.

أَرَءَيْتَ الَّذِى يُكَذِّبُ بِالدِّيْنِ١

فَذٰلِكَ الَّذِى يَدُعُّ الْيَتِيْمَ٢

وَلَا يَحُضُّ عَلَىٰ طَعَامِ الْمِسْكِيْنِ٣

فَوَيْلٌ لِّلْمُصَلِّيْنَ٤

الَّذِيْنَ هُمْ عَنْ صَلَاتِهِمْ سَاهُوْنَ٥

الَّذِيْنَ هُمْ يُرَآءُوْنَ٦

وَيَمْنَعُوْنَ الْمَاعُوْنَ٧

Latin:

Aro-aital ladzii yukaddzibu biddiin. Fadzaalikal ladzii yadu”ulyatiim. Walaa yahuddhu ‘alaa tho’aamil miskiin. Fawailul lil musholliin. Alladziina hum ‘an sholaatihim saahuun. Alladziina hum yuroo-uun. Wayamna’uunal ma’uun.

Artinya:

1. Tahukah kamu (orang) yang mendustakan agama?

2. Maka itulah orang yang menghardik anak yatim,

3. dan tidak mendorong memberi makan orang miskin.

4. Maka celakalah orang yang shalat,

5. (yaitu) orang-orang yang lalai terhadap shalatnya,

6. yang berbuat riya,

7. dan enggan (memberikan) bantuan.

Baccan yang ada dalam Al-Qur'an. https://www.freepik.com/

Arti Surat Al Maun dan Bacaannya yang Perlu Diketahui Muslim

أَرَأَيْتَ الَّذِي يُكَذِّبُ بِالدِّينِ

“Tahukah kamu (orang) yang mendustakan hari pembalasan?” (QS. Al Maa’uun: 1-7).

Mengenai kata “الدين” (ad diin) dalam ayat di atas, ada empat pendapat: (1) hukum Allah, (2) hari perhitungan, (3) hari pembalasan dan (4) Al Qur’an. Demikian kata Ibnul Jauzi dalam kitab tafsirnya, Zaadul Masiir (9: 244). Jadi ayat tersebut bisa bermakna orang yang mendustakan hukum Allah, hari perhitungan, hari pembalasan atau mendustakan Al Qur’an.

Syaikh Muhammad bin Sholih Al ‘Utsaimin menafsirkan bahwa yang dimaksud dengan ad diin adalah hari pembalasan, sehingga jika diartikan: “Tahukah kamu orang yang mendustakan hari pembalasan?”

فَذَلِكَ الَّذِي يَدُعُّ الْيَتِيمَ ٢ وَلَا يَحُضُّ عَلَى طَعَامِ الْمِسْكِينِ٣

“Itulah orang yang menghardik anak yatim, dan tidak menganjurkan memberi makan orang miskin.”

Dalam dua ayat di atas digabungkan dua hal:

  1. Tidak punya kasih sayang pada anak yatim. Padahal mereka itu orang yang perlu dikasihi. Perlu diketahui, yatim adalah sesorang yang ditinggal mati orang tuanya sebelum ia baligh (dewasa). Dialah yang patut dikasihi karena mereka tidak lagi memiliki orang tua yang mengasihinya. Akan tetapi yang disebutkan dalam ayat ini ketika yatim tersebut datang, mereka menolaknya dengan sekeras-kerasnya atau meremehkannya.

  2. Tidak mendorong untuk mengasihi yang lain, di antaranya fakir miskin. Padahal fakir dan miskin sangat butuh pada makanan. Orang yang disebutkan dalam ayat ini tidak mendorong untuk memberikan makan pada orang miskin karena hatinya memang telah keras. Jadi intinya, orang yang disebutkan dalam dua ayat di atas, hatinya benar-benar keras.

وَيْلٌ لِلْمُصَلِّينَ , الَّذِينَ هُمْ عَنْ صَلَاتِهِمْ سَاهُونَ

“Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang shalat (yaitu) orang-orang yang lalai dari shalatnya”. Kata Ibnu ‘Abbas, yang dimaksud di sini adalah orang-orang munafik yaitu yang mereka shalat di kala ada banyak orang, namun enggan shalat ketika sendirian. (Shahih Tafsir Ibnu Katsir, 4: 691)

Dalam ayat disebutkan “لِلْمُصَلِّينَ”, bagi orang-orang yang shalat, yaitu mereka yang biasa shalat dan konsekuen dengannya, lalu mereka lalai. Yang dimaksud lalai dari shalat bisa mencakup beberapa pengertian:

  1. Lalai dari mengerjakan shalat.

  2. Lalai dari pengerjaannya dari waktu yang ditetapkan oleh syari’at, malah mengerjakannya di luar waktu yang ditetapkan.

  3. Bisa juga makna lalai dari shalat adalah mengerjakannya selalu di akhir waktu selamanya atau umumnya.

  4. Ada pula yang memaknakan lalai dari shalat adalah tidak memenuhi rukun dan syarat shalat sebagaimana yang diperintahkan.

  5. Lalai dari shalat bisa bermakna tidak khusyu’ dan tidak merenungkan yang dibaca dalam shalat

Lalai dari shalat mencakup semua pengertian di atas. Setiap orang yang memiliki sifat demikian, maka dialah yang disebut lalai dari shalat. Jika ia memiliki seluruh sifat tersebut, maka semakin sempurnalah kecelakaan untuknya dan semakin sempurna nifak ‘amali padanya

الَّذِينَ هُمْ يُرَاءُونَ

“Orang-orang yang berbuat riya’ ”. Riya’ adalah ingin amalannya nampak di hadapan orang lain, ibadahnya tidak ikhlas karena Allah, istilahnya ingin ‘cari muka’.

Berkaitan dengan ayat di atas, Ibnu Katsir mengatakan, “Barangsiapa yang –awalnya- melakukan amalan lillah (ikhlas karena Allah), kemudian amalan tersebut nampak di hadapan manusia lalu ia pun takjub, maka seperti itu tidak dianggap riya’.”

Anak laki-laki yang sedang membaca Al-Qur'an. https://www.freepik.com/

Di antara tanda orang yang riya’ dalam shalatnya adalah:

1. Seringnya mengakhirkan waktu shalat tanpa ada udzur

2. Melaksanakan ibadah dengan malas-malasan.

وَيَمْنَعُونَ الْمَاعُونَ

“dan enggan (menolong dengan) barang berguna”.

Jika lihat dari terjemahan Al Qur’an, yamna’unal maa’uun diterjemahkan dengan orang yang enggan menolong dengan barang berguna. Namun memang, para ulama tafsir berbeda pendapat dalam mendefinisikan yamna’unal maa’uun. Sebagian berkata bahwa al maa’uun bermakna orang yang enggan bayar zakat. Yang lain lagi mengatakan bahwa maksud al maa’uun adalah orang yang enggan taat. Yang lainnya lagi berkata sebagaimana yang kami maksudkan yaitu “يمنعون العارية”, mereka yang enggan meminjamkan barang kepada orang lain (di saat saudaranya butuh). Tafsiran terakhir ini sebagaimana yang dikatakan oleh ‘Ali bin Abi Tholib, yaitu jika ada yang ingin meminjam timba, periuk atau kampaknya, maka ia enggan meminjamkannya.

Dari arti surat Al-Ma’un di atas, menjelaskan dilarang seseorang menjadi orang uang yamna’unal maa’uun adalah enggan menolong orang lain dengan harta atau sesuatu yang bermanfaat. Sehingga membagikan harta akan menjadikan amalahn bagi dirinya dan kebermanfaatan baik di dunia maupun di akhir.

(MZM)