Asal Usul dan Filosofi Aksara Hanacaraka yang Digunakan Masyarakat Jawa

Penulis kumparan
·waktu baca 2 menit
Tulisan dari Berita Terkini tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Hanacaraka atau yang dikenal dengan aksara Jawa merupakan huruf Jawa yang dahulu digunakan dalam kehidupan sehari-hari oleh masyarakat Jawa sejak era kerajaan. Namun saat ini, penggunaan aksara Jawa atau aksara hanacaraka ini hanya sekadar diajarkan di sekolah melalui pelajaran muatan lokal saja. Akibatnya, banyak orang yang tidak mengetahui asal usul dan filosofi aksara Jawa tersebut.
Asal Usul dan Filosofi Aksara Hanacaraka yang Digunakan Masyarakat Jawa
Menurut buku Baboning Pepak Basa Jawa karya Budi Anwari (2020), dijelaskan bahwa asal usul aksara hanacaraka dibuat oleh seseorang bernama Ajisaka, penguasa Kerajaan Medang Kamulan yang memiliki dua abdi setia bernama Dora dan Sembada.
Suatu hari, Ajisaka mengutus Dora untuk menemui Sembada dan membawa pusakanya. Namun, Sembada menolak karena sesuai perintah Ajisaka sebelumnya yang tidak memperbolehkan siapapun membawa pusaka tersebut selain Ajisaka sendiri.
Akhirnya, kedua abdi tersebut saling curga bahwa masing-masing berniat mencuri pusaka itu. Kesalahpahaman tersebut membuat keduanya bertarung hingga meninggal. Kemudian Ajisaka membuat puisi yang dikenal dengan hanacaraka atau aksara Jawa.
Adapun filosofi dari puisi hanacaraka tersebut adalah sebagai berikut.
Ha-Na-Ca-Ra-Ka artinya adalah ”utusan” yakni utusan hidup, berupa nafas yang berkewajib menyatukan jiwa dengan jasad manusia. Baris pertama ini menunjukkan adanya pencipta (Tuhan), ciptaan (manusia), dan tugas yang diberikan Tuhan kepada manusia.
Da-Ta-Sa-Wa-La yang artinya manusia setelah diciptakan sampai dengan "data" atau saatnya dipanggil tidak boleh "sawala" atau mengelak. Jadi, dalam hidup ini manusia harus bersedia melaksanakan, menerima dan menjalankan kehendak Tuhan.
Pa-Dha-Ja-Ya-Nya yang menunjukkan proses menyatunya zat pemberi hidup (Ilahi) dengan yang diberi hidup (makhluk). Makna filosofis dari baris ini adalah setiap batin manusia pasti sesuai dengan apa yang diperbuatnya.
Ma-Ga-Ba-Tha-Nga yang berarti menerima segala yang diperintahkan dan yang dilarang oleh Tuhan . Maksud dari kalimat ini adalah manusia harus pasrah, sumarah pada garis kodrat, meskipun manusia diberi hak untuk mewiradat, berusaha untuk menanggulanginya.
Demikian penjelasan tentang asal usul dan filosofi dari aksara Jawa. Semoga bermanfaat! (Anne)
