Konten dari Pengguna

Bacaan dan Arti Surat Al Muthaffifin Ayat 1 Sampai 17

Berita Terkini

Berita Terkini

Penulis kumparan

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Berita Terkini tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi bacaan surat Al Mutahffifin ayat 1 sampai 17. Sumber: Unsplash
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi bacaan surat Al Mutahffifin ayat 1 sampai 17. Sumber: Unsplash

Al Muthaffifin merupakan firman Allah SWT dari golongan surat Makkiyah yang memiliki arti “orang-orang yang curang”. Sesuai dengan artian tersebut, maka pokok isi surat ke-83 dalam Alquan tersebut juga menceritakan tentang ancaman Allah SWT terhadap orang-orang yang berbuat curang. Dikutip dari Al Qur’an dan Terjemahannya, Soenarjo (1971: 1035), adapun yang dimaksudkan sebagai golongan orang curang tersebut ialah orang-orang yang kerap mengurangi hak orang lain sehingga tidak sesuai takaran sebenarnya. Ancaman terhadap orang-orang curang tersebut dapat kita temukan dalam surat Al Muthaffifin ayat 1-17.

Pada bacaan surat Al Muthaffifin ayat 1-6, disebutkan bahwasanya kelak orang-orang curang yang kerap kali mengurangi ukuran atau timbangan serta merampas hak orang lain akan mendapat kecelakaan di hari pembalasan nanti. Kemudian dalam ayat 7-17 disebutkan pula bahwa orang curang tersebut termasuk orang-orang yang mendustakan hari pembalasan dan kelak akan ditempatkan di neraka atas perbuatan buruknya tersebut.

Ilustrasi bacaan surat Al Mutahffifin ayat 1 sampai 17. Sumber: Unsplash

Bacaan dan Arti Surat Al Muthaffifin Ayat 1-17 dalam Alquran

Agar umat muslim dapat terhindar dari perbuatan-perbuatan curang, maka simak dan maknailah bacaan serta arti surat Al Muthaffifin ayat 1 sampai 17 berikut ini:

وَيْلٌ لِّلْمُطَفِّفِيْنَۙ

wailul lil-muṭaffifīn

Celakalah bagi orang-orang yang curang (dalam menakar dan menimbang)!

الَّذِيْنَ اِذَا اكْتَالُوْا عَلَى النَّاسِ يَسْتَوْفُوْنَۖ

allażīna iżaktālụ 'alan-nāsi yastaufụn

(Yaitu) orang-orang yang apabila menerima takaran dari orang lain mereka minta dicukupkan,

وَاِذَا كَالُوْهُمْ اَوْ وَّزَنُوْهُمْ يُخْسِرُوْنَۗ

wa iżā kālụhum aw wazanụhum yukhsirụn

dan apabila mereka menakar atau menimbang (untuk orang lain), mereka mengurangi.

اَلَا يَظُنُّ اُولٰۤىِٕكَ اَنَّهُمْ مَّبْعُوْثُوْنَۙ

alā yaẓunnu ulā`ika annahum mab'ụṡụn

Tidakkah mereka itu mengira, bahwa sesungguhnya mereka akan dibangkitkan,

لِيَوْمٍ عَظِيْمٍۙ

liyaumin 'aẓīm

pada suatu hari yang besar,

يَّوْمَ يَقُوْمُ النَّاسُ لِرَبِّ الْعٰلَمِيْنَۗ

yauma yaqụmun-nāsu lirabbil-'ālamīn

(yaitu) pada hari (ketika) semua orang bangkit menghadap Tuhan seluruh alam.

كَلَّآ اِنَّ كِتٰبَ الْفُجَّارِ لَفِيْ سِجِّيْنٍۗ

kallā inna kitābal-fujjāri lafī sijjīn

Sekali-kali jangan begitu! Sesungguhnya catatan orang yang durhaka benar-benar tersimpan dalam Sijjin.

وَمَآ اَدْرٰىكَ مَا سِجِّيْنٌۗ

wa mā adrāka mā sijjīn

Dan tahukah engkau apakah Sijjin itu?

كِتٰبٌ مَّرْقُوْمٌۗ

kitābum marqụm

(Yaitu) Kitab yang berisi catatan (amal).

وَيْلٌ يَّوْمَىِٕذٍ لِّلْمُكَذِّبِيْنَۙ

wailuy yauma`iżil lil-mukażżibīn

Celakalah pada hari itu, bagi orang-orang yang mendustakan!

الَّذِيْنَ يُكَذِّبُوْنَ بِيَوْمِ الدِّيْنِۗ

allażīna yukażżibụna biyaumid-dīn

(yaitu) orang-orang yang mendustakannya (hari pembalasan).

وَمَا يُكَذِّبُ بِهٖٓ اِلَّا كُلُّ مُعْتَدٍ اَثِيْمٍۙ

wa mā yukażżibu bihī illā kullu mu'tadin aṡīm

Dan tidak ada yang mendustakannya (hari pembalasan) kecuali setiap orang yang melampaui batas dan berdosa,

اِذَا تُتْلٰى عَلَيْهِ اٰيٰتُنَا قَالَ اَسَاطِيْرُ الْاَوَّلِيْنَۗ

iżā tutlā 'alaihi āyātunā qāla asāṭīrul-awwalīn

yang apabila dibacakan kepadanya ayat-ayat Kami, dia berkata, “Itu adalah dongeng orang-orang dahulu.”

كَلَّا بَلْ ۜرَانَ عَلٰى قُلُوْبِهِمْ مَّا كَانُوْا يَكْسِبُوْنَ

kallā bal rāna 'alā qulụbihim mā kānụ yaksibụn

Sekali-kali tidak! Bahkan apa yang mereka kerjakan itu telah menutupi hati mereka.

كَلَّآ اِنَّهُمْ عَنْ رَّبِّهِمْ يَوْمَىِٕذٍ لَّمَحْجُوْبُوْنَۗ

kallā innahum 'ar rabbihim yauma`iżil lamaḥjụbụn

Sekali-kali tidak! Sesungguhnya mereka pada hari itu benar-benar terhalang dari (melihat) Tuhannya.

ثُمَّ اِنَّهُمْ لَصَالُوا الْجَحِيْمِۗ

ṡumma innahum laṣālul-jaḥīm

Kemudian, sesungguhnya mereka benar-benar masuk neraka.

ثُمَّ يُقَالُ هٰذَا الَّذِيْ كُنْتُمْ بِهٖ تُكَذِّبُوْنَۗ

ṡumma yuqālu hāżallażī kuntum bihī tukażżibụn

Kemudian, dikatakan (kepada mereka), “Inilah (azab) yang dahulu kamu dustakan.”

Setelah membaca dan memaknai arti surat Al Muthaffifin ayat 1 sampai 17 tadi, semoga umat muslim senantiasa dapat menjaga diri dan menghindari perbuatan curang agar tidak masuk ke dalam golongan kaum yang mendustakan Allah SWT. (HAI)