Konten dari Pengguna

Bagaimanakah Seharusnya Sikap Kita Terhadap Anak Yatim Menurut Islam

Berita Terkini

Berita Terkini

Penulis kumparan

·waktu baca 2 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Berita Terkini tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi Bagaimanakah Seharusnya Sikap Kita Terhadap Anak Yatim, Foto: Unsplash/filadendron.
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Bagaimanakah Seharusnya Sikap Kita Terhadap Anak Yatim, Foto: Unsplash/filadendron.

Bagaimanakah seharusnya sikap kita terhadap anak yatim telah diajarkan oleh Rasulullah saw. Anak yatim merupakan sosok yang sangat istimewa, bahkan seseorang yang menyantuninya akan dekat dengan Rasulullah saw.

Rasulullah saw. bersabda: “Aku dan orang yang memelihara anak yatim itu akan masuk surga”. Menyantuni anak yatim tidak hanya dengan materi saja, tetapi juga ditampilkan dengan sikap yang diberikan.

Bagaimanakah Seharusnya Sikap Kita Terhadap Anak Yatim? Ini Penjelasannya

Ilustrasi Bagaimanakah Seharusnya Sikap Kita Terhadap Anak Yatim, Foto: Unsplash/Fly View Productions.

Dikutip dari baznas.go.id, anak yatim memiliki tempat yang istimewa dalam Islam. Banyak ayat dalam Al-Qur’an dan hadis yang menggarisbawahi pentingnya menjaga dan merawat anak yatim.

Bagaimanakah seharusnya sikap kita terhadap anak yatim yaitu didasarkan pada prinsip kasih sayang, keadilan, dan tanggungjawab.

Pertama, prinsip kasih sayang mengajarkan bahwa anak yatim perlu diperlakukan dengan penuh empati, kelembutan, dan cinta layaknya keluarga sendiri.

Rasulullah saw. bersabda:

Artinya: “Dari Abu Hurairah r.a., bahwa ada seorang laki-laki yang mengadukan kekerasan hatinya kepada Rasulullah saw., maka beliau bersabda: ‘Usaplah kepala anak yatim dan berilah makan orang miskin.’” (HR. Ahmad dengan perawi shahih).

Kedua, prinsip keadilan menuntut agar anak yatim diperlakukan secara adil dan tidak dibeda-bedakan dalam kehidupan sosial. Jangan sampai mereka merasa terkucilkan atau dianggap rendah karena latar belakang keluarga.

Rasulullah saw. bersabda:

Artinya: “Barangsiapa yang memberi pakaian kepada seorang anak yatim dari kalangan muslimin, maka Allah akan memberinya pakaian dari sutra hijau di surga.” (HR. Ath-Thabrani).

Ketiga, prinsip tanggung jawab menekankan bahwa kepedulian terhadap anak yatim bukan sekadar belas kasihan sesaat, melainkan bentuk amanah sosial yang harus dijalani secara berkelanjutan.

Dalam Islam menjaga, mengurus, dan membahagiakan anak yatim adalah bagian dari ibadah yang akan mendapatkan balasan besar.

Allah Swt. berfirman dalam surat An-Nisa ayat 10:

إِنَّ ٱلَّذِينَ يَأْكُلُونَ أَمْوَٰلَ ٱلْيَتَٰمَىٰ ظُلْمًا إِنَّمَا يَأْكُلُونَ فِى بُطُونِهِمْ نَارًا ۖ وَسَيَصْلَوْنَ سَعِيرًا

Innallażīna ya`kulụna amwālal-yatāmā ẓulman innamā ya`kulụna fī buṭụnihim nārā, wa sayaṣlauna sa'īrā

Artinya: “Sesungguhnya orang-orang yang memakan harta anak yatim secara zalim, sebenarnya mereka itu menelan api dalam perutnya dan mereka akan masuk ke dalam api yang menyala-nyala.”

Baca Juga: Apakah Boleh Niat Puasa Asyura pada Siang Hari? Ini Hukumnya

Jadi, bagaimanakah seharusnya sikap kita terhadap anak yatim yaitu didasarkan pada prinsip kasih sayang, keadilan, dan tanggungjawab. (Umi)