Bahan Pembuatan Wayang pada Masa Raden Fatah

Penulis kumparan
·waktu baca 2 menit
Tulisan dari Berita Terkini tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Indonesia adalah negara dengan banyak kebudayaan, salah satunya wayang. Pada zaman Raden Fatah wayang yang dipakai berasal dari kulit kerbau. Sehingga wayang sudah tidak lagi digambar di atas kain.
Wayang sendiri memberi pelajaran penting bagi masyarakat dalam menjalani kehidupannya. Hal ini disebabkan dalam cerita wayang mengandung segala kehidupan manusia dari lahir sampai kembali kepada sang pencipta.
Pada Zaman Raden Fatah Wayang yang Dipakai Berasal dari Kulit Apa?
Dikutip dari buku Cara Merawat Wayang Kulit, Panuwun Budi (2024: 2), wayang adalah pertunjukan drama dengan boneka yang terbuat dari kulit. Kulit itu dibentuk menjadi karakter pewayangan.
Jadi bentuknya bukan boneka seperti di puppet show biasa, tetapi bentuknya pipih dan tipis karena dari kulit hewan, bentuknya unik khas Indonesia. Wayang sendiri awalnya berupa gambaran di atas kain saja, tetapi seiring perubahan zaman menjadi wayang kulit.
Wayang kulit adalah kesenian dengan menggunakan bentuk karakter mitologi yang biasanya dibuat dengan menggunakan lembaran kulit binatang (kerbau atau sapi) yang dikeringkan. Pada zaman Raden Fatah wayang yang dipakai berasal dari kulit kerbau.
Dasar kulit binatang yang berwarna putih (berasal dari tulang yang dibuat tepung), diberi pakaian yang digambar dengan tinta warna, wayang dibuat miring, tangan dibuat panjang, kemudian digapit dan disumping.
Pada masa ini, yang membuat sumpingan untuk wayang tersebut adalah Sunan Bonang. Sedangkan Sunan Kalijaga yang menyarankan menggunakan kelir, blencong, peti atau kotak, dan kekayon atau gunungan.
Selama periode tersebut, wayang kulit menjadi bagian penting dari budaya Jawa, baik sebagai hiburan maupun sebagai sarana penyampaian cerita dan pesan moral. Hal ini dikarenakan ceritanya berupa kisah manusia dari lahir hingga meninggal.
Pertunjukan wayang kulit sering kali disertai dengan pengiring musik gamelan dan narasi yang dilakukan oleh dalang, atau pemain wayang, yang juga menghidupkan karakter-karakter dalam cerita dengan suara-suara yang berbeda-beda.
Raden Fatah sendiri adalah salah satu tokoh penting dalam sejarah Jawa yang memperkenalkan Islam secara lebih luas di wilayah tersebut.
Meskipun bukan dia yang secara khusus mengembangkan seni wayang, tetapi pada masa pemerintahannya, wayang kulit terus berkembang dan menjadi bagian integral dari budaya Jawa.
Baca Juga: 5 Manfaat Wayang bagi Pengembangan Warisan Budaya Indonesia
Demikian pembahasan mengenai bahan yang digunakan untuk membuat wayang pada masa Raden Fatah. Pada masa kerajaan Demak ini, pembuatan wayang sudah menggunakan kulit kerbau. (Umi)
