Konten dari Pengguna

Biografi Cut Nyak Dien, Pahlawan Perempuan Melawan Kolonialisme Belanda

Berita Terkini

Berita Terkini

Penulis kumparan

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Berita Terkini tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi perlawanan Cut Nyak Dien dalam melawan kolonialisme Belanda. Foto: unsplash.com/ankhesenamunnn
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi perlawanan Cut Nyak Dien dalam melawan kolonialisme Belanda. Foto: unsplash.com/ankhesenamunnn

Berdirinya negara Indonesia berlangsung dalam kurun waktu sangat panjang. Salah satu yang terkenal dan masih dikenal adalah zaman kolonialisme Belanda. Namun masyarakat berbagai daerah Indonesia tidak hanya diam dan melakukan perlawanan untuk mempertahankan daerahnya dari penjajahan. Salah satu tokoh daerah yang melawan kolonialisme Belanda asal Aceh yang bernama Cut Nyak Dien. Untuk mengetahui jasa-jasanya, berikut biografi Cut Nyak Dien sang pahlawan perempuan yang melawan penjajahan dari negeri Aceh.

Biografi Cut Nyak Dien, Pahlawan Perempuan Melawan Kolonialisme Belanda

Dikutip dari buku Biografi Pahlawan Kusuma Bangsa karya Ria L (2011:8-100), Cut Nyak Dien lahir pada tahun 1850 dari pasangan dari keturunan bangasawan. Jika perjuangannya diwarisi dari sang ayah Teuku Nata Setia. Meski demikian hari kelahiran Cut Nyak Dien tidak begitu menyenangkan, di mana sedang ada perang saudara ketika rakyat VI Mukmin di bawah Uleebalang Nanta sedang tekun membangun daerahnya.

Meletusnya Perang Aceh

Pada tanggal 26 Maret 1873, Belanda memulai peperangan melawan masyarakat Aceh melalui amada kapal Citadel van Antwarpen dan mulai menembakkan meriam. Pada tanggal 8 April 1973, kolonialisme Belanda di bawah pimpinan Johan Harmen Rudolf Köhler berhasil mendarat di pesisir pantai Ceureumen dan membakar Masjid Raya Baiturrahaman.

Apa yang dilakukan Belanda memicu terjadinya perang. Panglima Polim dan Sultan Mahmud Syah melawan ribuan prajurit Belanda. Pada akhirnya, masyarakat Aceh memenangkan perang dengan menembak mati Köhler.

Ilustrasi kolonialisme Belanda. Foto: unsplash.com/levimeirclancy

Meninggalnya Tueku Ibrahim

Pada tahun 1874 hingga 1880, wilayah VI Mukim berhasil diduduki tentara Belanda di bawah kepemimpinan Jenderal Jan van Swieten dan juga mengalahkan Keraton Sultan,

Kejadian tersebut membuat Cut Nyak Dien dan bayinya dari pernikahan Tueku Ibrahim harus mengungsi bersama rombongan. Namun, sang suami tetap bertekat untuk merebut kembali daerah VI Mukim.

Akan tetapi, Teuku Ibrahim yang melawan Belanda di Gle Tarum harus tewas pada 29 Juni 1878. Mendengar hal ini membuat kemarahan Cut Nyak Dien. Ia bersumpah untuk meghancurkan Belanda.

Menikah dengan Tueku Umar

Pada tahun 1880, Cut Nyak Dien menerima pinangan seorang laki-laki yang merupakan keponakan ayahnya yang bernama Tueku Umar. Ia merupakan pejuan kemerdekaan yang gigih. Cut Nyak Dien dan Tueku Umar sama melancarkan serangan melawan Belanda. Perkawinan mereka menghasilkan putra bernama Cut Gambang.

Teuku Umar terkenal sebagai seorang pejuang yang mempunyai banyak taktik. Demi mendapatkan senjata dan perlengkapan perang ia berpura-pura bekerja sama dengan Belanda selama tiga tahun. Pada tanggal 11 Februari, Teuku Umar tewas dalam satu pertempuran di Meulaboh. Tanpa sang suami, Cut Nyak Dien tetap melanjutkan perjuangan.

Belanda merasa sangat terganggu atas perlawanan yang dilakukan Cut Nyak Dien. Seiring dengan bertambahnya usia, Cut Nyak Dien semakin tua, apalagi penglihatannya mulai rabun dan berbagai penyakit mulai menyerang. Di samping itu jumlah pasukannya pun semakin berkurang, ditambah lagi situasi yang semakin sulit memperoleh makanan.

Tahun 1901, orang kepercayaan Cut Nyak Dien yang bernama Pang Laot Ali memberitahukan keberadaan mereka kepada Belanda dengan rasa terpaksa, tetapi dengan syarat pihak Belanda harus merawat Cut Nyak Dien dengan baik. Pang Laot melakukan ini karena merasa kasihan pada Cut Nyak hien yang sudah tua dan sakit-sakitan.

Diasingkan Ke Sumedang

Walaupun dalam tawanan, Cut Nyak Dien masih terus melakukan hubungan dengan para pejuang yang belum tunduk. Tindakannya itu membuat pihak Belanda marah sehingga ia akhirnya diasingkan ke Sumedang, Jawa Barat. Di tempat pengasingannya tersebut, ia meninggal pada tanggal 8 November 1908.

Karena perjuangan dan pengorbanannya yang begitu besar kepada negara, Cut Nyak Dien dinobatkan menjadi Pahlawan Kemerdekaan Nasional berdasarkan Surat Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 106 Tahun 1965 pada tanggal 2 Mei 1964. (MZM)