Ceramah Ramadhan Singkat tentang Mengingat Kematian adalah Obat Terbaik

Penulis kumparan
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Berita Terkini tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Di bulan Ramadhan, ceramah menjadi hal yang sering didengar, baik itu secara langsung maupun tidak langsung. Salah satunya adalah ceramah setelah shalat subuh maupun menjelang shalat tarawih. Berikut contoh ceramah Ramadhan singkat tentang mengingat kematian adalah obat terbaik.
Ceramah Ramadhan Singkat tentang Mengingat Kematian adalah Obat Terbaik
Kematian adalah takdir yang sudah ditetapkan Allah SWT. Tidak ada seorangpun yang mengetahui kapan ia Malaikat Izrail akan mendatanginya. Maka dari itu, mengingat kematian membuat manusia semakin sadar bahwa hidup bukan sekedar di dunia saja. Namun akan ada kehidupan di akhirat kelak.
Adapun contoh ceramah Ramadhan singkat tentang mengingat kematian adalah obat terbaik yang dibawakan oleh Ustadz Ahmad Zainuddin, Lc.
Ingat Mati adalah Obat
Semua dari kita, sering merasakan resah, gelisah, gundah-gulana, diakibatkan dari permasalahan-permasalahan yang sering kita hadapi. Entak itu permasalahan ekonomi, permasalahan anak istri, permasalahan penyakit, permasalahan orang-orang yang kita cintai diwafatkan, kekurangan harta dan semisalnya. Bahkan juga semua dari kita pernah malas dalam ibadah, pernah turun derajat keimanan, mungkin benar-benar turun. Sampai kadang-kadang kita sangat malas dalam ibadah.
Juga, semua dari kita kadang-kadang terlalu rakus terhadap dunia. Yang ada dalam pikirannya (orientasinya) hanya dunia. Maka tiga hal ini (resah/gelisah dengan problematika kehidupan dunia, malas mengerjakan ketaatan, merasa selalu tidak cukup dengan rezeki dari Allah Subhanahu wa Ta’ala), tiga hal ini obatnya adalah mengingat pemutus kelezatan dunia (yaitu kematian). Mengingat saat ruh kita berpisah dengan jasad kita.
Di mana kita? Sedang melakukan apa kita? Apakah di tempat ibadah atau di tempat maksiat? Apakah sedang mengerjakan ketaatan atau sedang mengerjakan kemaksiatan?
Obat dari tiga hal tersebut tersebut adalah mengingat kematian, mengingat saat ruh kita naik ke atas langit, apakah diterima oleh Allah (ruhnya) ataukah tidak? Dan ingat, itu semua kita lakukan sendirian. Diterima oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala ataukah tidak? Dibukakan pintu langit untuk ruh kita ataukah tidak? Ingat itu! Itu akan mengobati rasa gelisah, gundah gulana atas problematika kehidupan dunia, mengobati malas beribadah, mengobati merasa tidak puas hati dengan pemberian Allah Subhanahu wa Ta’ala, senantiasa selalu merasa kurang, kurang dan kurang.
Ingat, saat ruh kita di atas langit, apakah dilempar oleh Allah ataukah dibawa oleh para malaikat dan dikembalikan kedalam jasadnya di alam barzakh? Ingat itu, itu yang membuat hati kita akhirnya tenang dengan problematika kehidupan dunia, sabar dan tegar. Itu yang membuat kita semangat untuk beribadah, itu yang membuat kita akhirnya segera bertaubat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, puas hati dengan pemberian Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Saat dalam kubur, ingat, apakah kita mendapat nikmat ataukah kita dipukul oleh malaikat Mungkar dan Nakir ditengah kepala kita? Yaitu antara dua telinga kita -sebagaimana hadits riwayat Imam Ahmad dari Al-Bara’ bin ‘Azib radhiyallahu ‘anhu- karena tidak bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan di alam barzakh. Ingat itu, agar kita hidupnya tenang, sabar, tidak gundah, tidak resah dengan problematika kehidupan dunia kita, agar senantiasa semangat beribadah, bersegera untuk bertaubat, agar senantiasa puas dengan pemberian Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Maka lihat hadits Rasulullah Shallahu ‘Alaihi wa Sallam riwayat Ibnu Hibban. Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘Anhu, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:
أَكْثِرُوا ذِكْرَ هَادِمِ اللَّذَّاتِ
“Perbanyaklah mengingat sesuatu yang memutuskan kelezatan (yaitu kematian)”
فَمَا ذَكَرَهُ عَبْدٌ قَطُّ وَهُوَ فِي ضِيقٍ إِلا وَسَعَهُ عَلَيْهِ
Tidaklah seorang hamba pernah menginat kematian dan dia dalam keadaan sempit hidupnya, kecuali pengingatan dia terhadap kematian tersebut akan melapangkan dadanya.
وَلا ذَكَرُهُ وَهُوَ فِي سَعَةٍ إِلا ضَيِّقَهُ عَلَيْهِ
Dan tidaklah seorang hamba mengingat kematian tersebut dan dia dalam keadaan kelapangan dunia, melainkan ingatannya terhadap kematian tersebut akan menyempitkannya/akan memudahkan dia untuk khusyu’ kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Abu Ali ad-Daqqaq Rahimahullah, seorang ulama Islam. Perkataan beliau dinukil oleh Imam Al-Qurthubi dalam kitab beliau At-Tadzkirah Fii Ahwalil Mauta wa Umurul Akhirat, Abu Ali ad-Daqqaq Rahimahullah berkata:
من أكثر ذكر الموت أكرم بثلاثةٍ
“Siapa yang banyak mengingat kematian dimuliakan dengan tiga perkara:”
1. Segera bertaubat
Segera bertaubat, segera melepaskan dosa. Karena kita tidak tahu kapan kematian datang. Kematian tidak berbau, tidak ada yang tahu batas ajal kita. Segera bertaubat.
2. Hati yang lapang
Lapang hatinya, tidak mudah mengeluh atas ujian dari Allah Subhanahu wa Ta’ala, tidak mudah menggerutu atas pemberian Allah Subhanahu wa Ta’ala.
3. Semangat beribadah
Semangat beribadah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, semangat bangun malam. Karena mempersiapkan bekal untuk setelah kematian, semangat membaca Al-Qur’an, mempersiapkan bekal terbaik agar bisa bertemu dengan Allah, selamat setelah kematian.
Dan ingat, bahwa tujuan akhir hidup kita sebenarnya adalah bagaimana bisa selamat setelah kita mati, baik di alam barzakh, baik ketika dibangkitkan, baik ketika di atas shirath, baik ketika selamat dari neraka. Itu sebenarnya tujuan hidup kita. Bagaimana bisa selamat setelah kita mati. Semoga bermanfaat.
(MZM)
