Ceramah Ramadhan yang Menyentuh Hati untuk Meningkatkan Keimanan

Penulis kumparan
Tulisan dari Berita Terkini tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Meningkatkan keimanan menjadi tujuan umat Islam selama di bulan Ramadhan. Untuk dapat memperdalam keimanan, kebanyakan kaum muslim melakukan berbagai ibadah dan juga amalan berpahala. Salah satu amalan yang paling banyak dilakukan adalah mendengarkan ceramah Ramadhan yang menyentuh hati.
Ceramah Ramadhan yang Menyentuh Hati untuk Menambah Keimanan
Ceramah berisi nasihat agama menjadi salah satu yang paling sering kita jumpai di bulan Ramadhan, baik itu melalui media elektronik maupun melalui Masjid sekitar tempat tinggal. Ceramah Ramadhan ini tentunya bermanfaat untuk meningkatkan keimanan umat Islam, khususnya di bulan Ramadhan. Berikut ini adalah salah satu materi ceramah Ramadhan yang menyentuh hati dengan tema selamat jalan Ramadhan, dikutip dari buku berjudul Islam Rahmat Bagi Alam Semesta yang disusun oleh Tim Penceramah JIC (2005:34-38):
Ketika bulan suci Ramadan datang, Nabi Muhammad SAW menyambutnya dengan gembira, senang dan dengan rasa nikmat, “Marhaban ya ramadhan. Ahlan wa sahlan ya syahra ramadhan, ahlan wasahlan ya syahra mubarak”. Menjelang akhir bulan Ramadan Nabi mencucurkan air mata, “Muwadda’, muwadda’ ya ramadhan”, selamat tinggal wahai Ramadan.
Dalam menyikapi bulan Ramadan, ada dua ciri kaum muslimin; yang pertama, muslim yang merasa senang ketika bulan suci Ramadan berlalu, yang kedua, muslim yang berat hati dengan perginya bulan suci Ramadan. Barangkali mayoritas muslim yang kita lihat sekarang ini masuk kategori yang pertama. Dalam sebuah buku dijelaskan, langit dan bumi menangis tatkala bulan Ramadan meninggalkan umat Islam, meninggal kan orang-orang yang berpuasa. Betapa orang-orang mukmin, orang yang melaksanakan puasa tidak akan lagi mendapatkan anugerah Ramadan.
Bahkan diceritakan dalam buku itu para malaikat menangis ketika bulan Ramadan pergi meninggalkan umat Islam, meninggalkan kita. Orang yang senang dengan kepergian bulan suci Ramadan, itu dikarenakan nilai-nilai dan ketajaman rohaninya masih lemah. Sedangkan orang yang sedih ketika berpisah dengan bulan Ramadan adalah orang yang hati, rohaninya kuat, sehingga kebanyakan dari mereka melanjutkan dengan berpuasa Syawal.
Nabi bersabda: “Barang siapa melaksanakan puasa Ramadan, dan dilanjutkan dengan puasa Syawal selama nama Allah”. Allah SWT memerintahkan setelah melaksanakan puasa, “Walitukabbiru allaha ‘ala ma hadakum”, agar bertakbir, besarkan nama Allah SWT dalam hati, pikiran dan seluruh bagian yang ada di dalam diri kita. Takbir adalah ungkapan kemenangan yang ditentukan oleh Allah SWT dan dianjurkan oleh Rasulullah SAW. Nabiyullah Ibrahim diperintahkan untuk menyembelih anaknya, Ismail as.
Ketika Nabi Ismail diganti kedudukannya dengan domba: “Hai Ibrahim, sungguh engkau telah melaksanakan apa yang ada dalam mimpimu itu dan tidak layak anakmu ini disembelih Allah, kemudian ditukarlah Ismail dengan domba dari surga– ada yang mengatakan bahwa domba tersebut datang dari tempat asal Nabi Ibrahim as,–kemudian disembelih, “Allahu akbar, Allahu akbar, Allahu akbar, lailaha illa allahu wa-Allahu akbar, Allahu akbar walillahi al-hamd”. Ungkapan ”Allahu akbar” merupakan tanda kemenangan karena beliau adalah kekasih Allah SWT yang diberi ujian cukup berat, menyembelih anaknya.
Ketika mendapat perintah saat itu, Nabi Ibrahim memanggil anaknya, “Hai anakku, tadi malam aku bermimpi, dalam mimpi aku menyembelihmu, bagaimana pendapatmu wahai anakku. Ketika itu iblis masuk ke dalam jiwa Nabi Ibrahim, “Hai Ibrahim, apakah kamu mau menyembelih anakmu?” Nabi Ibrahim tidak terpengaruh oleh provokasi iblis, setan itu keluar dan dilempar oleh Nabi Ibrahim. Lemparan inilah yang kemu dian disebut sebagai “Jumrah al-’aqabah” dalam haji. Merasa tidak berhasil, lalu setan masuk ke dalam diri Siti Hajar, “Hai Hajar, ingatkan suamimu, apakah ia mau menyembelih anak kandungnya sendiri? Ibrahim itu gila, tegur suamimu agar jangan melakukan perbuatan yang bodoh”, Siti Hajar menjawab, “Tidak, suamiku melaksanakan perintah Allah SWT yang sesungguhnya!” Akhirnya iblis itu keluar dan dilempar dengan batu, kemudian lari.
Lemparan inilah yang menerima pelaksanan kurban setelah melempar iblis dengan batu. Dalam pelaksanaan haji, lemparan ini dinamakan “Jumrah al-ula”, jumrah kecil. Sepulang dari Arafah, orang yang menunaikan ibadah haji mengumandangkan kalimat “Allahu akbar” sampai tiga kali, membesarkan nama Allah SWT selama dalam perjalanan, di dalam mobil, bahkan di masjid. Agama kita adalah agama yang santun dan indah, “rahmatan li al-‘alamin”. Gema takbir yang kita kumandangkan juga diharapkan jangan sampai mengganggu orang lain, jangan takbir sambil minum minuman keras, dan membunyikan petasan.
Kita dilarang merusak akhir Ramadan dan malam Syawal dengan perbuatan-perbuatan yang tidak layak. Ajaran Islam menjadi tercela karena perbuatan kita. “Walitukabbiru allah ‘ala ma hadakum”, (Besarkan nama Allah SWT yang memberikan petunjuk kepadamu). Selama melaksanakan puasa di bulan Ramadan kita di gembleng, dibentuk oleh Allah SWT dengan kebersamaan.
Pertama, kebersamaan niat yang baik setiap malam, “Nawaitu shauma ghadin an ada’i fardhi syahri ramadana hadzihi al sanati lillahi ta’ala”, dibaca bersama-sama. Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh lima perawi disebutkan, “Barang siapa orang yang tidak berniat pada malam harinya sampai dengan terbit fajar maka tidak ada puasa baginya.” Hal ini tidak perlu diikhtilafkan, sebab makna niat juga berarti “muqtaranan bi al fi’li”. Dalam agama Islam diajarkan bahwa niat adalah rukun, dan dibaca secara bersama-sama, ditumbuhkan di dalam batin untuk niat berpuasa karena Allah SWT.
Yang kedua adalah kebersamaan dalam berpuasa. Inilah yang meringankan pelaksanaan puasa, nikmatnya berpuasa. Ketiga, kebersamaan dalam merasakan lapar, bukan hanya orang miskin yang merasakan laparnya puasa, tapi juga orang kaya–yang memiliki banyak makanan dan minuman– kan masjid, rumah Allah SWT. Barang siapa meramaikan rumah Allah SWT, memperhatikan rumah Allah SWT, Allah pun akan memperhatikan kita “In tanshuru allaha yanshurkum wayutsabbid aqdama kum” (Jika kita menolong agama Allah, niscaya Allah akan menolong kita dan memantapkan keyakinan kita). Apa yang sudah dilatih selama bulan puasa, kepribadian dalam bersabar, kepribadian disiplin, kepribadian tahan miskin dan tahan lapar, kepribadian loman, mau membantu orang lain, menjadi kepribadian kita seutuhnya. Itulah pesan yang harus kita pegang.
Allah SWT berfirman dalam al-Qur’an “Wala tufsidu fi al-ardhi ba’da ishlahiha” (Jangan kalian berbuat ke rusakan setelah kalian menata kehidupan ini dengan keinda han). Kita sudah menata selama 30 hari berpuasa meninggalkan perbuatan-perbuatan yang fakhsya’, karenanya kita menjaga agar sikap tersebut terus tumbuh setelah Ramadan. Perbuatan yang buruk tidak menguntungkan kepada diri kita, masyarakat, dan ajaran agama kita. Allah SWT berfirman, “Inna allaha la yuhibbu al-mufsidin” (Allah tidak senang dengan orang yang berbuat kerusakan). Di bulan puasa, sifat dengki dihilangkan, sifat dendam dihancurkan, hidup semakin nikmat. Itulah tujuan bulan suci Ramadan yang sesungguhnya. Setelah kita diperintah untuk menyempurnakan puasa kita, berikutnya kita juga harus menunaikan zakat kita, zakat fitrah dan zakat mal.
Nabi SAW menyatakan dalam sebuah hadis “inna al-shiyama la tuqbalu abadan illa bi ta’diyati al-zakat,” sesungguhnya puasa yang kalian lakukan belum akan sampai ke hadirat Allah SWT kecuali kalian tunaikan zakat fitrah. Di samping kita diperintahkan untuk menyempurnakan puasa kita, dan juga menunaikan zakat kita, ketika datang hari raya Idulfitri atau hari lebaran, kita juga harus melakukan satu hal lain, saling memaafkan. Dalam sebuah hadis Nabi SAW bersabda “Tsalasatun min makarima al-akhlaq inda allah” ada tiga sifat yang sangat-sangat terpuji di sisi Allah SWT. Sifat terpuji yang pertama, memberi maaf pada orang yang melakukan kesalahan kepada kita. Artinya, justru kita yang mendatangi orang yang jelas-jelas telah melakukan kesalahan kepada kita, lalu kita memaafkannya.
Tindakan memaafkan ini sangat sulit dilakukan, karena kebanyakan dari kita terlalu memperhitungkan gengsi dan harga diri kita. Sifat terpuji yang kedua, memberi sesuatu kepada seseorang yang pernah menyatakan tidak mau menerima pemberian kita. Kita datangi orang seperti itu dan kita jalin lagi silaturahmi. Yang ketiga kita datangi orang yang memutuskan hubungan silaturahmi dengan kita. Kita sambung lagi silaturahmi yang telah diputus olehnya.
Demikianlah tiga perbuatan yang sangat mulia. Jika kita melakukannya, insya Allah, sesudah lebaran kita terus dibimbing Allah SWT, sesuai yang disabdakan Nabi SAW dalam salah satu hadis sahih: “Barang siapa berpuasa karena Allah SWT semata-mata, maka dosa-dosa dia akan diampuni baik dosa yang lalu ataupun dosa yang akan datang. Artinya, dia akan selalu dituntun dan dibimbing Allah SWT untuk menghindari dosa-dosa berikutnya. Karena itu, menjelang berakhirnya bulan Ramadan, kita sudah seharusnya meneteskan air mata, enggan berpisah dengan bulan penuh rahmat tersebut. Kita harus memperbanyak tafakur, bersujud, dan bermuhasabah. Insya Allah kita ter masuk orang-orang yang menang dan akan menjadi orang orang yang bahagia lahir, batin, di dunia dan di akhirat.
(Ceramah oleh Abdullah Fauzi Assegaf)
Materi ceramah Ramadhan yang menyentuh hati tersebut dapat Anda pahami dan resapi untuk dapat meningkatkan keimanan Anda setelah bulan Ramadhan. Semoga bermanfaat. (DA)
