Cerita Danau Toba secara Singkat yang Sarat Akan Pesan Moral

Penulis kumparan
ยทwaktu baca 3 menit
Tulisan dari Berita Terkini tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Danau Toba adalah danau terluas di Indonesia. Danau ini memiliki keunikan berupa terdapat pulau di dalamnya. Hal ini menghadirkan sebuah cerita Danau Toba yang beredar di masyarakat dan menjadi legenda.
Meskipun merupakan sebuah legenda, tetapi cerita Danau Toba memiliki pesan moral. Pesan moral tersebut dapat diambil dan dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
Cerita Danau Toba secara Singkat
Danau Toba adalah danau yang berada di Provinsi Sumatra Utara. Danau ini terbentuk akibat proses vulkanik dan tektonik berupa tiga letusan gunung api purba dan menghasilkan kaldera.
Besarnya letusan gunung tersebut menyebabkan terjangkitnya sebagian tanah dengan posisi miring ke arah barat daya yang membentuk Pulau Samosir.
Sedangkan cerita Danau Toba yang dikutip dari buku 78 Legenda Ternama Indonesia, Wahyu Setyorini (2022), yakni:
Di sebuah pulau, hiduplah seorang laki-laki sebatang kara bernama Toba. Karena hidupnya yang miskin, dia sering memancing ikan di sungai untuk makan sehari-harinya.
Suatu hari saat Toba sedang memancing ikan, dia mendapatkan ikan mas yang sisiknya berbeda dari ikan mas yang lain. Sisiknya bagaikan sisik asli yang terbuat dari emas. Toba membawa ikan mas itu pulang.
Saat Toba akan membunuh ikan mas itu, tiba-tiba, "Jangan bunuh aku!" Ikan mas itu bisa berbicara. Toba terkejut ikan itu berbicara kepadanya.
"Jangan takut. Aku tidak akan berbuat jahat. Tolong jagalah aku!" Akhirnya Toba tidak jadi membunuh ikan mas itu dan ia merawatnya.
Keesokan harinya, seperti biasa Toba pergi ke sungai untuk memancing ikan. Saat Toba pulang dia merasa aneh dengan keadaan rumahnya yang terlihat bersih dan rapi serta tersaji banyak makanan di atas meja makan.
Tapi rasa lapar Toba karena lelah memancing mengalahkan rasa penasarannya. Toba memakan semua makanannya tanpa memperdulikan siapa yang sudah merapikan rumahnya dan memasak makanan itu.
Hal yang sama terjadi keesokan harinya. Dan pada hari ketiga saat Toba tiba di rumahnya setelah memancing, dia menemukan seorang perempuan sedang menghidangkan makanan di meja makannya.
"Kamu siapa?" tanya Toba heran.
"Aku ikan mas yang kau rawat. Sebagai balas budiku, aku merapikan rumahmu dan memasak untukmu."
Dari saat itu Toba tidak penasaran lagi saat pulang melihat kondisi rumahnya sudah bersih dan rapi juga tersaji makanan untuknya. Hari demi hari mereka semakin dekat. Toba mengajaknya menikah dengan tiga syarat yang diajukan perempuan itu.
Syarat pertama, Toba tidak boleh membongkar identitas aslinya sebagai seekor ikan. Kedua, Toba tidak boleh memakan ikan. Ketiga, jika mereka dikaruniai anak, Toba tidak boleh memanggilnya sebagai anak ikan.
Toba menyetujui tiga syarat itu dan akhirnya mereka menikah. Keduanya hidup bahagia. Setelah menikah Toba memutuskan untuk membuka usaha menjual beras. Usahanya itu dibantu oleh istrinya dan usaha mereka semakin maju.
Pernikahan mereka dikaruniai seorang anak laki-laki bernama Samosir. Samosir berperangai sangat nakal. Suatu hari, Toba, sang ayah memintanya untuk membelikan nasi bungkus.
Tapi Samosir tak kunjung datang. Sampai akhirnya Toba menemukan Samosir tengah bermain di sungai.
"Samosir kamu nakal sekali seperti anak ikan!" Toba terlanjur marah kepada anaknya. Samosir mengadu kepada ibunya bahwa ayahnya telah memanggilnya sebagai anak ikan.
Ibunya sangat terkejut mendengar pengakuan Samosir. "Pergi ke atas bukit, Samosir!" pinta ibunya. Saat itu langit terlihat marah. Awan hitam sempurna menutupi cahaya matahari.
Petir berdentang tajam. Hujan turun dengan deras. Kemarahan Toba terhadap Samosir membuat dirinya telah melanggar salah satu janji pernikahannya.
Pulau itu tenggelam beserta penduduknya termasuk Toba. Kini, pulau itu menjadi danau yang terkenal dengan nama Danau Toba.
Baca Juga: Apa yang Dimaksud dengan Cerita Legenda? Ini Pengertian dan Jenisnya
Itulah cerita Danau Toba sebagai danau terbesar di Indonesia. Sebagai cerita yang sarat akan nilai moral, cerita ini dapat diberikan untuk anak agar ia selalu menepati janji. (MZM)
