Cerita yang Berkaitan dengan Catur Asrama dalam Ajaran Hindu

Penulis kumparan
·waktu baca 2 menit
Tulisan dari Berita Terkini tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Dalam mata pelajaran Pendidikan Agama Hindu, terdapat materi tentang Catur Asrama yang penting untuk dipahami dengan baik oleh setiap siswa. Selain memahami pengertian dan konsep dasarnya, siswa juga perlu mengetahui cerita yang berkaitan dengan Catur Asrama itu sendiri.
Sebab, ternyata ada banyak sekali contoh cerita tentang Catur Asrama yang berkaitan dengan kehidupan sehari-hari. Oleh karena itu, siswa perlu memahaminya dengan baik dan mengaplikasikannya dalam kehidupan.
Cerita yang Berkaitan dengan Catur Asrama
Mengutip dari buku Pendidikan Agama Hindu dan Budi Pekerti SD Kelas V, Made Mardika (2021:53), kata Catur Asrama berasal dari bahasa Sansekerta, yakni Catur yang berarti empat dan Asrama yang berarti pertapaan. Adapun ulasan singkat tentang cerita yang berkaitan dengan Catur Asrama adalah sebagai berikut.
1. Kehidupan Brahmacari Asrama
Kehidupan Brahmacari Asrama berkaitan dengan kegiatan belajar dengan giat. Agar tahapan ini dapat berlangsung dengan baik, maka seorang Sisya atau murid harus dituntun oleh Acarya atau guru yang akan membukakan jalan pengetahuan baginya.
Dalam ajaran Hindu, guru yang utama adalah Hyang Widhi Wasa. Ia juga disebut sebagai Guru Swadhyaya sehingga semua perintah-Nya harus ditaati. Begitu juga semua larangan-Nya yang harus dijauhi.
2. Kehidupan Grhastha Asrama
Tahap kehidupan ini fokus tentang orang tua dalam menjalankan kewajiban rumah tangga. Menurut hukumnya, keluarga yang menganut agama Hindu terikat patrilineal. Jadi, ayah atau suami akan menjadi kepala keluarga dan ibu atau istri akan menjadi tokoh yang membantu kepala keluarga.
Keluarga berpilar suami dan istri mempunyai tugas penting, yakni membangun kebahagiaan dan keharmonisan keluarga. Tujuannya agar bisa tercipta keluarga yang berguna bagi masyarakat, nusa, dan bangsa.
3. Kehidupan Wanaprastha Asrama
Tahap ini dilakukan saat seseorang sudah memiliki anak yang menginjak dewasa sehingga orang tua sudah bebas dari kewajiban berupa tanggungan. Jadi, wanaprasta merupakan fase kehidupan dalam rangka menemukan ketenangan rohani dengan mulai menjauh dari kemewahan atau keterikatan dunia.
4. Kehidupan Bhiksuka Asrama
Pada tingkat ini, seseorang sudah benar-benar matang dalam semadhi dan ketenangannya. Jadi, ia tidak lagi terikat pada kehidupan materi karena yang menjadi tujuan adalah penunggalan dengan Hyang Widhi Wasa melalui pelaksanaan Dharma.
Dalam kehidupan sekarang, kehidupan Bhiksuka Asrama dicontohkan oleh orang suci atau pandita yang sudah lepas dari pengaruh keduniawian.
Baca Juga: Perbedaan Fungsi Candi dalam Agama Hindu dan Agama Buddha
Demikian uraian tentang cerita yang berkaitan dengan Catur Asrama. Semoga bermanfaat. (Anne)
