Konten dari Pengguna

Contoh Materi Kultum Ramadhan Singkat tentang Cara Rasulullah Berpuasa

Berita Terkini

Berita Terkini

Penulis kumparan

·waktu baca 7 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Berita Terkini tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi kultum Ramadhan tentang Rasulullah berpuasa. Foto: unsplash.com/davidlaws
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi kultum Ramadhan tentang Rasulullah berpuasa. Foto: unsplash.com/davidlaws

Ketika bulan Ramadhan datang, kultum menjadi salah satu kegiatan yang intens dilakukan. Misalnya sebelum shalat tarawih maupun setelah shalat subuh. Kultum menjadi media dakwah yang ada sejak zaman dahulu. Bagi Anda yang secang mancari contoh materi kultum Ramadhan singkat tentang cara Rasulullah berpuasa, simak selengkapnya dalam ulasan berikut.

Contoh Materi Kultum Ramadhan Singkat tentang Cara Rasulullah Berpuasa

Sebelum masuk ke pembahasan materi kultum, kita perlu mengetahui arti dari kata kultum.

Kultum sering kali disebut sebagai kuliah tujuh menit. Hal ini disebabkan karena durasi ceramah yang singkat, berkisar tujuh menit.

Berdasarkan buku Kumpulan Kultum, Ceramah, dan Pidato: Berkaca Pada Jiwa karya Prito Windiarto (2020), kultum biasa berisi tentang nasehat maupun ajaran kebaikan dalam agama Islam. Kultum dapat disampaikan secara serius, tetapi bisa juga disampaikan secara santai dan menghibur.

Adapun contoh materi kultum Ramadhan singkat tentang cara Rasulullah SAW berpuasa yang dilansir dari laman tongkronganislami yakni:

Ilustrasi menyampaikan kultum Ramadhan tentang cara Rasulullah SAW berpuasa. Foto: unsplash.com/rade_nugroho

Bulan Ramadhan adalah salah satu bulan yang paling dinanti oelh seluruh umat islam di dunia. Di dalamnya, dianjurkan untuk memperbanyak amal ibadah karena segala pahala yang dikerjakan akan dilipatgandakan.

Salah satau ibadah utama bulan ramadhan yang harus diperhatikan adalah puasa sebulan penuh. Bila dilakukan dengan sempurna akan mendapatkan gelar maupun predikat takwa seperti yang dijanjikan oleh Allah SWT dalam Q.S Al-Baqarah ayat 183.

Untuk menggapai predikat tersebut, seorang muslim harus berupaya memperhatikan etika dalam menjalankannya, termasuk mengikuti segala anjuran yang diperintakan rasulullah SAW dalam hadis-hadisnya.

Petunjuk puasa dari Nabi SAW adalah petunjuk yang paling sempurna, paling mengena dalam mencapai maksud, serta tips paling mudah penerapannya bagi segenap jiwa. Di antaranya ada yang wajib dan ada pula yang sunnah. Berikut beberapa diantaranya:

1. Mengakhirkan Sahur

Berupaya sedapat mungkin untuk sahur dan menundanya hingga di pengujung waktunya. Rasulullah SAW bersabda: “Makan sahurlah kamu, karena sahur itu mengandung berkah.” (HR. Bukhari no. 139)

Jadi, sahur adalah makanan yang penuh dengan berkah dan sekaligus menyalahi kebiasaan Ahlul Kitab (baca: perintah sahur). Dan sebaik-baik makanan sahur adalah kurma. (HR. Abu Daud no. 2345)

2. Menyegerakan Berbuka

Etikan Berpuasa yang kedua adalah segera berbuka (bila telah sampai waktunya), karena Rasulullah bersabda: “Orang-orang akan masih mendapat kebajikan selagi mereka segera berbuka.” (HR. Bukhari no. 198)

Dan ifthar (berbuka) dengan memakan beberapa buah ruthab (kurma basah) sebagaimana disebutkan di dalam hadits Anas ia menuturkan: “Rasulullah itu biasanya berbuka sebelum melakukan shalat dengan makan beberapa ruthab, dan jika tidak ada ruthab maka kurma kering, dan jika tidak ada kurma kering, maka beliau meneguk beberapa teguk air minum.” (HR. At-Tirmidzi 3/79)

Dan sesudah ifthar hendaknya mengucapkan bacaan seperti yang disebutkan di dalam hadits Ibnu Umar ra bahwasanya Nabi SAW apabila telah berbuka mengucapkan: “Hilanglah dahaga, urat-uratpun menjadi basah dan pahala pun pasti –insya Allah SWT.” (HR. Abu Daud 2/765)

3. Menghindari Rafast

Selanjutnya dalam menjalankan ibadah puasa hendaklah ia Menghindari rafats, karena Rasulullah SAW bersabda: “… Apabila pada hari seseorang di antara kamu berpuasa, maka janganlah ia berbuat rafats ….” (HR. Bukhari no. 1904)

Rafats adalah jatuh di dalam perbuatan maksiat. Nabi SAW juga bersabda: “Barangsiapa yang tidak meninggalkan ucapan dusta dan tetap melakukannya, maka Allah SWT tidak akan menghiraukan orang itu meninggalkan makanan dan minumannya (berpuasa).” (HR. Bukhari no. 1903)

Dan hendaklah orang yang berpuasa meninggalkan semua perbuatan haram, seperti menggunjing, perkataan jorok dan dusta, karena perbuatan haram tersebut dapat menghapus seluruh pahala puasanya; Rasulullah SAW telah bersabda: “Betapa banyak orang yang berpuasa, ia tidak mendapatkan apapun dari puasanya selain rasa lapar belaka.” (HR. Ibnu Majah 1/539)

4. Mengurangi Aktivitas Sia-sia

Dan di antara hal yang dapat mengurangi pahala kebajikan dan mendatangkan dosa-dosa adalah sibuk dengan nonton perlombaan, film-film sinetron, pertandingan, nongkrong-nongkrong yang tidak berguna, mondar-mandir di jalan-jalan bersama-sama rekan-rekan buruk yang suka menyia-nyiakan waktu, mobil-mobilan, berdesak-desakan di trotoar dan lorong-lorong,

Bermalas shalat malam, dzikir dan ibadah–bagi kebanyakan orang menjadi bulan Ramadhan menjadi bulan tidur di siang hari agar tidak merasa lapar yang menyebabkan terabaikannya shalat wajib dan shalat berjama`ah; kemudian di malam hari yang ada hanya senda-gurau dan tengggelam di dalam lembah nafsu syahwat, bahkan sebagian mereka ada yang menyambut bulan Ramadhan dengan keluh-kesah karena akan kehilangan berbagai kelezatan, dan sebagian lagi ada yang bepergian di bulan Ramadhan ke negeri orang-orang kafir untuk menikmati liburan panjangnya!!

Dan yang lebih fatal lagi adalah banyaknya kemunkaran terjadi di masjid, seperti banyaknya wanita yang datang ke masjid dengan tabarruj (perhiasan dan dandanan kecantikan) dan parfum, bahkan Baitullah pun tidak luput dari bencana ini.

Sebagian di antara mereka ada yang menjadikan bulan suci Ramadhan sebagai musim untuk berleha-leha, tidak butuh kepadanya; dan sebagian lagi ada yang bermain dengan sesuatu yang membahayakan seperti petasan dan kembang api; ada juga yang sibuk bertransaksi di pasar dan shoping di swalayan dan super market; dan ada pula wanita-wanita yang sibuk dengan menjahit pakaian dan mengumpulkan berbagai mode pakaian serta mengolek-sinya pada sepuluh hari terakhir di bulan suci Ramadhan yang merupakan hari-hari kemuliaan ramadhan, hingga membuat banyak orang lalai dan tidak sempat untuk meraih pahala dan kebajikan.

5. Menahan Amarah dan Emosi

Hendaknya tidak teriak-teriak, karena Rasulullah SAW bersabda: “Dan jika ada seseorang yang menyerangnya atau memakinya, maka hendaklah ia (orang sedang berpuasa) mengatakan: Aku sedang berpuasa, aku sedang berpuasa.” (HR. Bukhari no. 1894)

Yang pertama (ungkapan: Aku sedang berpuasa) sebagai teguran bagi dirinya sendiri dan yang kedua sebagai teguran bagi lawannya. Orang yang memperhatikan kepada moralitas kebanyakan orang-orang yang berpuasa akan menemukan lawan dari akhlak mulia di atas.

Maka wajib (bagi kita) mengendalikan nafsu dan selalu menjaga ketenangan. Namun yang anda lihat adalah sebaliknya, banyak para sopir yang melintas cepat (dengan mobilnya) di waktu azan Maghrib berkumandang (baca: hukum puasa tapi meninggalkan sholat).

6. Tidak Makan Berlebihan

Etika puasa selanjutnya adalah Tidak terlalu banyak makan, karena hadits mengatakan: “Tiada bejana yang dipenuhi oleh manusia yang lebih buruk daripada perutnya ….” (HR. At-Tirmidzi no. 2380)

Hanyalah orang yang berakal yang makan untuk hidup, bukan hidup untuk makan, dan sebaik-baik makanan adalah yang membantu dan seburuk-buruknya adalah yang menyibukkan. Betapa banyak manusia yang tenggelam di dalam pembuatan berbagai macam makanan, hingga menyita banyak waktu kaum ibu di rumah dan para pembantu sampai membuat mereka lalai beribadah, bahkan uang yang dihabiskan untuk membeli bahan-bahan makanan jauh lebih besar daripada biasanya.

Dengan demikian bulan puasa menjadi bulan memupuk lemak dan berbagai penyakit pencernaan, makan bagaikan orang yang tidak pernah makan dan minum seperti orang yang tidak pernah minum, lalu apabila bangkit untuk shalat lail/tarawih kemalasan pun menyelimutinya, sampai ada sebagian mereka yang meninggalkan shalat tarawih pada raka`at yang pertama.

7. Mendermakan Ilmu, Harta, Kemuliaan, Badan dan Akhlak.

Di dalam Shahih Al-Bukhari-Muslim diriwayatkan dari Ibnu Abbas ra ia berkata: “Rasulullah SAW itu merupakan manusia yang paling dermawan (dengan kebaikan), dan lebih dermawan lagi apabila dibulan Ramadhan ketika beliau ditemui oleh Jibril; Jibril biasanya menemui Nabi pada setiap malam di bulan Ramadhan, di situlah Jibril mentadaruskan Al-Qur’an kepada beliau. Sungguh, Nabi lebih dermawan dengan kebaikan daripada angin yang bertiup kencang.” (HR. Bukhari no. 6)

Memadukan puasa dan memberikan makanan itu merupakan faktor yang menyebabkan pelakunya masuk surga, sebagaimana disabdakan oleh baginda Rasulullah SAW: “Sesungguhnya di surga itu ada kamar-kamar yang luarnya terlihat dari dalam, dan bagian dalam tampak dari luar, yang disediakan oleh Allah SWT bagi orang yang memberikan makanan, memperlembut pembicaraan, menyambung puasa (Ramadhan dengan puasa enam hari Syawal. pent) dan shalat di malam hari di waktu manusia sedang istirahat.” (HR. Ahmad 5/343 dan Ibnu Majah no. 2137)

Dan sabda beliau: “Barangsiapa yang memberi buka puasa kepada seorang yang berpuasa, maka ia memperoleh sebesar pahalanya dengan tidak berkurang sedikitpun pahala orang yang berpuasa itu.” (HR. Tirmidzi 3/171)

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dalam kitab Al-Ikhtibarat Al-Fiqhiyyah (109) menjelaskan: “Yang dimaksud memberinya makanan untuk berbuka puasa adalah sampai orang itu kenyang.”

Orang-orang beriman banyak yang lebih mementingkan kaum fakir miskin dari pada diri mereka sendiri dengan memberikan persediaan buka puasa yang mereka miliki kepada mereka. Seperti Abdullah bin Umar, Malik bin Dinar, Ahmad bin Hanbal dan lain-lain. Dan Abdullah bin Umar tidak berbuka puasa kecuali bersama anak-anak yatim dan orang-orang miskin.

Wallahu a’lam bisshowab

(MZM)