Konten dari Pengguna

Contoh Pantun Minang dengan Tiga Tema Berbeda

Berita Terkini

Berita Terkini

Penulis kumparan

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Berita Terkini tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi Membaca Pantun Minang. Sumber: picjumbo.com-Pexels.com
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Membaca Pantun Minang. Sumber: picjumbo.com-Pexels.com

Berdasarkan Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), pantun adalah bentuk puisi Indonesia (Melayu) yang tiap baitnya terdiri dari empat baris dengan sajak a-b-a-b. Ciri khas dari pantun adalah adanya sampiran atau tumpuan pada baris pertama dan kedua serta isi yang terdapat pada baris ketiga dan keempat. Selaras dengan beragamnya kebudayaan di Indonesia, pantun pun memiliki beragam istilah yang sesuai dengan daerahnya. Contohnya adalah dalam Bahasa Jawa pantun disebut parikan, dalam Bahasa Sunda disebut paparikan, dalam Bahasa Batak disebut umpasa. Selain itu, ada pula pantun lain seperti pantun Betawi dan pantun Minang.

Contoh Pantun Minang

Layaknya pantun yang pernah kita dengar atau baca, pantun Minang juga memiliki tema yang berbeda-beda. Tema tersebut bisa pantun nasihat, sukacita, dukacita, dan sebagainya. Supaya lebih paham tentang gambaran pantun Minang, berikut contoh pantun minang yang dikutip dari buku “Pantun Adat Minangkabau” karya N. M. Rangkoto (1982).

1. Pantun Nasehat yang dikutip dari Pajakumbuh dalam Rangkoto

Baburu ka padang data

Dapeklah ruso balang kaki

Baguru kapalang raja

Bak bungo kambang tak jadi

2. Pantun Berkasih-kasihan yang dikutip dari Pajakumbuh dalam Rangkoto

Ayam kuriak rampaian taduang

Ikua bajelo dalam padi

Ambiak tampruang bari makan

Dalam daerah tujuah kampung

Tuan surang tampaik hati

Nan lain hambo haramkan

Ikan banamo gambo lian

Mudiak manggonggong anak damak

Tuan sapantun gambar bulan

Indah di mato urang banyak

Duduak manyurek di kurisi

Sapantun janang dalam medan

Lakek tak mudah putuih lai

Baitu kasiah pado Tuan

3. Pantun Perceraian yang dikutip dari Pajakumbuh dalam Rangkoto

Kapa si Ali ka Bangkalih

Kapa si Tungga tak kibawan

Tuan ka pai mangaji

Hkmbo tingga tak bakawan

Tagamang aia di jajaran

Tarandam urek padi mudo

Tagamang hambo ditinggakan

Hambo lah Tuan aja manjo

Ilustrasi Rumah Tradisional Minangkabau. Sumber: Flickr

Jika melihat contoh di atas, mungkin akan terbesit rasa bingung sebab biasanya pantun yang kita kenal hanya terdiri dari empat baris bersajak a-b-a-b sebagaimana penjelasan menurut KBBI. Ternyata, ada beragam jenis pantun yang dikenal dalam sastra Indonesia, lho! Ini penjelasannya untuk kamu.

Mengenal Jenis Pantun

Agus Trianto (2006: 21 – 22) dalam bukunya yang berjudul “Pasti Bisa Pembahasan Tuntas Kompetensi Bahasa Indonesia” menjelaskan bahwa ada empat bentuk pantun. Adapun bentuk-bentuk pantun tersebut, yaitu:

1. Pantun Dua Baris, yakni bentuk pantun yang sering kali kita dengar. Baris pertama merupakan sampiran dan baris kedua merupakan isi.

2. Pantun Empat Baris, yakni bentuk pantun yang terdiri dari empat baris dengan baris pertama dan kedua sebagai sampiran serta baris ketiga dan keempat sebagai isi. Ada beragam jenis pantun dari bentuk pantun empat baris. Jenis-jenis tersebut antara lain sebagai berikut.

  • Pantun anak-anak

  • Pantun jenaka

  • Pantun sukacita

  • Pantun kiasan

  • Pantun nasihat

  • Pantun dukacita

  • Pantun budi pekerti

  • Pantun agama

3. Pantun Enam Baris, yakni pantun yang juga biasa disebut sebagai pantun talibun. Baris pertama sampai ketiga adalah sampiran kemudian baris keempat sampai keenam merupakan isi.

4. Pantun Berkait, yakni pantun yang memiliki rangkaian dan saling sambung menyambung. Contohnya adalah larik kedua dan keempat bait pertama akan kembali muncul sebagai larik pertama dan ketiga bait berikutnya. Hal ini memiliki tujuan untuk menunjukkan keterkaitan antarpantun.

Menurutmu bagaimana penjelasan seputar pantun kali ini? Jadi, sekarang tak perlu bingung bila menjumpai pantun dengan dua baris, empat baris, atau lebih, ya! (AA)