Contoh Pepatah Minang Tentang Perasaan yang Menyentuh Hati

Penulis kumparan
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Berita Terkini tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Contoh Pepatah Minang tentang perasaan dikenal sebagai ungkapan kiasan tentang perasaan yang mengandung nilai filosofi yang dalam sehingga dapat dimaknai dalam hidup. Mengutip dari buku Pengantar Sastra Rakyat Minangkabau, Edwar Jamaris (2002: 31), pepatah dalam budaya Minangkabau kerap pula disebut dengan petatah-petitih yang serupa dengan peribahasa dalam sastra lama bahasa Indonesia.
Petatah-petitih dapat diartikan sebagai ungkapan yang mengandung pengertian dalam, luas, halus, dan sifatnya kiasan. Fungsi utama dari pepatah Minangkabau itu pada dasarnya dikemukakan untuk memberi nasihat serta pelajaran bagi generasi muda Minang secara tersirat.
Pemberian nasihat melalui petatah-petitih banyak dianggap sebagai ciri kebijaksanaan dari rakyat Minang, sebaliknya seseorang yang dapat menerima petatah-petith tersebut dianggap pula sebagai ciri kearifan orang Minangkabau.
Contoh Pepatah Minang tentang Perasaan yang Berisi Nasihat Menyentuh
Minangkabau atau Minang merupakan suku bangsa di Indonesia yang masih sangat memegang erat adat istiadat dan budaya daerahnya. Oleh karenanya masyarakat Minang kerap kali mengungkapkan nasihat pada generasi muda melalui petatah-petitih.
Adapun contoh dari pepatah Minang tentang perasaan yang sarat nasehat berikut ini bisa kita maknai dalam hidup:
Tidak hilang balang dibawo manyubarang. Artinya: Janganlah merasa malu mengerjakan pekerjaan yang rendah
Anak ikan dimakan ikan, gadang ditabek anak tenggiri. Ameh bukan perakpun bukan, budi saketek rang haragoi. Artinya: Hubungan yang erat sesama manusia bukan karena emas dan perak, tetapi lebih diikat budi yang baik.
Alu tataruang patah tigo, samuik tapijak indak mati. Artinya: Sifat seseorang yang tegas bertindak atas kebenaran dengan penuh bijaksana
Anak-anak kato manggaduah, sabab manuruik sakandak hati, kabuik tarang hujanlah taduah, nan hilang patuik dicari. Artinya: Sekarang suasana telah baik, keadaan telah pulih, sudah waktunya menyempurnakan kehidupan.
Anak nalayan mambaok cangkua, mananam ubi ditanah darek. Baban sakoyan dapek dipikua, budi saketek taraso barek. Artinya: Beban yang berat dapat dipikul, tetapi budi sedikit terasa berat.
Alat baulah jo bapatuik makanan banang siku-siku, kato nan bana tak baturuik ingiran bathin nan baliku. Artinya: Salah satu ciri-ciri rusaknya mental seseorang adalah, dia enggan ketika ada orang yang mengajaknya tentang kebaikan. Seakan-akan hati dan pikirannya telah diracuni oleh keburukan-keburukan.
Bak sibisu barasian, takana lai takatokan indak. Artinya: Seseorang yang tidak sanggup menyebut dan mengemukakan kebenaran, karena mempunyai keragu-raguan dalam pengetahuan yang dimiliki.
Bak mahambek aia hilia, bak manahan gunuang runtuah.Artinya: Mengerjakan suatu pekerjaan berat yang harus dikerjakan bersama, dikerjakan sendirian, dan tidak mempunyai keahlian pula tentang itu.
Bak api didalam sakam, aia tanang mahannyuikkan. Artinya: Seseorang yang mempunyai dendam diluar tidak kelihatan, tetapi setelah terjadi kejahatan saja baru diketahui.
Itulah beberapa contoh pepatah Minang tentang perasaan yang penuh nasihat untuk dimaknai dan diaplikasikan dalam kehidupan guna kita bisa menjadi pribadi yang lebih baik. Semoga bermanfaat! (HAI)
