Konten dari Pengguna

Contoh Pidato Tahun Baru Islam, Merayakan dengan Meneladani Sang Nabi

Berita Terkini

Berita Terkini

Penulis kumparan

·waktu baca 5 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Berita Terkini tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi pidato tahun baru Islam. Foto: unsplash.com/kanereinholdtsen
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi pidato tahun baru Islam. Foto: unsplash.com/kanereinholdtsen

Sebentar lagi tahun baru Islam akan segera tiba. Dalam memperingati kedatangan tahun baru 1444 Hijriah, umat Islam berbondong-bondong untuk memperbanyak amalan sunnah, mulai dari puasa, banyak berdzikir, berdoa kepada Allah SWT, dan lainnya. Selain itu, dalam menyambut kedatangan tahun baru juga diadakan acara keagamaan dan pidato menjadi hal yang tidak bisa ditinggalkan.

Berikut adalah contoh pidato tahun baru Islam tentang merayakan dengan meneladani Nabi Muhammad SAW yang bisa dijadikan referensi.

Contoh Pidato Tahun Baru Islam, Merayakan dengan Meneladani Sang Nabi

Dikutip dari buku Sejarah Pembentukan Kalender Hijriyah karya Ahmad Sarwat, Lc., MA (2018:5), tahun baru Islam atau yang dikenal sebagai tahun baru Hijriah adalah sebuah kalender yang keluarkan pada masa kepemimpinan Umar bin Khatab.

Penanggalan Hijriah digunakan sebagai kelancaran sistem kenegaraan. Awal dari penanggalan Hijriah sendiri bukan dari kelahiran Nabi Muhammad SAW, namun berdasarkan pada hijrahnya beliau dan kaumnya dari Makkah ke Madinah. Hal inilah yang membuat tahun Hirjiah sangat spesial.

Adapun contoh pidato tahun baru Islam, Merayakan dengan meneladani Sang Nabi yakni :

Ilustrasi berpidato merayakan tahun baru Islam. Foto: unsplash.com/utsmanmedia

Bismilahirrahmanirrahim,

Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

Alhamdulillahi rabbil ‘alamin wa bihi nasta’in wa ‘ala umurid dunya wad din. Wa shatu wa salam ‘alla sayyidina wa maulana Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Pertama-tama marilah kita panjatkan puji dan syukur kehadirat Allah SWT, karna atas rahmat dan karunia-Nya lah, kita semua masih diberi kelancaran dan kesempatan sehingga kita bisa bersilaturahmi di acara yang di muliakan oleh Allah SWT Kemudian shalawat serta salam semoga tetap tercurah limpahkan kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Hadirin yang dimuliakan Allah.

Waktu mengalir terus dan tanpa terasa kita sampai kepada pergantian tahun hijriah untuk kesekian kalinya. Detik menuju menit, jam, hari, bulan, hingga tahun senantiasa bergerak maju yang berarti semakin bertambah pula usia manusia. Yang perlu menjadi catatan adalah apakah bertambah pula keberkahan usia kita? Ini pertanyaan singkat dan hanya bisa dijawab dengan merefleksikan secara panjang-lebar jejak perjalan hidup kita yang sudah lewat.

Perlu diketahui, Nabi sendiri tak pernah menetapkan kapan tahun baru Islam dimulai. Begitu pula tidak dilakukan oleh khalifah pertama, Abu Bakar ash-Shiddiq. Awal penanggalan itu resmi diputuskan pada era khalifah kedua, Umar bin Khathab, sahabat Nabi yang terkenal membuat banyak gebrakan selama memimpin umat Islam.

Memilih momen hijrah daripada momen kelahiran Nabi yang dilakukan Umar dan para sahabat lainnya mengandung makna yang sangat dalam. Kelahiran yang dialami manusia adalah peristiwa alamiah yang tak bisa ditolaknya. Nabi Muhammad pun saat lahir tak serta merta diangkat menjadi nabi kecuali setelah berusia 40 tahun. Beliau kala itu hanyalah bayi putra Abdullah bin Abdul Muthalib. Hal ini berbeda dari hijrah yang mengandung tekad, semangat perjuangan, perencanaan, dan kerja keras ke arah tujuan yang jelas terealisasinya nilai-nilai kemanusiaan universal yang berlandaskan asas ketuhanan dalam Islam rahmatan lil ‘alamin.

Nabi memutuskan hijrah setelah melalui proses panjang selama 13 tahun di Makkah dengan berbagai tantangan dan jerih payahnya. Mula-mula beliau berdakwah secara tersembunyi, dimulai dari keluarga, orang-orang terdekat, dan pelan-pelan lalu kepada masyarakat luas secara terbuka. Selama itu, Rasulullah SAW mendapat cukup banyak rintangan, mulai dari dicaci-maki, dilempar kotoran unta, kekerasan fisik, hingga percobaan pembunuhan. Semua dilalui dengan penuh kesabaran dan kebijaksanaan. Modal utama hingga hingga beliau berhasil menyadarkan sejumlah orang adalah akhlak mulia.

Mula-mula yang dilakukan Nabi setelah hijrah adalah mengubah nama dari Yatsrib menjadi Madinah. Mengapa Madinah yang sekarang dimaknai sebagai kota? Secara bahasa Madinah berarti tempat peradaban. Perubahan nama ini memberi pesan tentang pergeseran pola perjuangan Nabi yang semula di Makkah banyak dipusatkan pada penyadaran pribadi-pribadi, menuju dakwah dalam konteks sosial yang terorganisisasi dalam negara Madinah.

Di sini konstitusi berdasarkan mitsaq al-madinah atau Piagam Madinah dibangun, struktur pemerintahan disusun, dan aturan-aturan Islam seputar muamalah atau hubungan antar sesama banyak dikeluarkan di sana. Tentang Piagam Madinah, Nabi menjadikannya sebagai titik temu dari masyarakat Madinah yang plural saat itu, yang meliputi orang Muslim, orang Yahudi, suku-suku di Madinah, dan lain-lain. Demikianlah hijrah Nabi yang monumental itu seperti mendapatkan momentum puncaknya, yakni terwujudnya masyarakat yang beradab.

Hadirin yang dirahmati Allah SWT

Dari kisah hijrahnya Nabi Muhammad SAW, setidaknya terdapat dua poin yang patut digaris bawahi.

Pertama

Tahun baru Hijriah dimaknai sebagai kerangka perjuangan Nabi dalam merealisasikan nilai-nilai kemanusiaan berlandaskan asas ketuhanan dalam Islam rahmatan lil ‘alamin. Nabi Muhammad SAW sebagai sosok yang memang layak dihormati, tapi ada yang lebih penting lagi yakni perjuangan dan prestasi beliau. Dalam perjuangan itu ada ikhtiar, pengorbanan, keteguhan prinsip, keseriusan, kesabaran, dan keikhlasan.

Kedua

Nabi Muhammad SAW tidak membangun negara berdasarkan keinginan dirinya, kelompok, atau suku. Beliau menginisasi terciptanya kesepakatan bersama kepada seluruh penduduk Yatsrib untuk kepentingan jaminan kebasan beragama, keamanan, penegakan akhlak mulia, dan persaudaraan antar anggota masyarakat. Tujuan dari kesepakatan tersebut masih bisa kita terapkan hingga sekarang. Inilah hijrah yang tak hanya bermakna secara pindah tempat, melainkan juga pindah orientasi, dari yang buruk menjadi yang baik, dari yang baik menjadi lebih baik. Nabi Muhammad SAW juga meneladankan perubahan tak hanya untuk dirinya sendiri tapi juga untuk masyarakat secara kolektif.

Semoga dengan pergantian tahun baru 1444 Hijriah ini dapat menambah ketakwaan kita kepada Allah SWT dan Nabi Muhammad SAW agar kita dapat menerapkan arti dari hijrah yang sebenarnya.

Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Demikianlah contoh pidato tahun baru Islam yang bisa Anda gunakan sebagai referensi. Semoga bermanfaat.(MZM)