Konten dari Pengguna

Contoh Puisi Karya Chairil Anwar yang Penuh Makna

Berita Terkini

Berita Terkini

Penulis kumparan

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Berita Terkini tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi puisi karya Chairil Anwar yang penuh makna, sumber foto Olia Gozha on Unsplash
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi puisi karya Chairil Anwar yang penuh makna, sumber foto Olia Gozha on Unsplash

Chairil Anwar merupakan salah satu seniman yang banyak menciptakan karya-karya dalam bentuk puisi dengan penuh makna dan sarat arti. Banyak puisi yang diciptakannya sangat populer dan dijadikan rujukan atau referensi dalam membuat sebuah puisi. Chairil Anwar sendiri memiliki banyak puisi-puisi yang diciptakannya selama masih hidup salah satu puisinya yang membuat namanya menjadi melejit adalah puisi dengan judul Si Binatang Jalang. Kali ini akan kita ulas mengenai puisi karya Chairil Anwar yang penuh makna.

Contoh Puisi Karya Chairil Anwar

Ilustrasi puisi karya Chairil Anwar yang penuh makna, sumber foto Mikołaj on Unsplash

Sebelumnya mari kita lihat terlebih dahulu sebenarnya siapa Chairil Anwar, dikutip dari Buku Seri Tempo: Chairil Anwar, (2016) dijelaskan bahwa Chairil Anwar adalah salah satu pemuda yang berasal dari Medan, Sumatera Utara. Pemuda kelahiran 26 Juli 1922 tersebut menjadi salah putra Bupati Indragiri, Riau yang dikabarkan tewas dalam pembantaian Rengat.

Bahkan Chairil Anwar juga tercatat memiliki hubungan persaudaraan dengan Perdana Menteri pertama Indonesia, yaitu Sutan Syahrir. Dari namanya saja sudah bukan orang sembarangan, namun bukan dari dunia politik namanya menjadi besar namun lewat karya-karyanya dalam bentuk puisi yang membuatnya terkenal hingga saat ini meski sudah wafat.

Berikut adalah beberapa contoh puisi karya Chairil Anwar yang penuh makna dikutip dari buku Tiga Menguak Takdir karya Chairil Anwar, Rivai Apin dan Asrul Sani, (1950).

Catetan Tahun 1946

Ada tanganku, sekali akan jemu terkulai,

Mainan cahya di air hilang bentuk dalam kabut,

Dan suara yang kucintai kan berhenti membelai.

Kupahat batu nisan sendiri dan kupagut.

Kita-anjing diburu-hanya melihat sebagian dari sandiwara sekarang

Tidak tahu Romeo & Juliet berpeluk di kubur atau di ranjang

Lahir seorang besar dan tenggelam beratus ribu

Keduanya harus dicatet, keduanya dapat tempat.

Dan kita nanti tiada sawan lagi diburu

Jika bedil sudah disimpan, cuma kenangan berdebu,

Kita memburu arti atau diserahkan pada anak lahir sempat,

Karena itu jangan mengerdip, tetap dan penamu asah,

Tulis karena kertas gersang, tenggorokan kering sedikit mau basah!!

Gintaku Jauh di Pulau

Cintaku jauh di pulau,

gadis manis, sekarang iseng sendiri

Perahu melancar, bulan memancar

di leher kukalungkan olé-olé buat si pacar

angin membantu, laut terang, tapi terasa

aku tidak "kan sampai padanya.

Di air yang tenang, di angin mendayu

di perasaan penghabisan segala melaju

Ajal bertahta, sambil berkata:

“Tujukan perahu ke pangkuanku saja."

Amboi! Jalan sudah bertahun kutempuh!

Perahu yang bersama kan merapuh!

Mengapa Ajal memanggil dulu

Sebelum sempat berpeluk dengan cintaku?!

Manisku jauh di pulau,

Kalau ku mati, dia mati iseng sendiri.

Demikian adalah contoh puisi Chairil Anwar yang penuh makna dan bisa dijadikan sebagai referensi dalam membuat puisi. (WWN)