Contoh Puisi Karya Chairil Anwar yang Penuh Makna

Penulis kumparan
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Berita Terkini tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Chairil Anwar merupakan salah satu seniman yang banyak menciptakan karya-karya dalam bentuk puisi dengan penuh makna dan sarat arti. Banyak puisi yang diciptakannya sangat populer dan dijadikan rujukan atau referensi dalam membuat sebuah puisi. Chairil Anwar sendiri memiliki banyak puisi-puisi yang diciptakannya selama masih hidup salah satu puisinya yang membuat namanya menjadi melejit adalah puisi dengan judul Si Binatang Jalang. Kali ini akan kita ulas mengenai puisi karya Chairil Anwar yang penuh makna.
Contoh Puisi Karya Chairil Anwar
Sebelumnya mari kita lihat terlebih dahulu sebenarnya siapa Chairil Anwar, dikutip dari Buku Seri Tempo: Chairil Anwar, (2016) dijelaskan bahwa Chairil Anwar adalah salah satu pemuda yang berasal dari Medan, Sumatera Utara. Pemuda kelahiran 26 Juli 1922 tersebut menjadi salah putra Bupati Indragiri, Riau yang dikabarkan tewas dalam pembantaian Rengat.
Bahkan Chairil Anwar juga tercatat memiliki hubungan persaudaraan dengan Perdana Menteri pertama Indonesia, yaitu Sutan Syahrir. Dari namanya saja sudah bukan orang sembarangan, namun bukan dari dunia politik namanya menjadi besar namun lewat karya-karyanya dalam bentuk puisi yang membuatnya terkenal hingga saat ini meski sudah wafat.
Berikut adalah beberapa contoh puisi karya Chairil Anwar yang penuh makna dikutip dari buku Tiga Menguak Takdir karya Chairil Anwar, Rivai Apin dan Asrul Sani, (1950).
Catetan Tahun 1946
Ada tanganku, sekali akan jemu terkulai,
Mainan cahya di air hilang bentuk dalam kabut,
Dan suara yang kucintai kan berhenti membelai.
Kupahat batu nisan sendiri dan kupagut.
Kita-anjing diburu-hanya melihat sebagian dari sandiwara sekarang
Tidak tahu Romeo & Juliet berpeluk di kubur atau di ranjang
Lahir seorang besar dan tenggelam beratus ribu
Keduanya harus dicatet, keduanya dapat tempat.
Dan kita nanti tiada sawan lagi diburu
Jika bedil sudah disimpan, cuma kenangan berdebu,
Kita memburu arti atau diserahkan pada anak lahir sempat,
Karena itu jangan mengerdip, tetap dan penamu asah,
Tulis karena kertas gersang, tenggorokan kering sedikit mau basah!!
Gintaku Jauh di Pulau
Cintaku jauh di pulau,
gadis manis, sekarang iseng sendiri
Perahu melancar, bulan memancar
di leher kukalungkan olé-olé buat si pacar
angin membantu, laut terang, tapi terasa
aku tidak "kan sampai padanya.
Di air yang tenang, di angin mendayu
di perasaan penghabisan segala melaju
Ajal bertahta, sambil berkata:
“Tujukan perahu ke pangkuanku saja."
Amboi! Jalan sudah bertahun kutempuh!
Perahu yang bersama kan merapuh!
Mengapa Ajal memanggil dulu
Sebelum sempat berpeluk dengan cintaku?!
Manisku jauh di pulau,
Kalau ku mati, dia mati iseng sendiri.
Demikian adalah contoh puisi Chairil Anwar yang penuh makna dan bisa dijadikan sebagai referensi dalam membuat puisi. (WWN)
