Contoh Pupuh Kinanti, Karya Seni Khas Sunda

Penulis kumparan
·waktu baca 2 menit
Tulisan dari Berita Terkini tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Indonesia memiliki berbagai karya seni khas dari daerah-daerah tertentu yang tersebar dari Sabang sampai Merauke. Salah satu karya seni yang menarik untuk diketahui dan dilestarikan adalah pupuh.
Pupuh merupakan karya seni tembang khas Jawa Barat yang memiliki pola kalimat yang baku, atau dapat disebut juga sebagai lagu yang memiliki aturan tertentu dalam baris-baris liriknya dengan jumlah 17 patokan. Dikutip dari buku Pendidikan Musik: Permasalahan dan Pembelajarannya yang ditulis oleh J. Julia (2017: 67), pupuh memiliki beberapa aturan, seperti jumlah baris, jumlah suku kata, dalam baris, huruf vokal dalam suku kata terakhir dalam setiap baris, dan watak setiap pupuh. Jenis pupuh ada sangat banyak.
Nah, salah satu jenis pupuh yang menarik untuk diketahui adalah pupuh kinanti, sebuah karya seni khas Sunda. Artikel kali ini akan membahas lebih lanjut mengenai pupuh kinanti lengkap dengan contohnya.
Mengenal Pupuh Kinanti, Karya Seni Khas Jawa Barat
Dikutip dari buku Masuk Letnan, Keluar Letnan yang ditulis oleh Achmad Roestandi (2008: 7), pupuh kinanti merupakan salah satu jenis pupuh yang terdiri dari 6 bait. Setiap bait pupuh kinanti terdiri dari 8 suku kata, yang secara berturut-turut harus berakhir vokal u-i-a-i-a-i.
Agar lebih paham mengenai pupuh kinanti, berikut salah satu penggalan contoh karya pupuh kinanti beserta terjemahannya dalam bahasa Indonesia:
Nu matak kaula bingung,
Andika ngareunah cicing,
Teu gancang-gancang laporan,
Kaula banget teu ngarti,
Nepi ka aya karaman,
Jeung saha nu wani mingpin
Terjemahan dalam bahasa Indonesia:
Karena itu aku bingung.
Mengapa kalian tenang-tenang saja,
Tidak secepatnya laporan.
Aku sama sekali tidak mengerti,
Mengapa sampai ada perampok,
Serta siapa yang memimpin?
Naha andika bet kitu,
Ireug talingeuh teu ngarti,
Teu ngajaga katengtreman,
Pikeun naon sénapati,
Prajurit katut tamtama,
Gawéna ngan ukur ulin
(Wawacan Pangéran Dipati Ukur I: 53)
Terjemahan dalam bahasa Indonesia:
Mengapa kalian seperti itu,
Teledor, tidak mengerti,
Tidak menjaga kenteteraman?
Untuk apa ada senapati,
Prajurit serta tamtama,
Kerjanya bermain!
Semoga informasi ini bermanfaat! (CHL)
