Dasanamane Gunung dalam Bahasa Jawa

Penulis kumparan
·waktu baca 2 menit
Tulisan dari Berita Terkini tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Indonesia adalah negara kepulauan yang luas dan terdiri dari berbagai suku. Salah satu suku yang berada di negara ini adalah suku Jawa. Suku Jawa memiliki bahasa daerah yaitu bahasa Jawa. Ketika mempelajari bahasa ini, kalian akan mengenal istilah dasanama. Apa dasanamane gunung?
Bahasa daerah menarik untuk dipelajari dan harus dilestarikan agar tidak punah. Simak penjelasan mengenai dasanama berikut ini.
Baca juga: Perkenalan Bahasa Jawa berdasarkan Tingkatannya
Dasanamane Gunung dalam Bahasa Jawa
Sama seperti dalam pelajaran bahasa Indonesia, dalam pelajaran bahasa Jawa juga dikenal relasi makna. Dikutip dari Proyek Keterampilan Menulis Berbahasa Jawa oleh Maruti dan Fitriani (2022), dasanama atau sinonim adalah hubungan semantik yang menyatakan adanya kesamaan makna antara satu satuan ujaran dengan satuan ujaran lainnya.
Hubungan semantik yang dimaksud ini bersifat dua arah, misalnya saja jika ujaran A bersinonim dengan B, maka B bersinonim dengan A.
Contoh:
macak = dandan
mulih = bali
Apa dasanamane gunung? Terdapat beberapa kata yang bersinonim dengan gunung dalam bahasa Jawa sebagai berikut:
ancala
ardi
aldaka
giri
meru
redi
bukita
parwata
prabata
wukir
Relasi Makna
Relasi makna yang terdapat dalam bahasa Jawa bukan hanya dasanama atau sinonim saja. Berikut ini penjelasannya:
Kosokbalen
Kosokbalen, atau dalam bahasa Indonesia disebut sebagai antonimi digunakan untuk makna yang bertentangan. Menurut Tarigan dalam Proyek Keterampilan Menulis Berbahasa Jawa oleh Maruti dan Fitriani (2022), antonimi merupakan kata yang mengandung makna yang berkebalikan atau berlawanan dengan kata lain.
Contoh:
larang >< murah
apik >< ala
Polisemi
Merupakan hubungan makna kata yang memiliki makna lebih dari satu kata. Polisemi juga bisa diartikan sebagai kata yang mempunyai makna berbeda tetapi masih dalam satu alur arti.
Contoh:
Kursi memiliki makna piranti kanggo lungguh dan kalungguhan utawa pangkate sawajining wong.
Bulik tumbas kursi.
Pak Slamet melu kampanye ben oleh kursi caleg.
Homonimi
Merupakan kata-kata yang bentuk, pengucapan, dan tulisannya sama tetapi memiliki makna yang berbeda.
Contoh:
“pucuk”
kang nduweni teges “godhong kang enom”
kang nduweni teges “oyote wit kang digaringake kanggo obat”
Hiponimi
Merupakan bentuk ujaran yang mencakup dalam makna bentuk ujaran lain.
Contoh:
sapi, kebo, wedhus termasuk dalam kewan.
Sekian penjelasan mengenai dasanamane gunung dan relasi makna dalam bahasa Jawa. Semoga bermanfaat. (KRIS)
