Dasar Perhitungan Kalender Hijriah

Penulis kumparan
·waktu baca 2 menit
Tulisan dari Berita Terkini tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Dasar perhitungan kalender hijriah adalah berdasarkan pada siklus sinodis bulan dalam mengelilingi bumi atau rotasi bulan. Kalender hijriah merupakan salah satu kalender yang sering digunakan oleh masyarakat Indonesia.
Berdasarkan buku yang berjudul Mengenal Nama Bulan dalam Kalender Hijriyah, Ida Fitri Shohibah, (2012), kalender hijriah merupakan kalender yang dipakai oleh umat Islam. Disebut dengan kalender hijriah karena dimulai sejak Nabi Muhammad saw hijrah dari Mekkah ke Madinah.
Kalender hijriah mempunyai beberapa perbedaan dengan kalender masehi. Salah satunya, yakni sistem hari atau tanggal di kalender hijriah dimulai setelah magrib terbenam atau ketika memasuki magrib.
Dasar Perhitungan Kalender Hijriah adalah Apa?
Dasar perhitungan kalender hijriah adalah berdasarkan pada siklus sinodis. Berdasarkan buku yang berjudul IPA Fisika: - Jilid 3, Mikrajuddin, (2006:184), hitungan kalender hijriah didasarkan pada sistem peredaran bulan mengelilingi bumi dan peredaran bumi mengelilingi matahari (bulan sinodis).
Anggapan kebanyakan orang bahwa kalender hijriah hanya didasarkan pada peredaran bulan mengelilingi bumi adalah salah. Peredaran bulan mengelilingi bumi merupakan bulan sideris yang lamanya 27 hari.
Kalender hijriah dibuat berdasarkan bulan sinodis. Lama satu bulan rata-rata kalender hijriah adalah 29,530 6 hari (biasa dibulatkan menjadi 29,5 hari). Akibatnya, lamanya satu tahun pada kalender hijriah adalah 29,530 6 × 12 = 354,367 2 hari (biasa dibulatkan menjadi 354 hari).
Perbedaan satu tahun Gregorian dan satu tahun hijriah adalah 365,2425-354,367 2 = 10,875 3 hari (sering dibulatkan 11 hari). Perbedaan ini menyebabkan hari-hari besar Islam muncul lebih cepat 11 hari pada tahun berikutnya.
Hari besar Islam yang semula jatuh pada akhir Desember, tahun berikutnya bergeser pertengahan Desember, kemudian tahun berikutnya di awal Desember, tahun berikutnya lagi di akhir November. Demikian seterusnya.
Kalender hijriah tidak mengenal tahun kabisat. Jumlah hari satu tahun tetap 354 hari. Lama bulan tertentu tidak selalu tetap 29 hari atau 30 hari. Bisa jadi pada tahun ini bulan Muharam lamanya 29 hari dan tahun depan lamanya 30 hari.
Begitu juga bulan Ramadan, bisa jadi tahun ini lamanya 29 hari dan tahun depan lamanya 30 hari. Oleh karena itu, lama puasa umat Islam di bulan Ramadan bisa 29 hari atau 30 hari.
Baca juga: Kalender Liturgi November 2024 serta Daftar Bacaannya
Itulah uraian yang menjelaskan bahwa dasar perhitungan kalender hijriah adalah berdasarkan pada siklus sinodis bulan dalam mengelilingi bumi atau rotasi bulan. (Adm)
