Fakta dan Legenda di Balik Jembatan Siti Nurbaya di Padang

Penulis kumparan
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Berita Terkini tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Jembatan Siti Nurbaya adalah salah satu jembatan di Kota Padang yang cukup terkenal. Ternyata, ada cerita di balik jembatan yang membentang di atas Sungai Batang Arau ini.
Bahkan, terdapat fakta dan legenda dari Jembatan Siti Nurbaya. Hal ini tak terlepas dari kepopuleran novel Kasih Tak Sampai karangan pujangga Melayu bernama Marah Rusli yang menceritakan kisah cinta dari Siti Nurbaya.
Fakta dari Jembatan Siti Nurbaya
Jembatan Siti Nurbaya dibangun pada tahun 1995. Pembangunan jembatan ini menghabiskan biaya sebesar Rp 19,8 dari Anggaran Pemerintah dan Belanja Daerah (APBD) bersama Overseas Economic Cooperation Fund (OECF).
Jembatan ini diresmikan pada pertengahan tahun 2002 dengan dihadiri oleh pemeran drama TV Siti Nurbaya, yakni HIM Damsyik, Novia Kolopaking, dan Gusti Randa.
Letak yang strategis membuat Jembatan Siti Nurbaya menjadi salah satu destinasi wisata masyarakat Kota Padang. Jika dilihat dari sisi barat akan terlihat panorama dari Samudera Hindia. Sedangkan jika dilihat dari sisi timur akan terlihat keindahan Bukit Barisan.
Lampu-lampu yang menghiasi tepi Jembatan Siti Nurbaya juga menambah keindahan di malam hari. Pantulan sinar lampu di permukaan Sungai Batang Berau ditambah perahu nelayan yang lalu lalang membuat kesan romantis.
Legenda Jembatan Siti Nurbaya
Penamaan Siti Nurbaya pada jembatan ini berasal dari sebuah kisah memorable dari novel Kasih Tak Sampai oleh Marah Rusli. Berdasarkan buku Sejarah untuk SMA/MA Kelas XI Bahasa yang ditulis oleh H. Purwana, dkk (2007), novel ini mengisahkan tentang pasangan bernama Samsul Bahri dan Siti Nurbaya.
Mereka adalah teman satu sekolah di Kota Padang yang hidup bertetangga. Menjelang kelulusan, mereka bertamasya ke gunung. Di situlah Syamsul Bahri dan Siti Nurbaya saling mengungkapkan rasa cintanya dan berjanji untuk sehidup semati.
Namun, ayah dari Siti Nurbaya yang bernama Baginda Sulaiman bangkrut karena usahanya dicurangi oleh Datuk Maringgih. Untuk menutup utangnya, Baginda Sulaiman terpaksa menyerahkan Siti Nurbaya untuk diperistri Datuk Maringgih.
Saat menjenguk Baginda Sulaiman yang sakit keras, Syamsul Bahri bertemu dengan Siti Nurbaya dan berjanji untuk menemuinya di malam hari.
Tanpa sepengetahuan mereka, Datuk Maringgih mengawasi pertemuan antara Syamsul Bahri dan Siti Nurbaya. Mengetahui hubungan mereka, Datuk Maringgih marah dan meracuni Siti Nurbaya dan membuatnya tewas.
Mendengar kematian kekasihnya, Syamsul Bahri bergabung dengan pasukan Belanda untuk membalaskan dendamnya dengan Datuk Maringgih. Pada suatu hari, pasukan Belanda menyerang wilayah Datuk Maringgih karena enggan membayar upeti.
Sehingga, terjadi peperangan dari kedua kubu dan berakhir tragis dengan keduanya saling membunuh satu sama lain.
Jenazah Siti Nurbaya dimakamkan di gunung di samping muara Sungai Batang Arau. Inilah yang membuat jembatan yang dibangung di atas Sungai Batang Arau dinamakan Jembatan Siti Nurbaya.
Baca Juga: Cerita Siti Nurbaya Jadi Romeo dan Juliet Khas Indonesia
Ternyata, terdapat fakta dan legenda yang menarik dari penamaan jembatan Siti Nurbaya yang ada di atas Sungai Batang Arau. Jika suatu saat berkunjung ke Padang, jangan lupa mampir ke jembatan ini, ya! (MZM)
