Konten dari Pengguna

Jawaban TTS Santai Level 25: Menduplikatkan Makhluk Hidup

Berita Terkini

Berita Terkini

Penulis kumparan

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Berita Terkini tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi jawaban tts santai. Foto: unsplash.com/rosssneddon
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi jawaban tts santai. Foto: unsplash.com/rosssneddon

Permainan TTS sangatlah mengasyikan dalam mencari jawaban. Pasalnya, kita bisa menguji kemampuan dan juga menambah wawasan. Misalnya bermain dalam aplikasi TTS Santai. Salah satu pertanyaan yang mengasah kemampuan kita ada pada level 15, yakni menduplikat makhluk hidup adalah kloning. Apa itu kloning?

Pengertian Kloning

Mengutip buku Hukum dan Bioetik Dalam Perspektif Etika Dan Hukum Kesehatan oleh Prof. Dr. H. Indar, S.H., M.P.H., dkk (2019:85), kloning menurut bahasa adalah berasal dari bahasa Yunani, yaitu clone atau klon yang berarti kumpulan sel turunan dari sel induk tunggal dengan reproduksi aseksual. Sedangkan secara istilah kloning adalah teknik membuat keturunan dengan kode genetik yang sama dengan sel induknya tanpa diawali proses pembuahan sel telur atau sperma tapi diambil dari inti sebuah sel pada makhluk hidup tertentu baik berupa tumbuhan, hewan maupun manusia.

Secara historis, Ian Wilmut dari Roslin Institute, Inggris, berhasil melakukan kloning domba. DNA dari sebuah sel dari puting susu domba digabungkan dengan sebuah sel telur (Ovum). Ternyata ovum yang ditempeli DNA ini mampu membelah diri untuk selanjutnya menjadi embrio. Dari kloning ini lahirlah domba tanpa ayah yang dinamai "Dolly". Domba ini memiliki karakteristik yang sama dengan induknya.

Penelitian tersebut mengilhami penelitian yang lebih “gila” lagi, yakni kloning pada manusia. Apabila kloning sukses, peradaban manusia pasti akan berubah secara besar-besaran. Maka dari itu, kloning pada manusia telah secara resmi dilarang oleh hukum dan kode etik kedokteran.

IIlustrasi hasil kloning. Foto: unsplash.com/weareambitious

Macam-Macam Kloning

Secara umum, kloning terdiri dari tiga macam, yakni:

Kloning Tumbuhan

Kloning pada tumbuhan yaitu mencangkok atau menyetek tanaman untuk mendapatkan tanaman yang memiliki sifat persis seperti indukya.

Kloning Hewan

Kloning pada hewan adalah pengambilan inti sel dari tubuh hewan yang digunakan untuk menghasilkan keturunan identik secara genetik. Artinya, hewan kloningan merupakan duplikat persis dengan induknya.

Kloning Manusia

Kloning pada manusia terdiri dari dua macam, yakni kloning manusia dapat berlangsung adanya laki-laki dan perempuan dalam prosesnya. Proses ini dilaksanakan dengan mengambil sel dari tubuh laki-laki dan diambil selnya untuk kemudian digabungkan dengan sel telur perempuan yang telah dibuahi inti selnya. Setelah bergabung, sel telur dengan inti sel tubuh laki-laki akan ditransfer ke dalam rahim agar dapar berkembang dan menghasilkan janin.

Cara kedua adalah kloning manusia berlangsung antara perempuan saja tanpa memerlukan kehadiran laki-laki. Proses ini dilaksanakan dengan mengambil sel dari tubuh seorang perempuan yang kemudian inti selnya diambil dan digabungkan dengan sel telur perempuan yang dibuang inti selnya. Sel telur ini lalu ditransfer ke dalam rahim perempuan agar berbuah dan menghasilkan janin.

Dampak Positif dan Negatif Kloning

Sebagai salah satu teknologi yang cukup kontroversi, kloning memiliki dampak positif dan negatif, yakni:

Dampak Positif

  • Menyelamatkan spesies secara genetik yang akan punah secara teratur.

  • Embrio dapat disimpan dalam waktu yang lama.

  • Perkembangan ilmu pengetahuan, diagnostik, dan terapi.

Dampak Negatif

  • Menciptakan spesies baru yang bertentangan dengan nilai kemanusiaan.

  • Kemungkinan terjadinya kekacauan dalam kekerabatan dan identitas diri.

  • Munculnya pewarisan sifat mitokondria dan modifikasi epigenetik yang tidak diinginkan.

Teknologi memudahkan hampir segala sektor kehidupan manusia. Akan tetapi apabila tidak ditindak secara bijak, teknologi dapat menimbulkan kekacauan. Maka dari itu, adanya pembatasan bukan untuk membatasi kemampuan para ilmuan, akan tetapi mengurangi dampak negatif dari hasil-hasilnya yang berdampak pada kehidupan makhluk hidup.(MZM)