Jyotisa dalam Kearifan Lokal Hindu di Indonesia yang Masih Digunakan

Penulis kumparan
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Berita Terkini tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Agama Hindu merupakan salah satu agama yang ada di Indonesia. Salah satu hal yang diajarkan dalam agama Hindu adalah astronomi atau disebut dengan jyotisa. Umat Hindu perlu mengetahui jyotisa dalam kearifan lokal Hindu di Indonesia yang masih digunakan.
Agama Hindu sebagai agama yang fleksibel dan universal, memberikan kebebasan kepada umatnya untuk menentukan cara hidup beragama. Cara hidup beragama umat Hindu tidak terlepas dari pedoman dasar beragama yang sudah ditentukan.
Jyotisa dalam Kearifan Lokal Hindu di Indonesia
Ketahui jyotisa dalam kearifan lokal Hindu di Indonesia yang masih digunakan melalui ulasan berikut ini.
Berdasarkan jurnal Teologi Hari: Analisa Teologi Kritis Terhadap Waktu dalam Lontar Aji Swamandala, Wasudewa Bhattacarya, dkk., (2019:4), jyotișa merupakan pustaka suci yang menguraikan tentang peredaran tata surya, bulan dan badan angkasa lainnya yang diyakini memiliki pengaruh dalam pelaksanaan Yajña.
Melalui pustaka jyotisa ini, umat Hindu dapat mengetahui pengaruh benda-benda langit terhadap kehidupan manusia pada setiap harinya.
Benda-benda langit tersebut dapat memiliki pengaruh yang baik maupun pengaruh yang buruk terhadap kehidupan di bumi. Pustaka jyotisa ini menjadi petunjuk umat Hindu dalam melaksanakan ajaran agama dan upacara yajna sesusai dengan hari baik yang telah ditentukan.
Berdasarkan buku Etnoagronomi Indonesia, Prof. Dr. Ir. Didik Indradena, Dip. Agr. St., (2021:115), sifat kebudayaan Indonesia adalah fleksibel dan elastis karena dapat menerima unsur-unsur kebudayaan luar yang tidak bertentangan dengan kepribadian, guna memperkaya kebudayaan Indonesia, dan pengembangan secara dinamis.
Perkembangan agama Hindu di Indonesia tidak lepas dari sejarah daerah asalnya India. Sebelum pengaruh agama Hindu dan Buddha datang, kepercayaan tradisional masyarakat Indonesia telah mengenal pemujaan terhadap unsur-unsur alam termasuk benda-benda angkasa, seperti matahari, bulan, dan bintang.
Pengaruh Hindu yang datang ke Indonesia diperkirakan pada permulaan tarikh Maschi dengan proses kedatangan berlangsung secara damai dan bertahap. Dengan demikian, terjadilah akulturasi kebudayaan Hindu dengan kebudayaan asli Indonesia.
Perhitungan hari-hari di Indonesia pada mulanya sudah ada, kemudian dilengkapi lagi dari pengaruh Hindu. Terjadinya perpaduan kebudayaan seperti terungkap di atas termasuk juga di dalamnya akulturasi ilmu astronomi Indonesia asli dengan ilmu astronomi Hindu (jyotisa).
Hal ini nantinya di Indonesia terutama di Bali dikenal dengan wariga. Dalam ajaran wariga termuat pemilihan waktu atau hari yang baik sebagai pedoman untuk memulai suatu pekerjaan maupun melakukan yadnya. Wariga adalah ilmu tentang perhitungan baik dan buruknya hari.
Melalui ajaran wariga, umat Hindu dituntun mempergunakan waktu sebaik-baiknya. Sebab, hal ini memegang peranan penting dalam kehidupan manusia maupun yang lainnya.
Baca juga: Mengenal Bagian-Bagian Upaweda dan Fungsinya bagi Umat Hindu
Demikianlah uraian tentang jyotisa dalam kearifan lokal Hindu di Indonesia. Dengan memahami ulasan di atas, maka dapat menambah wawasan bagi pembaca. (Adm)
