Konten dari Pengguna

Khutbah Idul Fitri Singkat Tentang Evaluasi Ibadah

Berita Terkini

Berita Terkini

Penulis kumparan

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Berita Terkini tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi Idul Fitri. Foto: dok. https://pexels.com
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Idul Fitri. Foto: dok. https://pexels.com

Hari Raya Idul Fitri merupakan hari besar dalam Islam yang dirayakan oleh selurut Muslim di berbagai penjuru negeri. Maka dari itu, tak heran jika setiap muslim menyambut kedatangan hari Raya Idul Fitri dengan sangat antusias. Dalam perayaan hari besar ini, umat Islam disunnahkan untuk mengikuti sholat Idul Fitri secara berjamaah.

Terdapat khutbah Idul fitri yang juga disampaikan selepas sholat Idul Fitri. Berikut ini adalah khutbah Idul Fitri Singkat tentang evaluasi ibadah yang dapat Anda pahami.

Khutbah Idul Fitri Singkat Tentang Evaluasi Ibadah Untuk Memperbaiki Diri

Setelah sebulan penuh seluruh umat Islam menunaikan puasa, kita akan sampai pada puncak kemenangan pada hari Raya Idul Fitri. Di Hari Raya ini, umat Islam juga tak henti diberi asupan keimanan dari khutbah idul fitri yang disajikan. Berikut ini adalah salah satu contoh khutbah idul fitri singkat tentang bagaimana evaluasi ibadah kita yang dikutip dari buku berjudul Evaluasi Takwa Puasa Ramadhan Kita yang disusun oleh Asep Maulana Rohimat, M.S.I (2019:2-5).

Hadirin Jama’ah Id yang dirahmati Alloh. Di pagi yang cerah ini, kita semua berkumpul dalam sebuah majelis yang sangat dimuliakan Allah, sebuah majelis jam’ah sholat Idul Fitri yang hanya kita lakukan sekali dalam setahun, yaitu setiap tanggal 1 syawal.

Tentunya syari’at sholat idul fitri ini adalah benar-benar sunnah Nabi yang Muakkad, yaitu sholat sunnah yang kuat yang dibuktikan dengan tidak pernahnya Nabi Muhammad melewatkan sholat ini.

Maka alangkah beruntungnya kita semua yang hadir di majelis ini, majelis yang ketika berkumpul umat muslim maka akan berkumpul juga para malaikat yang mendo’akan keberkahan untuk kita semua.

Oleh karena itu marilah kita jadikan majelis ini sebagai momentum kita meningkatkan kualitas takwa kita kepada Allah Subahanahu Wata’ala. Untuk takwa itulah kita juga berpuasa di bulan Ramadhan kemarin selama sebulan penuh.

Firman Allah dalam QS Al Baqarah ayat 183:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

Ayat tadi merupakan ayat yang sangat populer disampaikan oleh para da’i di saat Ramadhan, namun apakah kepopuleran itu berbanding lurus dengan kualitas takwa yang ada dalam diri setiap umat muslim saat ini? Termasuk juga apakah kualitas takwa kita memang betul-betul terbentuk selama bulan Ramadhan kemarin?

Pertanyaan-pertanyaan itulah yang akan kita evaluasi dalam khutbah ini, dengan harapan puasa Ramadhan kemarin yang kita lakukan selama sebulan itu benar-benar menjadikan kita orang bertakwa. Pentingnya evaluasi takwa kita saat ini adalah untuk melihat sejauh mana efektifitas puasa yang telah kita lakukan selama bulan Ramadhan kemarin.

Jangan sampai puasa kita justru termasuk puasanya orang merugi yaitu puasanya orang yang hanya mendapatkan rasa lapar dan haus saja, dan orang-orang tersebut jumlahnya banyak sekali, seperti yang termaktub dalam Hadis Nabi Yang diriwayatkan oleh Ibnu Majah:

“Berapa banyak seorang yang berpuasa tidak ada bagian dari puasanya melainkan lapar dan berapa banyak seorang yang bangun beribadah pada malam hari tidak ada bagiannya dari bangun malamnya kecuali begadang.” HR. Ibnu Majah

Hadirin jama’ah sholat idul fitri yang dirahmati Allah. Sholat Id adalah sholat sunnah muakkad yang sangat dianjurkan pelaksanaannya. Sehingga sangat wajar kalau di setiap tempat sholat id ini akan dipenuhi oleh sekian banyak kaum muslimin dan muslimat.

Namun tahukah hadirin sekalian sholat id ini tidak lebih utama daripada sholat fardhu yang lima waktu, yaitu Isya, Subuh, Dzuhur, Ashar, dan Magrib. Dari sisi fiqh, manusia beriman diwajibkan untuk melaksanakan sholat fardhu lima waktu tersebut, Nabi Muhammad Shalallohu ‘alihi wasallam pernah bersabda yang kemudian diceritakan oleh ‘Ubadah Bin Samit: “Ada lima shalat yang telah diwajibkan oleh Allah kepada seorang hamba. Siapa saja yang mengerjakannya tanpa menyia-nyiakannya dan tidak menganggapnyan remeh, maka baginya di sisi Allah ada janji bahwa Allah akan memasukannya ke Surga. Dan siapa saja yang tidak mengerjakannya, maka baginya di sisi Allah tidak akan ada janji untuk memasukannya ke dalam Surga. Jika Allah berkehendak menyiksanya (maka dia disiksa) dan jika Allah berkehendak mengampuninya (maka dia diampuni). (HR. Perawi yang lima selain Tirmidzi).

Kewajiban Sholat lima waktu merupakan pondasi fundamental bagi kesempurnaan agama seorang muslim. Bagi yang selalu melaksanakan sholat lima waktu ini, maka niscaya bangunan Agamanya akan kokoh, namun jika ada umat muslim yang ternyata masih tidak mau melaksanakan sholat fardhu ini maka hancurlah bangunan agamanya.

Seperti Hadist yang diriwayatkan Baihaqi berikut:

Banyak sekali ancaman kerugian bagi orang-orang yang sengaja meninggalkan sholat fardhu 5 waktu. Diantaranya adalah akan dimasukan oleh Allah ke dalam Neraka Sadar (na'udzubillahi min dzalik) yang disebutkan dalam QS. Mudatstsir [74] : 38-43

كُلُّ نَفۡسِۭ بِمَا كَسَبَتۡ رَهِینَةٌ (38) إِلَّاۤ أَصۡحَـٰبَ ٱلۡیَمِینِ (39) فِی جَنَّـٰتࣲ یَتَسَاۤءَلُونَ (40) عَنِ ٱلۡمُجۡرِمِینَ (41) مَا سَلَكَكُمۡ فِی سَقَرَ (42) قَالُوا۟ لَمۡ نَكُ مِنَ ٱلۡمُصَلِّینَ (43)

Artinya: "Tiap-tiap diri bertanggung jawab atas apa yang telah diperbuatnya, kecuali golongan kanan, berada di dalam surga, mereka tanya menanya, tentang (keadaan) orang-orang yang berdosa, “Apakah yang memasukkan kamu ke dalam Saqar (neraka)?” Mereka menjawab: “Kami dahulu tidak termasuk orang-orang yang mengerjakan Shalat."

Dalam ayat lainnya Allah mengancam kepada orang-orang yang selalu melalaikan sholat dan tidak memberikan makan kepada orang miskin dengan ancaman “celaka", seperti dalam QS. Al Maa'un ayat 4-5:

فَوَيْلٌ لِّلْمُصَلِّيْنَۙ (4)- الَّذِيْنَ هُمْ عَنْ صَلَاتِهِمْ سَاهُوْنَ(5)

Artinya: "Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang shalat, (yaitu) orang-orang yang lalai dari Shalatnya." (QS. Al Maa'un (107] : 4-5)

Evaluasi dari Ramadhan inilah yang harusnya menjadikan kita sebagai umat muslim yang selalu mejaga sholat fardhu 5 waktu. Sehingga kita termasuk orang mukmin yang bahagia dan beruntung, seperti yang disampaikan Allah SWT dalam QS Al Mukminun:

قَدْ اَفْلَحَ الْمُؤْمِنُوْنَ ۙ (1) الَّذِيْنَ هُمْ فِيْ صَلٰو تِهِمْ خَاشِعُوْنَ ....(2) وَالَّذِيْنَ هُمْ عَلٰى صَلَوٰتِهِمْ يُحَافِظُوْنَ ۘ (9)

Artinya: “Sungguh beruntung orang-orang yang beriman (1) yaitu orang-orang yang dalam sholatnya penuh khusyu (2) ... dan orang-orang yang menjaga sholat-sholatnya (9).” QS. Al Mukminun ayat 1, 2 dan 9.

Materi khutbah singkat Idul Fitri tersebut dapat Anda jadikan bahan pelajaran untuk dapat memperbaiki diri, khususnya dari segi ibadah. Semoga bermanfaat. (DA)