Kisah Hidup Mu'adz bin Jabal, Sahabat yang Dicintai Rasulullah SAW

Penulis kumparan
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Berita Terkini tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Kisah sahabat nabi menjadi salah satu pembelajaran umat Muslim, salah satunya adalah Mu’adz bin Jabal. Beliau dikenal sebagai seorang yang membesarkan agama Islam. Selain itu Mu’adz bin Jabal adalah sosok yang pemberani. Untuk mengetahui kisah hidup Mu’adz bin Jabal salah satu sahabat yang dicintai Rasulullah SAW, berikut penjelasannya.
Kisah Hidup Mu'adz bin Jabal, Sahabat yang Dicintai Rasulullah SAW
Sahabat yang bernama Mu’adz bin Jabal bin Amr al-Anshari al-Khazraji al-Madani al-Badri yang kun’yahnya bernama Abu Abdurahman adalah seorang tokoh Islam yang berasal dari kalangan Anshar yang ikut bai’at pada perjanjian Aqabah kedua hingga termasuk assabiqunal aqqalun atau orang yang pertama masuk Islam.
Dikutip dari buku Sirah 60 Sahabat Rasulullah Saw. karya Khalid Muhammad Khalid (2016:104), Mu’adz bin Jabal memiliki kelebihan dan keistimewaan dalam ilmu fiqih atau soal hukum. Keahlian dalam fiqih dan ilmu pengetahuan mencapai taraf yang menyebabkannya berhak menerima pujian dari Rasulullah SAW. Sebagaimana dalam sebuah hadits, Rasulullah SAW bersabda,
“Barangsiapa yang ingin bertanya tentang halal dan haram, maka hendaknya mendatangi Mu’adz bin Jabal.” (HR. Hakim 4/308 no: 5236)
Dalam segi kecerdasan pengetahuan dan keberanian dalam mengemukakan pendapat serta menerapkan hukum-hukum Allah SWT pada orang-orang kafir serta para pengingkar.
Imam Ahmad dalam Musnadnya menjelaskan:
“Mu’adz bin Jabal datang menemui Abu Musa di Yaman, lalu dirinya mendapati disisi Abu Musa ada seseorang, maka beliau bertanya: ‘Siapakah orang ini? seorang Yahudi, dirinya masuk Islam namun murtad kembali menjadi Yahudi, dan sekarang kami ingin dirinya agar masuk Islam kembali, sehingga aku beri waktu dia dua bulan, jelas Abu Musa. Lalu Mu’adz mengatakan: ‘Demi Allah, aku tidak akan duduk hingga kiranya kalian penggal lehernya orang ini’. akhirnya leher orang tersebut pun dipenggal. Beliau berkata: “Allah dan Rasul-Nya yang telah memutuskan akan hal tersebut, bahwa siapa saja yang murtad kembali ke agamanya supaya dibunuh, atau Rasulallah mengatakan:
“Barangsiapa yang mengganti agamanya maka bunuhlah.” (HR Ahmad 36/343-334 no. 22015)”
Pada suatu hari di masa pemerintahan Umar bin Khattab, A’idzullah bin Abdillah masuk dalam masjid bersama beberapa sahabatnya yang terdiri dari 30 orang. Masing-masing menyebutkan hadits yang diterima dari Rasulullah SAW.
Ketika mereka mendapat keraguan terhadap sebuah hadits, terdapat seorang anak muda yang menjadi tanyakan, ia adalah Mu’adz bin Jabal. Bahkan, Umat bin Khattab sendiri sering meminta pendapat dari pemikirannya. Misalnya saja pada sebuah peristiwa di mana beliau mengambil dari pendapat Mu’adz.
Salah satu keutamaan dari Mu’adz adalah menjadi sahabat yang dicintai Rasulullah SAW. Sebagaimana yang dijelaskan dalam sebuah hadits yang dijelaskan oleh Mu’adz yang menceritakan bahwa Nabi Muhammad SAW pernah menggandengan tangannya. Beliau bersabda,
“Wahai Mu’adz, demi Allah aku mencintaimu, demi Allah aku mencintaimu”. Lalu berpesan: “Aku wasiatkan untukmu wahai Mu’adz supaya tidak pernah meninggalkan tiap kali selesai sholat untuk berdo’a: “Ya Allah, berilah aku pertolongan untuk selalu mengingatMu, bersyukur serta baik dalam beribadah.” (HR Abu Dawud no. 1522)”
Demikianlah kisah dari Mu’adz bin Jabal, sosok sahabat Rasulullah SAW yang cerdas namun pendiam. Semoga dengan mengetahui kisahnya, kita semakin bersemangat dalam mencari ilmu dan mengamalkannya. Sebab, ia pernah berkata “Pelajarilah segala ilmu yang kalian sukai, tetapi Allah SWY tidak akan memberi kalian manfaat ilmu sebelum kalian mengamalkannya.”(MZM)
