Kisah Inspiratif Abu Bakar as Siddiq, Sahabat Terdekat Rasulullah

Penulis kumparan
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Berita Terkini tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Abu Bakar as Siddiq adalah salah satu orang yang masuk agama Islam pertama dan menjadi khulafaur rasyidin pertama setelah meninggalnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Selain itu Abu Bakar juga merupakan orang terdekat dan kekasih Rasulullah. Hal tersebut berdasarkan ‘Amru bin Al-‘Ash yang bertanya kepada Rasulullah,
Siapakah orang yang paling engkau cintai? Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, ‘Aisyah.’ Aku bertanya, ‘(Maksudku) dari kaum laki-laki?’ Beliau pun menjawab, ‘Ayahnya (yaitu Abu Bakar)’. Aku bertanya lagi, ‘Kemudian siapa lagi?’ Beliau menjawab, ‘Umar bin Khattab.’ Kemudian beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebutkan beberapa orang yang dicintainya. (HR. Bukhari, no. 3662 dan Muslim, no. 2384)
Selain sebagai sahabat terdekat Rasulullah, Abu Bakar as Siddiq memiliki kisah-kisah yang dapat meninspirasi umat muslim. Berikut kisah inspiratif Abu Bakar as Siddiq sebagai sahabat terdekat Rasulullah.
Baca juga: Inilah Nama Asli Abu Bakar As Siddiq dan Asal Usul Julukannya
Kisah Abu Bakar as Siddiq, Sahabat Terdekat Rasulullah
Mengutip buku berjudul Biografi Abu Bakar Ash-Shiddiq karangan Prof. Dr. Ali Muhammad Ash-Shallabi (2002: 22) Abu Bakar as Siddiq sebelum masuk agama islam memiliki nama Abdul Ka’bah (hamba Ka’bah’) bin Utsman yang kemudian diubah oleh Rasulullah menjadi Abdullah.
Sementara as Siddiq (yang berkata benar) didapatkan setelah membenarkan peristiwa Isra Mi’raj. Dari Aisyah radhiyallahu ‘anha, ia berkata,
“Ketika Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam diperjalanan ke Masjidil Aqsha, maka orang-orang pun mulai memperbincangkannya. Sebagian orang yang sebelumnya beriman dan membenarkannya menjadi murtad, mereka pun datang menemui Abu Bakar Ash-Shiddiq radhiyallahu ‘anhu seraya berkata,
“Apakah engkau mengetahui kalau temanmu mengaku melakukan perjalanan pada malam hari ke Baitul Maqdis?”
Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu bertanya,
“Apakah ia mengatakan seperti itu?” “Iya”, jawabnya.
Abu Bakar berkata,
“Andai ia memang mengatakan seperti itu sungguh ia benar.”
Mereka berkata,
“Apakah engkau mempercayainya bahwa ia pergi semalaman ke Baitul Maqdis dan sudah kembali pada pagi harinya?”
Abu Bakar menjawab,
“Ya, bahkan aku membenarkannya yang lebih jauh dari itu. Aku percaya tentang wahyu langit yang turun pagi dan petang.”
Aisyah mengatakan,
“Itulah mengapa beliau dinamakan Abu Bakar Ash-Shiddiq, orang yang membenarkannya.” (HR. Al-Hakim dalam Al-Mustadrak, 3:65)
Kemudian Allah SWT menyambut dan berfirman akan gelar as Siddiq yang dimilikinya dalam Surat Az Zumar ayat 33 yang artinya
“Dan orang yang membawa kebenaran (Muhammad) dan yang membenarkannya, mereka itulah orang-orang yang bertakwa.”
Abu Bakar as Siddiq merupakan salah satu assabuqunal awwalun, yaitu orang-orang pertama yang masuk Islam dan sahabat Nabi Muhammad saw. Suatu ketika Rasulullah memerintahkan untuk bersedekah. Karena kerendahan hati dan rasa ingin mendapat sebanyak-banyaknya kebaikan dari Allah SWT, Abu Bakar menginfaqkan seluruh hartanya, seperti kata Umar bin Khattab.
Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam memerintahkan kami untuk bersedekah, maka kami pun melaksanakannya. Umar berkata: "Semoga hari ini aku bisa mengalahkan Abu Bakar". Aku pun membawa setengah dari seluruh hartaku. Sampai Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bertanya: "Wahai Umar, apa yang kau sisakan untuk keluargamu?". Kujawab: "Semisal dengan ini". Lalu Abu Bakar datang membawa seluruh hartanya. Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam lalu bertanya: "Wahai Abu Bakar, apa yang kau sisakan untuk keluargamu?". Abu Bakar menjawab: "Ku tinggalkan bagi mereka, Allah dan Rasul-Nya". Umar berkata: "Demi Allah, aku tidak akan bisa mengalahkan Abu Bakar selamanya’” (HR. Abu Dawud dan Tirmidzi)
Selain itu, Abu Bakar adalah orang tersedekat Rasulullah seperti ketika Nabi Muhammad dikejar kaum Quraisy dan bersembunyi dalam gua Tsur. Abu Bakar menangis dan ketakuatan karena baliau mendengar langkah kaki kaum Quraisy. Nabi Muhammad menenangkan Abu Bakar yang kemudian Allah menurunkan wahyunya dalam Surat At Taubah ayat 40 yang artinya,
“Salah seorang dari dua orang ketika keduanya berada dalam gua, di waktu dia berkata kepada temannya: “Janganlah kamu bersedih, sesungguhnya Allah beserta kita”
Selepas meninggalnya Rasulullah, Abu Bakar as Siddiq diangkat menjadi khalifah pertama karena baliau yang diperintahkan untuk menjadi imam ketika Rasulullah jatuh sakit. Selama menjadi khalifah beliau dikenal sebagai pribadi yang rendah hati, jujur dan juga keras ketika melawan pemberontak akan perintahnya.
Kisah Abu Bakar as Siddiq memiliki banyak nilai inspiratif. Seperti mengerahkan seluruh yang beliau miliki untuk beribadah kepada Allah dan percaya akan kebenaran Nabi Muhammad. Nilai-nilai tersebut dapat dijadikan inspirasi umat Islam agar lebih dekat dengan Allah. (MZM)
