Kisah Perjalanan Isra Mi'raj Lengkap, Momen Nabi Muhammad Menembus Langit

Penulis kumparan
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Berita Terkini tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Setiap tahun, umat Muslim memperingati salah satu peristiwa penting dalam agama Islam, yakni Isra Miraj pada tanggal 27 Rajab. Peristiwa ini menjadi sebab datangnya perintah umat Muslim untuk menjalankan shalat lima waktu berasal. Akan tetapi masih banyak umat Muslim yang belum mengetahui kisah perjalanan Isra Mi’raj lengkap sebagai momen Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam menembus langit ketujuh.
Kisah Perjalanan Isra Mi’raj
Dikutip dari buku Kelengkapan tarikh Nabi Muhammad Jilid 1 karya Moenawar Khalil (2001: 377), yang dimaksud dengan Isra merupakan perjalanan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam pada malam tanggal 27 Rajab dari Masjidil Haram (Makkah) menuju Masjidil Aqsa (Yerusallam) dalam waktu satu malam. Sebagaimana firman Allah dalam Surat Al Isra ayat 1 yang artinya,
"Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Al Masjidil Haram ke Al Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.”
Di sisi lain, kata Mi’raj dalam bahasa Arab berarti “tangga” atau “alat untuk naik dari bawah ke atas”. Mi’raj menjadi perjalanan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam dari alam bawah (bumi) tepatnya dari Masjidil Aqsa di Yerusallam ke alam atas (langit) sampai langit dan terakhir sampai ke Sidratul Muntaha.
Ditemani dengan Malaikat Jibril, dalam perjalanannya Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam bertemu dengan para nabi pendahulunya.
Pada langit pertama, beliau bertemu dengan Nabi Adam ‘alaihissallam. Sementara di langit kedua bertemu dengan Nabi Isa ‘alaihissallam. Nabi Yusuf ‘alaihissallam di langit ketiga, Nabi Idris ‘alaihissallam pada langit yang keempat, Nabi Harun ‘alaihissallam di langit yang kelima, dan pada langit yang keenam, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bertemu dengan Nabi Musa ‘alaihissallam.
Pada langit yang ke tujuh, Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam menerima perintah dari Allah SWT untuk melaksanakan shalat sebanyak 50 sehari semalam. Saat hendak turun, Nabi Musa ‘alaihissallam mengingatkan bahwa jumlah tersebut terlalu besar untuk Muslim. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkali-kali meminta keringanan kepada Allah SWT sampai merasa malu untuk menjalankan shalat wajib sebanyak 5 waktu dalam sehari. Sebagaimana diriwayatkan dari sahabat Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
Lalu Allah mewahyukan kepadaku apa yang Dia wahyukan. Allah mewajibkan kepadaku 50 shalat sehari semalam. Kemudian saya turun menemui Musa ’alaihis salam. Lalu dia bertanya: “Apa yang diwajibkan Tuhanmu atas ummatmu?”. Saya menjawab: “50 shalat”. Dia berkata: “Kembalilah kepada Tuhanmu dan mintalah keringanan, karena sesungguhnya ummatmu tidak akan mampu mengerjakannya. Sesungguhnya saya telah menguji dan mencoba Bani Isra`il”. Beliau bersabda: “Maka sayapun kembali kepada Tuhanku seraya berkata: “Wahai Tuhanku, ringankanlah untuk ummatku”. Maka dikurangi dariku 5 shalat. Kemudian saya kembali kepada Musa dan berkata: “Allah mengurangi untukku 5 shalat”. Dia berkata: “Sesungguhnya ummatmu tidak akan mampu mengerjakannya, maka kembalilah kepada Tuhanmu dan mintalah keringanan”. Maka terus menerus saya pulang balik antara Tuhanku Tabaraka wa Ta’ala dan Musa ‘alaihis salaam, sampai pada akhirnya Allah berfirman: “Wahai Muhammad, sesungguhnya ini adalah 5 shalat sehari semalam, setiap shalat (pahalanya) 10, maka semuanya 50 shalat. Barangsiapa yang meniatkan kejelekan lalu dia tidak mengerjakannya, maka tidak ditulis (dosa baginya) sedikitpun. Jika dia mengerjakannya, maka ditulis(baginya) satu kejelekan”. Kemudian saya turun sampai saya bertemu dengan Musa ’alaihis salaam seraya aku ceritakan hal ini kepadanya. Dia berkata: “Kembalilah kepada Tuhanmu dan mintalah keringanan”, maka sayapun berkata: “Sungguh saya telah kembali kepada Tuhanku sampai sayapun malu kepada-Nya.” (HR. Muslim 162)
Demikian ulasan tentang kisah perjalanan Isra Mi’raj Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam menembus langit ketujuh untuk mendapatkan perintah Allah SWT dalam melaksanakan shalat lima waktu. (MZM)
