Kronologi G30S/PKI, Peristiwa Penculikan 7 Pahlawan Revolusi

Penulis kumparan
ยทwaktu baca 3 menit
Tulisan dari Berita Terkini tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Apa itu G30S/PKI? G30S/PKI merupakan salah satu momen yang cukup kelam di dalam sejarah pasca kemerdekaan Republik Indonesia.
Pemberontakan ini dipimpin oleh Letnan Kolonel Untung, Komandan Batalion Cakrabirawa, pasukan pengawal pribadi Presiden Soekarno dan menelan cukup banyak korban jiwa. Sejumlah sumber menyebutkan sekitar 450.000-500.000 jiwa melayang begitu saja akibat peristiwa berdarah ini.
Apa Itu G30S/PKI? Simak Kronologinya!
Dilansir dari buku KEGAGALAN KUDETA G 30 S PKI: Berdamai dengan Sejarah, M. Fuad Nasar, (2017:4), peristiwa G30S PKI bermula pada tanggal 1 Oktober dini hari.
Kronologi peristiwa dimulai dengan penculikan dan pembunuhan 7 perwira TNI AD (Tentara Nasional Indonesia Angkatan Darat) oleh sekelompok pasukan yang bergerak dari Lapangan Udara menuju selatan Jakarta.
Tiga dari tujuh jenderal, yaitu Letjen TNI Ahmad Yani, Mayjen TNI M.T. Haryono dan Brigjen TNI D.I. Panjaitan sudah dibunuh di rumah masing-masing sebelum dibawa ke Lubang Buaya, Pondok Gede, Jakarta Timur.
Sementara itu, ketiga jenderal lainya yaitu Mayjen TNI R. Soeprapto, Mayjen TNI S. Parman, dan Brigjen TNI Sutoyo Siswomiharjo ditangkap hidup-hidup dan dibunuh dan dimasukkan ke Lubang Buaya.
Jenderal Besar TNI Dr. Abdul Harris Nasution yang menjadi target utama berhasil kabur setelah berusaha melompati dinding rumahnya yang berbatasan langsung dengan Kedutaan Besar Irak. Meski begitu, anak perempuannya, Ade Irma Suryani Nasution yang masih berusia 5 tahun tertembak setelah berusaha menjadi tameng ayahnya dan meninggal pada 6 Oktober 1965 d Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat Jakarta.
Selain itu, Lettu Czi. Pierre Andries Tendean sang ajudan juga dibawa dan dibunuh di Lubang Buaya bersama 3 perwira TNI AD lainnya setelah mengaku sebagai Abdul Harris Nasution. Regu penculik juga menembak mati seorang polisi penjaga rumah tetangga Nasution, yang bernama Abert Naiborhu.
Setelah peristiwa penculikan tersebut, jam 7 paginya, Radio Republik Indonesia (RRI) menyiarkan pesan mencurigakan yang berasal dari Untung Syamsuri, Komandan Cakrabiwa.
Ia menyatakan bahwa G30S/PKI atau telah membentuk Dewan Revolusi Indonesia dan berhasil mengambil alih beberapa lokasi strategis Jakarta beserta anggota militer lainnya dari Dewan Jenderal. Ia juga menyatakan bahwa Dewan Jenderal merupakan gerakan yang didukung oleh CIA yang bertujuan untuk melengserkan Presiden Ir. Soekarno dari posisinya.
Sementara itu, pada sore hari 1 Oktober 1965, anggota PKI juga membunuh Kolonel Katamso (Komandan Korem 072/Yogyakarta) dan Letnan Kolonel Sugiyono (Kepala Staf Korem 072/Yogyakarta) di DI Yogyakarta.
Pada jam 7 malamnya, pasukan Resimen Para Komando Angkatan Darat (RPKAD) akhirnya berhasil mengambil alih RRI dan menangkap beberapa anggota PKI.
Pada 1 Oktober pukul 21.00 WIB, RRI Jakarta akhirnya mengumandangkan suara resmi pemerintahan RI. Saat itu juga DKI Jakarta dijaga sepenuhnya oleh ABRI dan para anggota G30S yang kabur menjadi buronan.
Pimpinan Angkatan Darat pun secara langsung dipegang oleh Presiden Ir. Soekarno dan Mayor Jenderal Pranoto Reksosamudro Asisten III Men/Pangad ditunjuk untuk menyelesaikan tugas sehari-hari.
Jenazah ketujuh perwira TNI AD yang dibuang ke Lubang Buaya akhirnya ditemukan beberapa hari kemudian dan disahkan menjadi pahlawan revolusi melalui Surat Keputusan Presiden RI nomor III/Koti/Tahun 1965 pada tanggal 5 Oktober 1965.
Bagaimana? Sekarang kamu sudah paham tentang apa itu G30S/PKI, kan? Semoga peristiwa kelam seperti ini tidak terjadi lagi, yah.(BRP)
