Latar Belakang Terjadinya Isra Miraj, Kisah Ketika Nabi Muhammad Pergi ke Langit

Penulis kumparan
Tulisan dari Berita Terkini tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Latar belakang terjadinya isra miraj adalah peristiwa ketika Nabi Muhammad SAW melakukan perjalanan dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha kemudian ke Sidratul Muntaha. Peristiwa ini terjadi pada tanggal 27 bulan Rajab.
Isra dan Miraj sebenarnya merupakan dua peristiwa yang berbeda. Menurut Zakaria (2019:100), peristiwa isra merupakan perjalanan Rasulullah SAW dari Al-Masjidil-Haram di Mekkah hingga ke Al-Masjidil-Aqsha di Yerusalem. Sedang mi’raj merupakan perjalanan Rasulullah dari Al-Masjidil-Aqsha ke Sidratul-Muntaha untuk kemudian mendapat perintah dari Allah SWT untuk melaksanakan sholat sebanyak lima kali dalam satu hari.
Latar Belakang Isra Miraj
Peristiwa isra miraj terjadi setelah Rasulullah SAW kehilangan kedua orang yang dicintainya yakni, istri Rasulullah yang bernama Siti Khadijah dan pamannya yang bernama Abu Thalib. Kedua orang tersebut merupakan orang terdekat Rasul yang diketahui memiliki peran serta pengaruh yang cukup besar dalam proses dakwah Rasulullah
Kepergian keduanya membuat Rasulullah sangat bersedih, sehingga tahun itu disebut sebagai ‘amul huzni atau tahun kesedihan. Sehingga Allah SWT membuat perjalanan spiritual untuk Rasulullah sebagai pelipur lara yang dikenal dengan istila Isra Miraj.
Rasulullah diceritakan melakukan perjalanan bersama dengan malaikat Jibril ke Al-Masjidil-Aqsha hingga ke Sidratul-Muntaha menggunakan burqa – sejenis hewan berwarna putih yang langkah kakinya sejauh matanya memandang, untuk kemudian bertemu dengan Allah SWT dan melihat singgahsananya.
Ketika bertemu dengan Allah SWT, beliau mendapat perintah untuk melakukan ibadah sholat sebanyak 50 rakaat dalam sehari. Namun ketika beliau turun ke langit di bawahnya, ia bertemu dengan Musa a.s yang mengatakan, “kembalilah menemui Tuhanmu dan mintalah keringanan kepada-Nya. Sebab umatmu tidak akan mampu melakukan hal itu. Aku telah menguji Bani Israil.”
Karenanya Rasulullah SAW melakukan negosiasi beberapa kali kepada Allah SWT, sehingga diberi keringanan untuk melakukan sholat sebanyak 5 kali dalam sehari.
Semoga informasi ini bermanfaat. (RYFA)
