Majas yang Sering Digunakan atau Terkesan Dominan dalam Puisi

Penulis kumparan
ยทwaktu baca 3 menit
Tulisan dari Berita Terkini tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Puisi merupakan salah satu bentuk karya sastra yang memiliki kekhasan dalam penggunaan bahasa atau biasa dikenal majas. Saat membuatnya, majas yang sering digunakan atau terkesan dominan dalam puisi adalah majas paralelisme dan personifikasi.
Para penyair sering kali menggunakan majas atau gaya bahasa untuk memperkaya makna dan estetika puisinya dalam mengekspresikan perasaan, pikiran, dan imaji. Dengan begitu, puisi yang dibuat menjadi semakin lebih indah untuk dibaca dan didengar.
Jenis-Jenis Majas yang Sering Digunakan atau Terkesan Dominan dalam Puisi
Mengutip dari buku Panduan Praktis Menulis Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan (PKB), Dr. Imron Rosidi, M.Pd., (2020), di dalam puisi banyak ditemukan penggunaan gaya bahasa. Salah satu jenis majas yang sering digunakan atau terkesan dominan dalam puisi adalah majas paralelisme dan personifikasi.
Majas paralelisme masuk dalam jenis majas penegasan, sedangkan personifikasi merupakan majas perbandingan. Adapun penjelasan dan majas-majas apa saja yang ada di dalamnya, sebagai berikut.
1. Majas Perbandingan
Majas perbandingan adalah kata atau frasa yang menyatakan perbandingan untuk meningkatkan kesan dan pengaruh terhadap pendengar atau pembaca. Berikut beberapa jenis majas perbandingan:
Alegori: Menyatakan ungkapan kiasan atau penggambaran. Contoh: "Hidup ini adalah panggung sandiwara, di mana setiap orang memainkan perannya."
Metafora: Membandingkan beberapa hal yang memiliki sifat sama. Contoh: "Dia adalah bintang di langit malamku."
Personifikasi: Menggambarkan benda tidak bernyawa seakan-akan punya karakteristik seperti manusia. Contoh: "Angin malam berbisik lembut di telingaku."
Sinestesia: Ungkapan kiasan yang berhubungan dengan suatu indra untuk dikenakan pada indra lain. Contoh: "Dia berbicara dengan nada manis."
Metonimia: Menyatakan suatu hal dengan menggunakan kata lain yang punya keterkaitan. Contoh: "Dia membaca Shakespeare" (maksudnya karya-karya Shakespeare).
2. Majas Penegasan
Majas penegasan digunakan untuk menegaskan atau memperkuat suatu susunan kalimat. Beberapa contoh majas penegasan adalah:
Paralelisme: Majas yang mengulang kata di tiap baris yang sama dalam satu bait. Contoh: "Aku suka pagi, aku suka siang, aku suka malam."
Pleonasme: Penegasan ulang arti suatu kalimat dengan menambah frasa yang berlebihan. Contoh: "Dia naik ke atas bukit."
Aliterasi: Majas yang punya pengulangan konsonan pada beberapa kata. Contoh: "Titik-titik tetes air terdengar tenang."
Apofasis atau Preterisio: Penegasan dengan cara seolah-olah menyangkal apa yang ditegaskan. Contoh: "Saya tidak akan menyebutkan bahwa dia pembohong."
Baca juga: Bahan Kimia yang Sering Ditambahkan sebagai Pewarna Sintetis dalam Makanan
Jadi, majas yang sering digunakan atau terkesan dominan dalam puisi adalah majas paralelisme dan personifikasi. Penggunaan majas dalam puisi tidak hanya berfungsi untuk memperkaya makna dan estetika, tetapi juga membantu penyair menyampaikan pesan. (RIZ)
