Makna Hari Sugihan Jawa dan Perbedaannya dengan Sugihan Bali

Penulis kumparan
·waktu baca 2 menit
Tulisan dari Berita Terkini tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Sugihan Jawa merupakan suatu tradisi yang dilakukan oleh masyarakat Jawa pada enam hari menjelang hari Suci Galungan. Sugihan Jawa berasal dari bahasa sansekerta, yakni Sugi dan Jaba. Sugi artinya membersihkan, sedangkan jaba artinya luar. Jika dirangkai, maka arti Sugihan Jawa adalah pembersihan untuk alam semesta atau disebut juga dengan Bhuana Agung. Sebelum merayakannya, maka masyarakat perlu mengetahui makna hari sugihan Jawa yang sesungguhnya. Selain itu, perlu dipahami bahwa sugihan Jawa berbeda dengan sugihan Bali. Penjelasan mengenai sugihan Jawa akan dibahas lebih lanjut di artikel ini.
Mengenal Tradisi Sugihan Jawa
Mengutip buku Widya Dharma Agama Hindu untuk SMP oleh Arlawan, dkk (2007), saat sugihan Jawa, setiap umat melakukan kegiatan dalam rangka pembersihan terhadap pelinggih-pelinggih yang terdapat di pura, merajan, paibon, dan lingkungan di sekitar rumah. Selain itu, pembersihan juga dilakukan terhadap alat-alat yang hendak dipakai untuk melakukan upacara.
Dalam lontar Sundarigama, dijelaskan bahwa Kamis Wage Sungsang disebut dengan pererebon atau sugihan Jawa. Sugihan Jawa dinamakan demikian karena termasuk hari suci bagi para Bhatara untuk melakukan parahyangan dan rerebu disanggah yang disertai dengan pengraratan serta pembersihan untuk Bhatara menggunakan kembang wangi.
Orang yang mempunyai kemampuan tattwa akan melaksanakan yoga samadhi, sedangkan pendeta akan menunaikan pemujaan tertinggi. Hal ini karena pada hari tersebut, Bhatara akan turun ke dunia dan diiringi dengan kehadiran para Dewa Pitara saat persembahan hingga Galungan.
Rerebu memiliki tujuan untuk membuang kekuatan negatif yang terdapat pada alam semesta (Bhuwana Agung). Sesajen yang digunakan yakni berupa pengarad kasukan atau sesayut tutuan.
Perbedaan Sugihan Jawa dan Sugihan Bali
Perbedaan sugihan Jawa dan sugihan Bali terletak pada waktu pelaksanaannya dan apa yang dibersihkan. Sugihan Jawa terjadi pada Kamis Wage Wuku Sungsang.
Adapun sugihan Bali dilakukan pada hari Jumat Kliwon Wuku Sungsang atau lebih tepatnya sehari setelah sugihan Jawa. Makna dari kedua jenis sugihan ini adalah sebagai wadah pembersihan. Hanya saja, yang membedakannya adalah pada objek yang dibersihkan atau disucikan.
Sugihan Jawa lebih mengacu pada pembersihan alam semesta atau makrokosmos, seperti niskala dan sekala. Sedangkan sugihan Bali merupakan penyucian buana alit (diri sendiri) agar bersih lahir dan batin. (DLA)
