Makna Lagu If the World Was Ending karya JP Saxe yang Rilis Tahun 2019

Penulis kumparan
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Berita Terkini tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

“If the World Was Ending” merupakan lagu kolaborasi JP Saxe dengan Julia Michaels yang rilis pada tahun 2019. Makna lagu If the World Was Ending mengarah pada penantian seseorang terhadap orang yang semula pernah dicintai.
Momen penantian tersebut memiliki nuansa yang membingungkan karena satu sisi ingin mengikhlaskan, tetapi sisi lain masih sangat berharap. Nuansa seperti itu tergambar jelas dalam beberapa bait “If the World Was Ending”.
Makna Lagu If the World Was Ending karya JP Saxe
Lagu merupakan hasil karya yang memadukan suara musik, suara manusia (vokal), dan unsur sastra. Unsur sastra dalam lagu memiliki wujud berupa lirik. Hal itu membuat setiap lirik lagu selalu memiliki makna tersendiri, contohnya “If the World Was Ending”.
“If the World Was Ending” merupakan lagu JP Saxe yang dinyanyikan bersama dengan Julia Michaels. Lagu yang rilis pada tahun 2019 menyiratkan tentang perasaan patah hati. Berikut adalah detail makna lagu If the World Was Ending.
1. Perasaan Bingung
“If the World Was Ending” menyiratkan perasaan bingung dari tokoh ‘I’ atau ‘aku’. Kebingungan tersebut membuat tokoh ‘aku’ memikirkan banyak hal saat terjebak di tengah kemacetan. Tokoh ‘aku’ bahkan bertanya-tanya:
Were you out drinkin'? (Apakah kau keluar minum?)
Were you in the living room? (Apakah kamu di ruang tamu?)
Chillin' watchin' television? (Bersantai menonton televisi?)
It's been a year now (Sudah setahun sekarang)
Think I've figured out how (Kupikir aku sudah menemukan caranya)
How to let you go and let communication die out (Cara melepaskanmu dan membiarkan komunikasi berakhir)
Lirik di atas menyiratkan tentang perasaan bingung tokoh ‘aku’ tentang dirinya sendiri. Tokoh ‘aku’ masih memikirkan orang lain (yang dicintai) setelah satu tahun berpisah. Tokoh ‘aku’ bahkan belum mengetahui cara melepaskan orang yang dicintainya itu.
2. Dua Sisi Diri yang Berbeda
Dikutip dari buku Berani Senyum Meski Terluka, Muhlisin (2020: 92), patah hati bisa membuat orang lupa makan, lupa ingatan, menangis menjerit-jerit, sampai ada yang ingin mengakhiri hidup. Keadaan patah hati seperti itu tersirat dalam “If the World Was Ending”.
Tokoh ‘aku’ dalam lagu “If the World Was Ending” mencoba untuk menguatkan diri bahwa dirinya sudah bisa merelakan orang yang pernah dicintai. Namun, sisi dirinya yang lain masih menanyakan keberadaan orang yang dicintai.
Sisi tersebut bahkan masih bertanya-tanya tentang kehadiran orang yang dicintai saat kiamat datang. Hal itu terdapat dalam lirik yang berbunyi,
I know, you know, we know (Aku tahu, kau tahu, kita tahu)
You weren't down for forever and it's fine (Kau tidak akan terpuruk selamanya dan itu baik-baik saja)
I know, you know, we know (Aku tahu, kau tahu, kita tahu)
We weren't meant for each other and it's fine (Kita tidak ditakdirkan untuk satu sama lain dan itu baik-baik saja)
But if the world was ending (Tapi jika dunia kiamat)
You'd come over, right? (Kau akan datang, kan?)
You'd come over and you'd stay the night (Kau akan datang dan menginap)
Would you love me for the hell of it? (Apakah kau akan mencintaiku untuk bersenang-senang?)
All our fears would be irrelevant (Semua ketakutan kita tidak akan relevan)
Baca juga: Makna Lagu Begin Again Taylor Swift dan Liriknya yang Pernah Viral di Medsos
Makna lagu If the World Was Ending menyiratkan tentang kembimbangan tokoh ‘aku’. Tokoh tersebut memiliki dua sisi dalam dirinya, satu sisi ingin mengikhlaskan kekasih dan sisi lain masih mengharapkannya. Hal itu membuat tokoh ‘aku’ terus menanti. (AA)
