Memahami Hukum Puasa Tarwiyah dalam Ajaran Islam di Hari Ke-8 Dzulhijjah

Penulis kumparan
·waktu baca 2 menit
Tulisan dari Berita Terkini tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Bulan Dzulhijjah segera tiba. Umat Muslim berbondong-bondong mempersiakan diri untuk merayakan 10 Dzulhijjah yang dikenal sebagai hari raya Idul Adha. Sebelum Idul Adha tiba, umat Muslim diperintahkan untuk banyak melakukan amal saleh kepada Allah SWT. Sebab 10 hari pertama Dzulhijjah merupakan waktu yang sangat Allah SWT cintai. Salah satunya adalah dengan mengamalkan puasa Tarwiyah. Namun terdapat pedebatan tentang hukum puasa Tarwiyah dalam Islam. Untuk lebih jelasnya, berikut penjelasannya.
Memahami Hukum Puasa Tarwiyah dalam Ajaran Islam di Hari Ke-8 Dzulhijjah
Puasa Tarwiyah adalah puasa yang dilaksanakan pada hari ke-8 Dzulhijjah. Istilah tarwiyah sendiri berasal dari bahasa Arab tarawwa yang artinya bekal air. Pasalnya, pada hari tersebut merupakan hari di mana para jamaah haji membawa banyak air zamzam untuk bekal menaiki padang arafah dan menuju Mina.
Dikutip dari buku Koleksi Hafalan Penting dari Lahir Sampai Mati karya Ustadz Ali Amrin al-Qurawy (2016:139), tentang hukum puasa Tarwiyah, terdapat hadits secara khusus yang menganjurkan puasa di hari Tarwiyah. Hadits tersebut berbunyi:
Siapa yang puasa 10 hari, maka untuk setiap harinya seperti puasa sebulan. Dan untuk puasa pada hari tarwiyah seperti puasa setahun, sedangkan untuk puasa hari arafah, seperti puasa dua tahun.”
Pendapat para ulama menjelaskan bahwa hadits di atas adalah dhaif atau lemah, sebab terdapat seorang perawi yang bernama at-Thibbi yang dikenal pendusta.
Lantas apakah puasa Tarwiyah tidak boleh diamalkan?
Meskipun haditsnya adalah lemah, namun puasa Tarwiyah tetap dianjurkan untuk diamalkan. Sebab, pada 9 hari pertama Dzulhijjah Rasulullah SAW biasa berpuasa dan hari ke-8 bukan menjadi pengecualian.
Sebagaimana yang dijelaskan Hunaidah bin Kholid, beberapa istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan,
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa berpuasa pada sembilan hari awal Dzulhijah, pada hari ‘Asyura’ (10 Muharram), berpuasa tiga hari setiap bulannya...” (HR. Abu Daud no. 2437)
Selain itu, 10 hari pertama Dzulhijjah adalah waktu yang sangat Allah SWT cintai, maka puasa Tarwiyah bisa menjadi salah satu cara untuk mendapat kebaikan dari Allah SWT.
Semoga penjelasan mengenai hukum puasa Tarwiyah dalam Islam di atas menambah pengetahuan Anda dan dapat mengamalkan puasa di 9 hari pertama di bulan Dzulhijjah. Amin. (MZM)
