Memahami Pengertian Logical Fallacy dan Cara Mengatasinya

Penulis kumparan
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Berita Terkini tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Pernahkah kamu mendengar istilah logical fallacy? Logical fallacy adalah sebuah kesalahan dalam penalaran. Hal ini terjadi karena seseorang salah dalam memahami sebuah argumen.
Nah, agar kamu tak mengalami kejadian logical fallacy, terutama di hadapan banyak orang, artikel berikut menjelaskan tentang cara mengatasi kejadian tersebut.
Baca Juga: Cara Berpikir Kritis dan Berbagai Manfaatnya
Memahami Pengertian Logical Fallacy dan Cara Mengatasinya
Istilah fallacy berasal dari bahasa Latin, yaitu fallacia yang berarti deception atau dalam Indonesia disebut tipu muslihat atau penipuan. Dengan kata lainnya adalah argumen yang dilontarkan tidak terbukti kebenarannya mengubah opini publik, memutar balik fakta, pembodohan publik, fitnah, provokasi sektarian, pembunuhan karakter, memecah belah, menghindari jerat hukum, dan meraih kekuasaan dengan janji palsu.
Menurut Michel M. LaBoissiere dalam jurnal Logical Falacies (2010: 1), pengertian logical fallacy adalah kesesatan logika berpikir yang timbul karena terjadi ketidaksesuaian antara apa yang dipikirkan dan bahasa yang digunakan untuk merumuskan pokok pikiran.
Penalaran yang sesat ini dapat terjadi apabila susunan premis yang ada tidak menghasilkan suatu kesimpulan yang benar. Dalam artian kesesatan atau fallacy muncul ketika suatu argumen terbentuk dari premis-premis yang tidak berkaitan dengan argumen yang ada.
Logical fallacy bisa diterjemahkan secara sederhana sebagai berpikir ngawur atau bentuk kerancuan pikir secara akademis yang diakibatkan oleh ketidak disiplin pelaku nalar dalam menyusun data dan konsep, secara sengaja maupun tidak sengaja.
Jenis-Jenis Logical Fallacy
Terdapat beberapa jenis dari logical fallacy, yakni:
1. Argumentum ad hominem
Ad hominem atau penyerangan pribadi adalah cara untuk menyerang sebuah kebenaran klaim dengan cara menyerang diri pribadi lawannya. Alih-alih menyerang klaim atau argumen lawannya, orang yang melakukan logical fallacy ini justru malah menunjukkan sifat negatif lawannya yang pada hakikatnya tidak berkaitan dengan klaim yang diberikan.
Selain itu, sifat yang ditimbulkan berbentuk tuduhan kepada lawan yang berat sebelah karena memiliki afiliasi atau sikap tertentu sehingga klaim yang diberikan pasti salah.
2. Burden of Proof
Burden of Proof berkaitan dengan beban pembuktian. Si pembuat klaim menyatakan bahwa orang lainlah yang harus memberi bukti bahwa dia salah, bukan malah memberikan bukti bahwa dia benar
3. False Cause
Fallacy jenis ini mengasumsikan efek kausalitas (sebab-akibat) antara hal-hal yang terjadi secara bersamaan atau berurutan. Padahal kedua haltersebut sangat tidak berkorelasi satu sama lain.
4. Strawman
Strawman Fallacy adalah sesat pikir yang memposisikan atau mempresentasikan posisi atau argument lawannya secara salah, kemudian menyerang argumen tersebut seakan-akan itulah argumen lawannya tersebut.
5. Appeal to Emotion
Fallacy jenis ini membuat argument yang memanipulasi respon emosiona luntuk menggantikan atau menutupi argumen lain yang lebih valid dan masuk akal.
6. Slippery Slope
Fallacy ini mengasumsikan bahwa jika kejadian A terjadi, maka B juga akan terjadi, tanpa didukung dengan bukti atau penalaran yang masuk akal. Untuk itu, kejadian A dilarang dan tidak boleh terjadi.
7. Hasty Generalization
Fallacy ini adalah generalisasi yang terburu-buru dan over generalization. Generalisasi ini dibuat berdasarkan pengmatan yangterlalu sedikit.
8. Circular Reasoning
Fallacy yang menyatakan bahwa kondisi A benar karena B, Kondisi Bbenar karena A. Logika ini menggunakan penalaran melingkar yangsaling berkelindan.
Cara Mengatasi Logical Fallacy
Cara untuk mengatasi atau menghindari logical fallacy adalah kita harus memastikan bahwa kesalahan logika dapat melemahkan argumen. Namun dengan syarat bagwa kita memiliki bukti untuk validasi informasi.
Maka dari itu, kita harus benar-benar memahami terlebih dahulu apa yang akan disampaikan, mulai dari pengertian, alasan, hingga bukti agar argumentasi kita relevan.
Selain itu, kita harus mengevaluasi terlebih dahulu sebuah informasi yang didapatkan. Dengan mengevaluasinya dengan cara memvalidasi informasi dapat membuat kita semakin yakin bahwa informasi tersebut benar atau salah.
Demikianlah penjelasan mengenai logocal fallacy dan cara mengatasinya. Dengan mudahnya informasi yang kita dapatkan, kita harus berpikir secara kritis. Tujuannya adalah agar kita tidak terjebak dengan informasi hoaks atau argumentasi yang tidak benar.(MZM)
