Membedakan Lafal, Tekanan, Intonasi, dan Jeda dalam Berkomunikasi

Penulis kumparan
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Berita Terkini tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Dalam komunikasi, cara mengucapkan bunyi-bunyi disebut lafal. Selain itu, ada juga istilah tekanan, intonasi, dan jeda, dalam berkomunikasi yang penting untuk diketahui.
Seseorang perlu mempelajari lafal, tekanan, intonasi dan jeda agar dapat membedakan ketepatan pengucapan suatu kata yang lazim atau tidak dan dapat menyampaikan pesan melalui kalimat yang tepat. Semua itu akan membantu dalam berkomunikasi yang komunikatif.
Cara Mengucapkan Bunyi-Bunyi disebut Apa?
Dalam kehidupan berkomunikasi sehari-hari, manusia tidak pernah lepas dari kegiatan menyimak. Jika disimak dengan baik, akan ada perbedaan dari lafal, tekanan, intonasi, dan jeda. Perbedaan tersebut adalah sebagai berikut.
1. Lafal
Cara mengucapkan bunyi-bunyi disebut lafal. Dalam bahasa tulis, lafal tidak terlihat dengan dengan jelas. Mengutip buku Bahasa Indonesia, Ahmad Ishak dan Yustinah (2006), lafal ini lebih tercermin dalam bahasa lisan.
Misalnya, kata tepat berbeda dengan cepat, guna berbeda dengan tuna, kerak berbeda dengan gerak, basi berbeda dengan bisa, dan rantau berbeda dengan rantai.
Perbedaan bunyi lafal ini lebih dipengaruhi oleh perbedaan konsonan dan vokal. Jika kata-kata tersebut diucapkan secara lisan, akan lebih melihat perbedaannya.
2. Tekanan
Selain lafal, kadang juga perlu menekankan bagian kata yang lebih penting dalam sebuah kalimat. Bagian yang penting ini disebut sebagai tekanan.
Sebagai contoh: "Saya telah membaca buku Hak-Hak Asasi Manusia di Perpustakaan Rabu lalu".
Kalimat diatas dapat diperikan sebagai berikut.
Saya telah membaca buku Hak-Hak Asasi Manusia di Perpustakaan Rabu lalu.
Saya telah membaca buku Hak-Hak Asasi Manusia di Perpustakaan Rabu lalu
Pada kalimat (1) bagian yang ditekankan adalah Saya. Kalimat tersebut mengandung pengertian bahwa pelaku yang membaca buku adalah Saya, bukan ayah, adik, atau Anton.
Berikut, kalimat (2) menekankan bagian kalimat telah membaca. Hal ini menyatakan bahwa yang dilakukan oleh "Saya" adalah telah membaca bukan menyanyi, mendengarkan, atau menulis.
3. Intonasi
Selain lafal dan tekanan, intonasi atau lagu kalimat perlu juga diperhatikan. Intonasi dapat berupa lagu kalimat atau ketepatan penyajian tinggi rendahnya nada kalimat.
Sebagai contoh:
Apa maksudnya?
Kita harus bekerja keras.
"Besok pagi pekerjaan ini seharusnya selesai," kata ibu.
Dengan memperhatikan lagu kalimat di atas, dapat memberikan intonasinya sebagai berikut:
Kalimat (1) intonasi naik, (2) intonasi datar, dan (3) intonasi menurun.
Jika ketiga kalimat ini dibaca, akan terlihat jelas intonasi yang menandainya.
4. Jeda
Unsur lain yang juga berpengaruh terhadap perubahan makna adalah jeda. jeda merupakan waktu berhenti atau hentian sebentar dalam ujaran.
Jeda juga berpengaruh terhadap perubahan makna. Perhatikan contoh berikut ini.
Kata adik, ibu Yani itu guru yang pandai.
Kata adik ibu, Yani itu guru yang pandai.
Kata adik ibu Yani, itu guru yang pandai.
Ketiga kalimat tersebut maknanya berbeda. Kalimat (1) yang berkata adik, kalimat (2) yang berkata adik ibu (Bibi/Paman), dan kalimat (3) yang berkata adik ibu Yani (adik dari ibu Yani).
Baca Juga: Ketentuan, Tata Cara, Lafal Ikamah yang Benar
Cara mengucapkan bunyi-bunyi disebut lafal. Selain itu, ada tekanan, intonasi, dan jeda yang penting juga untuk dipelajari. Semoga informasi ini bermanfaat dalam mempelajari materi komunikasi dalam bahasa Indonesia. (ARD)
