Mengenal Bacaan Gharib dan Jenis-Jenisnya

Penulis kumparan
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Berita Terkini tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Al-Quran adalah pedoman bagi umat muslim. Membaca Al-Quran tidak bisa asal saja, ada aturan-aturan yang harus dipatuhi. Dalam Al-Quran ada bacaan gharib. Bacaan gharib adalah bacaan yang tidak biasa dalam Al-Quran. Mungkin ada yang belum mengerti dengan bacaan gharib. Simak pengertian dan jenis-jenisnya dalam artikel ini ya.
Pengertian Bacaan Gharib dan Jenisnya
Apa itu bacaan gharib? Dikutip dari Al-Qur’an Hadis Madrasah Tsanawiyah Kelas IX oleh Aminudin dan Syuhada (2021), menurut bahasa, gharib berasal dari kata “garaba” yang berarti asing. Menurut istilah, hukum bacaan gharib adalah bacaan yang tidak biasa di dalam Al-Quran karena samar, baik dari segi huruf, lafal, maupun maknanya.
Karena bacaan gharib ini asing atau tidak biasa, maka gharib ini sangat penting untuk dipelajari. Hal ini untuk menghindari kesalahan dalam membaca Al-Quran. Bacaan gharib ada banyak jenis atau macamnya. Berikut ini beberapa jenis hukum bacaan gharib:
Imalah
Istilah imalah secara bahasa artinya condong atau miring. Sedangkan menurut ulama qurra’, imalah artinya mencondongkan bacaan harakat fathah pada harakat kasrah sekitar dua per tiganya. Secara garis besar, bacaan imalah dibagi menjadi dua yaitu:
Imalah shughra, yaitu setelah bacaan imalah tersebut masih di-washal-kan pada lafal lain, sehingga tidak berhenti di situ saja. Contohnya hanya bisa ditemukan ddi QS Hud ayat 41. Dalam ayat tersebut terdapat lafal “majroha” yang dibaca menjadi “majreha”.
Imalah kubra, yaitu setelah bacaan imalah tersebut diwakafkan sehingga berhenti di situ saja. Kriteria imalah kubra adalah semua lafal dalam Al-Quran yang akhirannya terdapat alif maqsurah.
Isymam
Istilah isymam dalam bahasa berarti monyong. Sedangkan menurut ulama qurra’, isymam adalah mengombinasikan harakat fathah dengan harakat dammah disertai memonyongkan bibirnya.
Tashil
Istilah tashil menurut ulama qurra’ adalah upaya memindahkan bacaan ayat-ayat Al-Quan dengan cara memindahkan harakat atau membuang huruf tertentu. Tujuannya adalah agar lafal tersebut tidak sukar diucapkan. Contohnya bisa ditemukan pada QS Fussilat ayat 44. Dalam ayat tersebut, letak tashil pada lafal “a a’jamiyyun”. Karena membaca pada dua hamzah itu sulit, maka hamzah yang satu dibaca tashil dengan hamzah yang kedua. Sehingga kedua hamzah tersebut cukup dibaca satu saja dengan memanjangkannya (dibaca mad) dan bacaannya menjadi “aa’jamiyyun”.
Naql
Secara bahasa, istilah naql artinya memindah. Sedangkan menurut ulama qurra’, naql adalah memindahkan harakat huruf yang hidup pada huruf yang mati sesudahnya. Tujuan naql dalam membaca Al-Quran adalah untuk mempermudah bacaannya. Dengan adanya bacaan naql, seorang pembaca Al-Quran bisa mudah melafalkan kalimat tertentu dan tidak mengalami kesulitan karena harakat hurufnya.
Contohnya bisa dilihat pada QS Al-Hujarat ayat 11. Pada ayat tersebut terdapat lafal “bi’sal ismu” yang selanjutnya dibaca naql dengan “bi’salismu” yakni dengan memindahkan harakat alif (kasrah) pada huruf lam yang sukun (mati).
Mad dan Qashr
Secara bahasa, mad berarti memanjangkan. Sedangkan menurut istilah, mad adalah memanjangkan suara dengan suatu huruf di antara huruf-huruf mad.
Qashr atau qashar menurut bahasa artinya adalah tertahan. Sedangkan menurut istilah, qashar adalah memendekkan bunyi huruf mad atau layyin yang aslinya dibaca panjang atau membuang huruf mad dari suatu kata.
Jadi, bacaan gharib adalah bacaan yang tidak biasa dalam Al-Quran dan wajib dipelajari agar tidak salah ketika membaca Al-Quran. (KRIS)
