Mengenal Emisi Gas Karbon Dioksida dari Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi

Penulis kumparan
ยทwaktu baca 2 menit
Tulisan dari Berita Terkini tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Guna menghasilkan listrik pembangkit listrik tenaga panas bumi menghasilkan emisi gas karbon dioksida. Kalau menghasilkan emisi berupa gas karbon dioksida kenapa masih banyak pembangkit listrik yang menggunakan tenaga panas bumi? Sebenarnya, apa sih pembangkit tenaga listrik tenaga panas bumi itu?
Untuk mengetahui seluk-beluk pembangkit listrik tenaga panas bumi, mari simak informasi selengkapnya dalam uraian berikut ini. Baca hingga tuntas supaya mendapatkan informasi yang utuh, ya!
Uraian Ringkas tentang Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi
Listrik merupakan salah satu kebutuhan bagi manusia. Pasalnya, segala aktivitas manusia saat ini memerlukan adanya tenaga listrik. Contohnya, untuk memasak nasi, memanggang roti, mengecas gadget, dan sebagainya.
Bumi ini kaya akan sumber daya alam. Namun, beberapa di antara sumber daya alam yang ada merupakan sumber daya yang tidak dapat diperbaharui alias dapat habis. Oleh sebab itu, manusia melakukan inovasi dengan mencari sumber energi alternatif berupa memanfaatkan sumber daya alam yang dapat diperbaharui.
Contohnya adalah dengan menggunakan tenaga matahari, air, angin, hingga panas bumi untuk menghasilkan listrik. Ernawati (2021: 110) dalam bukunya yang berjudul Buku Pendamping Siswa Cerdas: Modul IPA SD/MI Kelas VI menjelaskan bahwa,
Panas bumi dapat digunakan untuk menghasilkan listrik. Pembangkit listrik tenaga panas bumi disebut dengan PLTU (Pembangkit Listrik Tenaga Uap). Uap panas dari dalam bumi akan dialirkan ke permukaan dengan menggunakan pipa. Kemudian uap panas dialirkan hingga memutar turbin.
Baca juga: Jenis Pembangkit Listrik yang Digunakan dalam Geothermal
Layaknya hasil produksi, produksi listrik dari tenaga panas bumi pun menghasilkan gas buangan, yakni emisi karbon dioksida. Namun, mengapa masih dipakai bukankah karbon dioksida itu berbahaya?
Christianto dan Fabby (2020: 203) dalam bukunya yang berjudul Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir mengungkapkan bahwa,
Berdasarkan penelitian, energi panas bumi menghasilkan gas buang CO2 terendah (0,09 kg/kW-hr) dibandingkan dengan energi dengan bahan baku minyak bumi (0,89 kg/kW-hr), batu bara (0,95 kg/kW-hr) dan gas alam (0,59 kg/kW-hr). Dengan demikian, penggunaan energi panas bumi ramah lingkungan.
Faktanya, gas karbon dioksida adalah gas yang diperlukan oleh tumbuhan untuk melakukan fotosintesis, lho! Namun, sebagai manusia yang memiliki akal dan pikiran, kita tetap harus menjaga agar bumi ini tidak rusak dan tercemar.
Caranya adalah dengan menghemat penggunaan listrik sehari-hari. Sudah jelas tentang pembangkit listrik tenaga panas bumi? Nantikan informasi menarik lainnya yang dapat menambah wawasan, ya! (AA)
