Mengenal Palang Pintu, Tradisi Pernikahan Adat Betawi yang Unik

Penulis kumparan
·waktu baca 2 menit
Tulisan dari Berita Terkini tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Indonesia merupakan negara yang kaya akan adat budaya. Salah satu budaya yang beragam di Indonesia adalah berbagai adat pernikahan yang memiliki tradisi yang unik-unik, contohnya pernikahan adat Betawi yang lekat dengan tradisi Palang Pintu.
Tradisi palang pintu adalah tradisi berbalas pantun yang merupakan salah satu rangkaian prosesi pernikahan adat Betawi. Seperti apa tradisi palang pintu ini?
Tradisi Palang Pintu dalam Pernikahan Adat Betawi
Menurut buku Maria van Engels, Menantu Habib Kwitang (2006: 68), karya Alwi Shahab, bagi etnis Betawi ada tiga hal yang dianggap sakral menurut adat yaitu kelahiran, perkawinan, dan kematian. Dalam acara-acara ini terdapat berbagai prosesi adat yang harus dilakukan oleh para pemilik hajat.
Dalam prosesi pernikahan, salah satu prosesinya adalah tradisi 'Buka Palang Pintu'. Acara ini terjadi ketika iring-iringan 'tuan raja mude' yang merupakan panggilan untuk pengantin pria, pada sore hari hendak masuk ke rumah 'tuan putri' atau pengantin perempuan.
Nantinya ketika pengantin pria akan masuk rumah, rombongan dicegat oleh wakil tuan rumah. Dalam acara ini, biasanya kedua belah pihak disertai rombongan tukang pantun dan jago silat. Menghadapi hadangan wakil tuan rumah ini nantinya para pengantin pria akan berusaha masuk dengan berbalas pantun.
Nantinya jika berbalas pantun sudah dilakukan, akan dilanjutkan dengan adu silat antar kedua belah pihak. Biasanya diwakili oleh para pesilat jagoan masing-masing. Kemudian yang menang adalah pihak tamu. Nantinya pihak pengantin perempuan akan mengalah dan minta dibacakan beberapa ayat Al-Quran, setelah itu dipersilahkan masuk.
Ketika mempersilahkan rombongan pengantin pria masuk ke kediamannya, pihak pengantin wanita akan berpantun sekali lagi, dan akhirnya mempersilahkan pihak pengantin laki-laki untuk masuk. Setelah itu para pihak akan bersalaman dan berpelukan.
Ketiga tradisi ini memiliki makna penting bagi etnis Betawi. Adu silat berarti wujud kemampuan lelaki untuk menjaga keluarganya, berbalas pantun merupakan simbol mufakat antara keluarga laki-laki dan perempuan, sedangkan pembacaan ayat Al-Quran merupakan bukti bahwa laki-laki kelak harus menjadi imam yang baik bagi keluarganya.
Setelah prosesi palang pintu dalam pernikahan adat Betawi ini dilangsungkan, maka diikuti dengan proses akad nikah. Unik sekali bukan? (AGI)
