Pengertian, Ciri-ciri, dan Contoh Puisi sebagai Karya Sastra

Penulis kumparan
ยทwaktu baca 2 menit
Tulisan dari Berita Terkini tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Apa yang dimaksud dengan puisi? Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), puisi merupakan ragam sastra dengan penggunaan bahasa yang masih terikat oleh matra, irama, penyusunan larik, bait, atau rima. Puisi memiliki arti lain sebagai sebuah gubahan atau sajak dalam bahasa, di mana bentuknya dapat ditata dan dipilih dengan cermat.
Secara umum, puisi merupakan suatu karya sastra yang berasal dari ungkapan atau curahan hati penyair. Karya sastra tersebut dibuat berdasarkan ungkapan perasaan penyair. Nah, artikel kali ini akan membahas lebih lanjut mengenai pengertian, ciri-ciri, dan contoh puisi sebagai karya sastra.
Apa yang Dimaksud dengan Puisi?
Puisi merupakan salah satu karya sastra yang masih terikat oleh matra, irama, penyusunan larik, bait, atau rima. Dikutip dari buku Seni Mengenal Puisi yang ditulis oleh Agnes Pitaloka & Amelia Sundari (2020: 11), puisi dapat dibedakan menjadi tiga, yaitu:
Puisi lama, adalah puisi yang dihasilkan sebelum abad ke-20.
Puisi baru, adalah puisi yang lebih bebas daripada puisi lama, baik dalam jumlah baris, suku kata, maupun rima.
Puisi kontemporer, adalah jenis puisi yang berusaha keluar dari ikatan konvensional dan selalu berusaha untuk menyesuaikan dengan perkembangan zaman.
Berikut adalah ciri-ciri puisi lama dan baru:
Puisi lama: tidak diketahui nama pengarangnya (cenderung bersifat kolektif), seringkali berupa puisi rakyat, terikat oleh aturan, jumlah baris tiap bait, dan jumlah suku kata pada tiap baris, dari mulut ke mulut (secara lisan), dapat disebut sebagai folklore, majas (gaya bahasa) yang digunakan bersifat tetap dan klise, serta menggambarkan masa kerajaan (istanasentris).
Puisi baru: Nama pengarangnya jelas, tidak terikat aturan bait, baris, suku kata, dan rima bebas, diungkapkan secara lisan dan tulis, majas bersifat dinamis, serta menggambarkan kehidupan pada umumnya.
Berikut adalah contoh puisi elegi berjudul Senja di Pelabuhan Kecil, karya Chairil Anwar:
Ini kali tidak ada yang mencari cinta
di antara gudang, rumah tua, pada cerita
tiang serta temali. Kapal, perahu tiada berlaut
menghembus diri dalam mempercaya mau berpaut
Gerimis mempercepat kelam. Ada juga kelepak elang
menyinggung muram, desir hari lari berenang
menemu bujuk pangkal akanan. Tidak bergerak
dan kini tanah dan air tidur hilang ombak.
Tiada lagi. Aku sendiri. Berjalan
menyisir semenanjung, masih pengap harap
sekali tiba di ujung dan sekalian selamat jalan
dari pantai keempat, sedu penghabisan bisa terdekap
Semoga bermanfaat! (CHL)
