Pengertian, Ciri-Ciri, dan Contoh Teks Hikayat Pendek

Penulis kumparan
·waktu baca 2 menit
Tulisan dari Berita Terkini tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Dalam sastra Indonesia, ada berbagai jenis karya sastra yang dapat diketahui. Salah satunya adalah hikayat. Bagi sebagian orang, kata hikayat mungkin terdengar asing. Apalagi memang teks hikayat sendiri mayorita menggunakan bahasa melayu. Jadi, apa itu hikayat? Lalu, bagaimana contoh teks hikayat pendek yang benar? Cari tahu jawabannya dalam artikel berikut!
Pengertian Hikayat
Menurut buku Menyemai Benih Cinta Sastra karya Sony Sukmawan (2015:158), pengertian hikayat adalah bentuk sastra prosa dalam bahasa Melayu yang berisikan tentang kisah, cerita, undang-undang, dan sejarah yang bersifat rekaan, kepahlawanan, keagamaan, dan dongeng.
Ciri-Ciri Hikayat
Adapun ciri-ciri teks hikayat adalah sebagai berikut.
Isinya menceritakan tentang kehidupan di istana atau kerajaan.
Ceritanya selalu berakhir dengan kebahagiaan.
Menggunakan bahasa Melayu yang sulit dipahami.
Disusun dengan unsur instrinsik dan ekstrinsik.
Diikutsertakan dengan pantun.
Berbingkai-bingkai artinya berisi cerita-cerita yang diceritakan oleh seseorang setelah hal ihwal orangyang bercerita itu diceritakan.
Contoh Teks Hikayat Pendek
Berikut adalah contoh teks hikayat pendek dalam sastra Indonesia yang dapat Anda baca.
Abu Nawas dan Lalat
Suatu hari Baginda Raja membongkar rumah dan tanah Abu Nawas begitu saja untuk menemukan emas dan permata.
Namun, ternyata emas dan permata yang katanya berada di dalam tanah milik Abu Nawas hanyalah rumor.
Setelah tidak menemukan emas dan permata, Baginda Raja bukannya meminta maaf dan mengganti kerugian, tetapi malah pergi begitu saja.
Abu Nawas pun marah dan ingin balas dendam.
Saat sedang makan bersama istrinya, dia menemukan seekor lalat di meja makan dan dia pun tertawa karena menemukan ide untuk balas dendam.
Kepada Baginda Raja, Abu Nawas mengaku hendak melaporkan perlakuan tamu tidak diundang.
“Siapakah tamu tidak diundang itu?” tanya Baginda.
“Lalat-lalat ini, tuanku,” kata Abu Nawas yang membawa lalat di atas piring yang tertutup tudung saji.
Abu Nawas pun meminta izin untuk mengusir lalat-lalat itu.
Baginda Raja yang sedang berkumpul bersama para menteri pun langsung memerintahkan Abu Nawas mengusir lalat itu.
Bermodalkan tongkat besi, Abu Nawas pun mengejar dan memukuli lalat itu hingga vas bunga, patung hias, dan perabotan istana hancur dibuatnya.
Akhirnya Baginda Raja menyadari kekeliruannya.
Abu Nawas yang puas memberikan pelajaran pada Baginda Raja pun meminta izin pulang.
(Anne)
