Pengertian dan Contoh Wawangsalan dalam Bahasa Sunda

Penulis kumparan
·waktu baca 2 menit
Tulisan dari Berita Terkini tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Dalam budaya Sunda, ada yang disebut dengan wawangsalan atau sisindiran atau pantun dalam bahasa Sunda yang sampai saat ini pun masih banyak digunakan oleh masyarakat di sana.
Sebenarnya, sisindiran bukan hanya terdiri dari wawangsalan, melainkan ada tiga jenis jika dilihat dari strukturnya. Tiga jenis sisindiran tersebut adalah paparikan, rarakitan, dan wawangsalan.
Pengertian Wawangsalan
Wawangsalan merupakan salah satu bentuk sisindiran yang dibangun oleh sindir dan isi. Sindir dibangun oleh cangkang (kulit/ sampir) dan wangsal. Wangsal artinya hal yang disembunyikan. Maka untuk mengetahui wangsal harus dicari di bagian isi. Wangsal biasanya memiliki kesamaan suara dengan salah satu kata pada baris isi.
Wawangsalan terdiri atas dua baris (padalisan) atau dua kalimat. Baris pertama sindir atau bisa juga disebut doal, sedangkan baris kedua isi yang terdapat petunjuk mengarah ke jawabannya. Masing-masing baris dibangun oleh delapan suku kata (engang).
Sisindiran jenis ini sekilas memang terlihat seperti tatarucingan atau tebak-tebakan. Wangsal dari teka-teki baris pertama harus ditemukan dalam paris kedua. Yang dijadikan wangsalna tidak disebutkan secara langsung, tetapi disembunyikan dalam kata yang murwakanti (sama bunyi suku katanya). Contohnya, motor disembunyikan dalam kata kotor.
Contoh Wawangsalan
Berikut adalah beberapa contoh wawangsalan dalam bahasa Sunda:
1. Monyét hideung sisi leuweung
Susah nu taya tungtungna
Artinya: lutung
2. Abdi mah caruluk Arab
Henteu tarima téh teuing
Artinya: Kurma
3. Alun-alun paleuweungan
gagal temen mun teu jadi
ArtinyaL Tegal
4. Anak munding masih nyusu
aduh endén buah ati
Artinya: Eneng
5. Maung tutul saba kasur
diri teu ngareunah cicing
Artinya: ucing (kucing)
Melansir dari penjelasan di buku Sisindiran Jeung Wawangsalan Anyar, Dedy Windyagiri, 2011, dari penjelasan mengenai pengertian dan contoh di atas, maka bisa disimpulkan patokan wawangsalan adalah sebagai berikut:
Jumlah padalisan (baris) dalam satu pada (bait) terdiri atas dua baris.
Masing-masing padalisan dibangun oleh delapan engang (suku kata).
Baris pertama merupakan sindir atau kulit. Baris kedua berupa isi.
Wangsalna harus ditebak dari baris pertama. Jawabannya ada pada baris isi yang disembunyikan dalam kata yang murwakanti dengan wangsal.
Nah, sekarang bagaimana kalau kamu coba membuat wawangsalan dalam bahasa Sunda? (DNR)
