Konten dari Pengguna

Pengertian dan Hukum Bertaqlid dalam Ajaran Agama Islam

Berita Terkini

Berita Terkini

Penulis kumparan

·waktu baca 2 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Berita Terkini tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Hukum bertaqlid. Sumber: pexels.com
zoom-in-whitePerbesar
Hukum bertaqlid. Sumber: pexels.com

Dalam ajaran agama Islam, ada berbagai hukum dan ketentuan yang perlu dipahami dengan baik oleh setiap muslim. Dengan begitu, maka umat muslim bisa membedakan mana hal-hal yang harus dilakukan dan tidak dilakukan. Termasuk juga mengetahui tentang hukum bertaqlid.

Meski sebenarnya ketentuan mengenai hukum taqlid ini sudah banyak dibahas oleh para ulama, tetapi masih umat muslim yang belum memahami ketentuan hukum tersebut. Akibatnya, ada sebagian umat muslim yang malah melakukan hal-hal yang sebenarnya tidak diperbolehkan oleh agama.

Pengertian dan Hukum Bertaqlid dalam Ajaran Islam

Hukum bertaqlid. Sumber; pexels.com

Secara umum, pengertian taqlid adalah mengikuti ucapan ulama tanpa mengetahui hujjah, dalil, atau sumber hukumnya. Sedangkan secara etimologi, kata taqlid memiliki arti qallada-yuqallidu-taqlidan, yakni menghiasi, meniru, menyerahkan, atau mengikuti.

Berikut ini adalah penjelasan tentang hukum bertaqlid dalam ajaran agama Islam yang dikutip dari buku Ushul Fiqh: Jalan Tengah Memahami Hukum Islam, Amrullah Hayatudin (2021:269).

1. Haram

Taqlid bisa menjadi haram apabila seseorang sudah mencapai tingkat mujtahid mutlak, yakni seseorang yang mempunyai kemampuan untuk berijtihad secara independen dan menggali hukum-hukum syariat sendiri dari sumber utama, seperti Alquran dan hadist.

Kemudian taqlid juga menjadi haram apabila dilakukan oleh orang awam kepada seseorang selain mujtahid. Khususnya apabila orang tersebut tidak mempunyai pengetahuan yang memadai tentang agama Islam.

2. Wajib

Taqlid bisa menjadi wajib ketika berada dalam situasi saat seseorang merupakan orang awam yang tidak mempunyai pengetahuan agama mendalam dan tidak memenuhi syarat untuk melakukan analisis ijtihad. Dalam hal ini, orang awam tersebut harus melakukan taqlid kepada seorang mujtahid yang mempunyai pemahaman agama yang lebih baik.

3. Mubah

Taqlid dapat menjadi mubah atau diperbolehkan, tetapi tidak diwajibkan. Hal ini berlaku pada mujtahid yang tidak mencapai tingkat mujtahid mutlak yang mempunyai kapasitas untuk berijtihad, tetapi hasilnya tidak dianggap sebagai hukum yang berlaku untuk semua orang.

Baca Juga: Hukum Bacaan Qalqalah yang Benar dalam Islam

Itu dia penjelasan tentang hukum bertaqlid dalam agama Islam yang bisa bersifat haram, wajib, maupun mubah, tergantung dari situasi dan konteksnya. Semoga bermanfaat. (Anne)