Konten dari Pengguna

Pengertian, Fungsi, dan Contoh Basa Rinengga

Berita Terkini

Berita Terkini

Penulis kumparan

·waktu baca 2 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Berita Terkini tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Basa rinengga. Sumber: unsplash.com
zoom-in-whitePerbesar
Basa rinengga. Sumber: unsplash.com

Dalam sejarah kesusateraan Jawa, dikenal istilah basa rinengga. Mungkin istilah ini terdengar asing bagi mayoritas masyarakat Jawa. Namun, sebenarnya basa rinengga ini biasa dibacakan dalam susunan acara pernikahan adat Jawa. Bahasanya yang indah mampu menarik banyak orang untuk menyimaknya. Secara umum, basa rinengga yaiku basa sing dirangkai kanthi cara tembunge digabung karo tembung liyane, banjur dadi basa sing endah lan nresepake ing ati. Apa artinya?

Maksudnya adalah basa rinengga merupakan bagian dari sastra Jawa yang dirangkai dengan cara menggabungkan kata-kata yang berbeda sehingga menjadi kalimat yang indah dan meresap ke dalam hati. Basa rinengga tersusun dari dua kata, yaitu basa dan rinengga. Basa berarti bahasa dan rinengga berarti dihias.

Basa rinengga. Sumber: unsplash.com

Fungsi Basa Rinengga

Setelah mengetahui pengertian basa rinengga yaiku, selanjutnya Anda juga perlu mengetahui fungsi basa rinengga yang dikutip dari buku Baboning Pepak Basa Jawa karya Budi Anwari (2020:145). Jadi, dalam kebudayaan Jawa basa rinengga digunakan untuk berbagai keperluan, terutama dalam sebuah pertunjukan.

Penggunaan basa rinengga bertujuan untuk menarik perhatian dan memperindah perkataan sehingga setiap orang yang menyimaknya akan merasa senang. Dengan kata lain, fungsi utama basa rinengga adalah untuk menambah keindahan pada kalimat.

Pengertian basa rinengga bisa Anda temukan dalam acara pedhalangan, pranata cara, tembang, hingga karya tulis seperti cerkak dan geguritan.

Contoh Basa Rinengga

Berikut ini adalah contoh penggunaan basa rinengga dalam sebuah sambutan.

“Para rawuh ingkang minulya, para pinisepuh pepundhen ingkan pantes sunurdarsana, para pangembat pangembating praja satriyaning Nagari ingkang tuhu luhure budi, para manggalaning ngayuda ingkang hambeg mahambara, tuwih sagung para tamu kakung miwah putri, keparenga kawula sowan ing ngrasa panjenengan sami, minangka talanging atur panjenenganipun bapak ……………. anggenipun kagungan kersa…………………”

Setidaknya terdapat 9 jenis basa rinengga yang masih digunakan hingga sekarang ini, yaitu tembung saroja, tembung entar, wangsalan, paribasan, bebasan, saloka, purwakanthi, parikan, dan juga pepindhan. Masing-masing jenis basa rinengga tersebut memiliki keunikan dan ciri khasnya masing-masing. (Anne)