Pengertian Gugon Tuhon dalam Budaya Jawa beserta Contohnya

Penulis kumparan
·waktu baca 2 menit
Tulisan dari Berita Terkini tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Dalam budaya dan bahasa Jawa, Gugon tuhon yaiku Piwulang sing ora tinemu nalar nanging digatekake lan dituruti dening masyarakat. Maksudnya, gugon tuhon merupakan ujaran masyarakat Jawa yang berupa larangan. Gugon tuhon adalah ajaran yang tidak dapat dinalar tetapi diperhatikan dan dilakukan oleh masyarakat. Asal mula gugon tuhon adalah untuk menakuti anak-anak agar lebih sopan dan beretika dalam tingkah lakunya.
Gugon tuhon bisa dikatakan mirip dengan beberapa bentuk ungkapan lain dalam kazanah bahasa dan sastra Jawa, karena perkembangannya juga disampaikan secara lisan. Sifat lisan yang dimiliki oleh perkembangan ungkapan adalah disampaikan melalui tuturan dari mulut ke mulut, bahkan bisa melintasi batasan generasi dan membentuk suatu tradisi dan budaya.
Pengertian Gugon Tuhon dan Contohnya
Gugon tuhon umumnya terdiri atas dua kata yaitu gugon dan tuhon. Secara bahasa kata gugon tuhon berarti sebagai berikut:
Gugon berasal dari kata gugu yang artinya dipercaya dengan apa adanya tanpa ditelaah atau diteliti terlebih dahulu.
Tuhon berasal dari kata tuhu yang berarti sesungguhnya.
Maka gugon tuhon bisa diartikan sebagai bentuk kata kerja yaitu sikap yang gampang percaya kepada suatu perkataan atau cerita yang disampaikan oleh orang lain karena dianggap memiliki petuah.
Menurut buku Sekar Rinonce, W. Purwoko, 1994, gugon tuhon juga bisa diartikan sebagai bentuk kata benda yaitu perkataan atau cerita yang dianggap memiliki petuah. Gugon Tuhon Berisi Wasita Sinandi atau teka-teki.
Contoh Gugon Tuhon
1. Aja lungguh ing ngarep lawang, mundhak wong sing nglamar mbalik.
Seseorang yang duduk di depan pintu akan menghalang-halangi atau membuat orang lain yang mau lewat menjadi bingung. Sehingga orang yang mau lewat tidak jadi atau orang yang duduk di depan pintu menjadi masuk angin.
2. Aja lungguh ana ing bantal, mundhak wudunen.
Orang yang duduk di atas bantal itu tidak sopan dan membuat bantal menjadi kotor.
3. Barang sing diwenehake aja dijaluk maneh, mundhak timbilen.
Meminta kembali barang yang sudah diberikan itu tidak baik, karena agama mengajarkan seseorang untuk menjadi dermawan. (DNR)
